• April 8, 2026

Sempat heboh dengan penyerahan data kuburan massal di kantor Luhut

JAKARTA, Indonesia — Bejo Untung, Ketua Yayasan Pengkajian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65), mengawali diskusi dengan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Panjaitan soal penyerahan data kuburan massal, di ruang sidang. mantan kepala staf kepresidenan, Senin pagi 9 Mei.

Bejo tidak sendirian, ia bersama enam korban tragedi 1965 serta sejumlah anggota Komite Pengadilan Rakyat Internasional (IPT), Reza Muharam, Dolorosa Sinaga, dan Sri Lestari Wahyuningrum.

Feri Kusuma dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) dan Zico Mulia dari Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) juga hadir dalam pertemuan tersebut.

Masing-masing perwakilan masyarakat menyampaikan pesannya. Intinya sama, mau dibawa kemana data kuburan massal setelah ini? Apakah ada jaminan keamanan?

Pertanyaan ini dilontarkan oleh Bejo.

“Sebelum saya serahkan, saya mohon jaminan kepada Menko Polhukam agar kami YPKP 65 bersama saksi pelaku dan juga para korban mendapat jaminan keamanan untuk menunjukkan kuburan massal tersebut,” kata. Bejo.

“Agar (kuburannya) tidak copot, rusak, dipindahkan, bahkan sengaja dikeluarkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” pintanya.

Luhut pun mengabulkan permintaan Bejo. Luhut menjawab blak-blakan bahwa pemerintah akan menjamin keamanan, dia akan memanggil Kodam dan Kodim, aku Bejo.

Komunitas ini pun mempertanyakan siapa saja pihak yang terlibat. Dan apakah pemerintah sudah menyiapkan payung hukum untuk mengkaji data tersebut? Pertanyaan tersebut disampaikan Feri dari KontraS.

“Gali gali atau penggalian “(Penggali kubur) harus mematuhi prosedur yang melibatkan tim forensik, Komnas HAM dan lembaga terkait, karena soal alat bukti,” kata Feri.

Ya, nanti bisa digunakan untuk membuktikan bahwa kerangka kuburan tahun 1965 itu adalah korban pelanggaran HAM berat, kata Feri.

Luhut pun membalas Feri dengan janji akan melakukannya.

‘jangan berkelahi’

Meski demikian, Luhut juga berpesan kepada masyarakat dalam pertemuan tersebut agar tidak membuat keributan di media. “Jangan ribut,” kata Reza dari IPT 1965 menirukan Luhut saat ditemui wartawan usai pertemuan.

Sumber Rappler lainnya juga mengatakan hal serupa. Tepatnya, Luhut meminta semua pihak tidak terjebak dalam euforia usai Simposium Nasional Tragedi 1965 digelar di Jakarta beberapa pekan lalu.

Luhut juga meminta dalam pertemuan itu agar kasus 1965 diselesaikan kementeriannya. “Presiden akan berada di akhir,” kata sumber itu, senada dengan pesan Luhut.

Padahal, perintah pendaftaran kuburan massal tersebut, klaim Luhut, merupakan perintah Presiden Joko “Jokowi” Widodo.

“Tadi Presiden mengatakan bahwa dia disuruh hanya mencari kuburan massal. Jadi selama puluhan tahun kami selalu diberi makan bahwa ratusan ribu orang meninggal. “Bahkan sampai saat ini kami belum pernah menemukan kuburan massal,” kata Luhut.

Luhut dalam pertemuan dengan masyarakat siang tadi juga menyatakan tak ingin didikte pihak manapun dalam penyelesaian kasus 1965.

Pasca pernyataan Luhut, masyarakat menyampaikan data kuburan massal, namun tidak sedetail yang diinginkan Luhut. “Data yang relevan saja melanjutkan “Dari penelitian YPKP tahun 1965,” kata Reza.

Data terkait mencakup jumlah kuburan massal di 12 provinsi. Dari data tersebut, kuburan massal terbesar ditemukan di Jawa Tengah (44 titik), Jawa Timur (38 titik), dan Sumatera Barat (21 titik).

Ada juga data kuburan massal di pulau Sulawesi, Kalimantan, dan Bali. Rappler kembali mencoba menghubungi Luhut usai pertemuan, namun pesan kami tidak dibalas.

Di bawah bayang-bayang intimidasi dari pihak berwenang

Namun penyampaian data tersebut diwarnai cerita intimidasi yang dialami anggota YPKP asal Pati, Jawa Tengah, bernama Handoyo Triatmoko.

Handoyo yang juga Kepala Desa Jetak, Kecamatan Wedarijaksa, mengaku didatangi tiga anggota Kodam dan Komando Resor Militer di kawasan Pati pada Minggu malam, 8 Mei.

“Mereka datang ke rumah adik saya dengan alasan mencari palu arit,” kata Handoyo kepada Rappler, Senin sore.

Ia pun mempertanyakan tujuan ketiga perwira militer tersebut. “Mengapa benda itu terlihat di sini?” dia berkata.

Hingga dia berangkat ke Jakarta malam itu juga. Kemudian ia mendapat kabar dari tetangganya bahwa perwira militer tersebut kemudian menanyakan aktivitas Handoyo di Jakarta. Itu namanya terorisme, katanya.

Bejo pun menyampaikan kejadian intimidasi tersebut kepada Luhut siang tadi di kantornya. “Saya jelaskan, teman-teman di daerah masih mendapat intimidasi, bahkan datang ke sini masih ditanyai,” ujarnya.

Bagaimana reaksi Luhut? Pak Luhut dengan tegas mengatakan, ‘Ya, saya akan panggil Kodam untuk tidak melakukan tekanan terhadap ’65 korban’ itu,” kata Bejo.

Bentuklah tim khusus

Sementara seusai bertemu masyarakat, Luhut menjawab pertanyaan media seputar tindak lanjut isi pertemuan tersebut.

Ia mengatakan akan membentuk tim untuk melakukan pengkajian terhadap contoh kuburan massal di Pati dan Wonosobo, Jawa Tengah.

“Kami ingin menyiapkan tim untuk melihat beberapa kuburan massal seperti yang diberitakan,” ujarnya. —Rappler.com

BACA JUGA:

Angka Keluar Hk