• March 19, 2026
Seorang mahasiswa fakultas kedokteran di Makassar tewas diduga karena dianiaya seniornya

Seorang mahasiswa fakultas kedokteran di Makassar tewas diduga karena dianiaya seniornya

Rezky meninggal dunia usai mengikuti pelatihan kader di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (SAU) Universitas Muslim Indonesia.

MAKASSAR, Indonesia – (UPDATED) Seorang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) meninggal dunia akibat mengikuti kegiatan pengkaderan mahasiswa baru di kampus. Mahasiswi yang diketahui bernama Rezky Evienia Syamsul itu mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 7 Juni di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Pelajar asal Mamuju itu diduga dianiaya oleh kakak laki-lakinya saat kegiatan Study Club (SC) di Kuncio, Kecamatan Malino, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Rezky dikabarkan dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri sejak Sabtu, 4 Juni.

Menurut salah satu kerabat Rezky, Asriadi, mahasiswa berusia 22 tahun itu mengikuti kegiatan pembentukan kader di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (SAU) Fakultas Kedokteran. Sebelum berangkat, ia pun meminta izin kepada keluarganya. Namun, dalam aktivitas itu dia terluka dan tidak sadarkan diri.

“Total ada 3 kantong cairan yang dikeluarkan dari tubuhnya oleh dokter. Air tersebut diduga air sungai dan kemungkinan masuk ke dalam tubuhnya saat mengikuti pelatihan kader. “Di badan adik saya juga ada luka lebam,” Asriadi yang merupakan sepupu korban saat dimintai keterangan, Selasa, 7 Juni.

Asriadi kemudian melaporkan kejadian yang menimpa Rezky ke Polda Sulsel. Kabid Humas Polda Sulsel Kompol Frans Barung Mangera mengaku memang sudah menerima laporan Asriadi. Laporan tersebut juga didalami Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulsel.

Polres Sulsesl kemudian menginstruksikan Polres Gowa untuk mengumpulkan materi dan informasi tempat kejadian perkara (CIC).

“Jika ada yang mendengar atau mengetahui kejadian ini, harap segera lapor ke Polda Sulsel karena menyangkut nyawa seseorang,” kata Barung.

Namun belakangan, laporan yang disampaikan Asriadi kembali dicabut. Penyebabnya, pihak keluarga belum bersedia membongkar makam korban untuk diautopsi.

“Kami tidak mau autopsi, kasihan adik saya kalau makamnya dibongkar,” kata Asriadi melalui telepon, Rabu pagi, 8 Juni.

Meski demikian, hal tersebut rupanya tidak mengubah proses penyidikan yang saat ini dilakukan polisi. Menurut Polres Sulsesl, mereka membuat laporan polisi model A karena diduga aksi penganiayaan tersebut memakan korban jiwa. Apalagi, kematian Rezky dinilai tidak wajar.

Kabid Humas Polda Sulsel Kompol Frans Barung Mangera mengacu pada pasal 133 ayat 3 dan 134 ayat 3 KUHAP, tim penyidik ​​wajib melakukan otopsi sebagai pembuktian perkara tersebut pidana.

Oleh karena itu, semua pihak diminta tidak menghalangi proses penyidikan polisi.

“Kalau ada yang menghalangi, kita bisa pakai pasal 222 KUHP. “Siapapun yang menghalangi proses penyidikan dan penyidikan dapat dijadikan tersangka,” kata Barung.

Terpaksa berendam

Isi kegiatan selama proses pengkaderan perlahan mulai terungkap. Asriadi mengaku mendengar dari salah satu teman Rezky bahwa adik sepupunya terpaksa berendam di sungai selama berjam-jam selama proses pengkaderan. Akibatnya, kulit mahasiswa fakultas kedokteran itu berkerut akibat kedinginan.

Nanti setelah lipatan kulit, panitia diperbolehkan keluar sungai, kata Asriadi melalui telepon.

Usai disuruh turun dari sungai, Rezky tak ditolong kakak seniornya. Namun, dia dipukul, meninggalkan memar di sekujur tubuhnya dan dia tidak sadarkan diri.

Setelah tak sadarkan diri, Rezky dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Namun karena kondisinya semakin parah, Rezky dilarikan ke RS Islam Faisal untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

“Tak lama setelah dia di sana, Rezky kemudian menemui dokter. Rumah sakit dirujuk. Wahidin Sudirohusodo,” ujarnya.

Pihak kampus meminta mahasiswa untuk tetap diam

Apa tanggapan Universitas Muslim Indonesia setelah salah satu mahasiswanya diduga tewas akibat penganiayaan? Pihak kampus sebenarnya meminta mahasiswa UMI untuk tidak berkomentar. Wakil Dekan III UMI Makassar Sulhana Mokhtar mengatakan, alih-alih membuka mulut kepada pihak luar, pihak kampus mengimbau mahasiswa yang memiliki informasi tersebut untuk meneruskannya ke pihak rektorat.

“Saat ini kami sedang melakukan penyelidikan mendalam. Jadi kami belum bisa berkomentar apa pun,” kata Sulhana yang dihubungi melalui media sosial pada Senin malam, 6 Juni.

Sebelumnya juga beredar bocoran tangkapan layar Diskusi grup media sosial online yang terdiri dari mahasiswa fakultas kedokteran pada hari yang sama. Dalam percakapan pesan singkat Jalur CEPA’-CEPA’ – Rappler.com

BACA JUGA:

Togel Hongkong