Women’s March Jakarta bukanlah aksi kelompok
keren989
- 0
Narasi bahwa Women’s March Jakarta hanyalah sebuah upaya sistem patriarki untuk membungkam perempuan Indonesia
Sebagai perempuan yang hadir dalam Women’s March Jakarta (WMJ) pada Sabtu, 4 Maret lalu, saya merasa perlu menyikapi argumentasi oknum-oknum yang mengaku intelektual dan terpelajar, khususnya laki-laki, yang tidak WMJ memaknai dan menuding tindakan tersebut sebagai tindakan yang tidak pantas. setelah Women’s March di Amerika Serikat dan penyebaran feminisme kulit putih.
Saya dapat mengatakan bahwa aksi ini merupakan aksi kolektif dari mereka yang merasa tertindas oleh patriarki dan memiliki ikatan emosional yang kuat dengan gerakan perempuan. Tak satu pun peserta aksi ini adalah orang Barat (apa pun maksudnya).
Bahkan, saya menemukan banyak interseksionalitas dalam gerakan ini, mulai dari perempuan lintas agama, kelompok trans, kelompok masyarakat adat, kelompok non-biner, pekerja, pekerja migran, pekerja rumah tangga, pekerja seks, kelompok tani, kelompok LGBTIQ, dan masih banyak lagi. .
Semua kelompok mempunyai pesan yang ingin disampaikan melalui aksi ini karena stigma yang mereka terima dari sistem masyarakat yang patriarki. Sampai saya menulis ini, saya masih merasa sangat emosional karena tindakan ini.
Ada salah satu peserta aksi yang mengadvokasi pasien thalassemia asal Aceh. Ia mengatakan, banyak perempuan yang disalahkan dan distigmatisasi karena anaknya mengidap thalassemia, padahal penyakit tersebut disebabkan oleh kondisi genetik dari kedua orang tua anak yang dibawa oleh ayah dan ibunya.
Saya juga berbicara dengan kelompok pekerja rumah tangga perempuan. Dari mereka saya belajar banyak hal dan belajar tentang permasalahan yang mereka hadapi. Saya yakin banyak yang menganggap dirinya intelektual, apalagi intelektual laki-laki, yang menuding Women’s March Jakarta sebagai gerobak, pasti pernah menggunakan jasa pembantu rumah tangga, namun tak menyangka mereka juga hadir dan tidak menyuarakan keluh kesahnya. tindakan.
“Bagi saya pribadi, menjadi seorang feminis adalah sebuah perjalanan spiritual dimana saya bisa memproyeksikan nilai-nilai kemandirian perempuan Jawa yang sudah ada sebelum penjajahan Belanda.”
Tahukah kalian yang mengaku intelektual, ada masyarakat adat yang merasa negara tidak memberikan jaminan keberadaannya di tanahnya sendiri, hadir dalam aksi tersebut? Apakah mereka memahami bahwa ada kelompok perempuan petani yang merasa tanahnya tidak dijamin oleh pemerintah juga terlibat dalam gerakan ini?
Saya ingin bertanya, dimana letak unsur barat dalam aspirasi kelompok marjinal yang saya sebutkan di atas?
Dalam sambutannya saat aksi, aktivis perempuan Ririn Sefsani menyinggung konteks konstitusi negara yang menjamin kesejahteraan warganya. Cendekiawan Muslim Musdah Mulia mengangkat Pancasila sebagai landasan gerakan perempuan dan mengatakan bahwa sudah sepantasnya perempuan sebagai manusia sempurna menuntut pemerintah memperlakukan warganya sesuai dengan yang terkandung dalam lima sila tersebut.
Bagi saya pribadi, menjadi feminis adalah sebuah perjalanan spiritual dimana saya bisa memproyeksikan nilai-nilai kemandirian perempuan Jawa yang sudah ada sebelum penjajahan Belanda. Setelah membaca beberapa buku yang mempelajari tentang psikologi wanita jawa yang ditulis oleh wanita jawa sendiri, wanita jawa jauh dari anggapan bahwa dirinya penurut dan penurut.
Mereka mengendalikan diri dan alam semesta dengan caranya masing-masing, namun sayangnya narasi Barat telah salah menggambarkan kekuatan perempuan Jawa dengan cara yang sempit dan domestik. Bahkan terkadang mereka yang mengaku intelektual dan mencoba menolak narasi Barat tetap beradaptasi dan mencoba menghancurkan perempuan dengan narasi yang sama.
Istilah feminisme merupakan istilah baru dari Barat yang berasal dari abad ke 19. Dari situlah berkembang kajian mengenai perempuan dan bermunculan berbagai teori yang akhirnya dipublikasikan. Namun karena pengetahuan tentang gerakan perempuan diabadikan oleh media cetak Barat, masyarakat menafsirkan gerakan perempuan sebagai produk Barat. Padahal, jika kita melihat lebih jauh teori-teori feminis yang telah dipublikasikan, banyak dari teori-teori tersebut mencerminkan sebuah peradaban yang menganggap peran dan kedudukan perempuan setara dengan laki-laki.
Banyak orang yang mengaku intelektual dan mencoba menolak narasi Barat, masih terjebak dalam institusi sistem yang membesarkan mereka tanpa menyadari bahwa sistem ini memberikan pelipur lara tanpa harus merasakan perjuangan orang-orang yang telah lama melawan kolonialisme dengan mempertahankan tradisinya. .
Mereka mengakui diri mereka sebagai pembela keadilan, namun tetap mendapatkan keuntungan dari keistimewaan yang diperoleh dari sistem patriarki. Mereka juga menilai perempuan yang menuntut haknya adalah perempuan inferior dan telah dijajah feminisme, dengan dalih perempuan Indonesia harus kembali ke nilai-nilai leluhur. Padahal, mereka hanya ingin menjinakkan perempuan lagi, seperti yang dilakukan revolusi industri.
Saya yakin banyak laki-laki yang sadar, baik di ranah domestik maupun publik, untuk tidak terlalu merendahkan peran dan kedudukan perempuan, terbukti dari banyaknya laki-laki yang terlibat dalam aksi ini. Namun sayangnya masih banyak yang belum memahaminya.
Ketika kita mengatakan “tidak semua laki-laki berpikir seperti ini, jangan menggeneralisasi”, kita gagal mengidentifikasi dan mengabaikan permasalahan nyata yang terjadi dan ini hanya akan memperburuk kondisi dan memperumit situasi bagi perempuan serta menormalkan penindasan tersebut.
Bagi teman-teman yang mengikuti Women’s March Jakarta 2017, jangan berkecil hati dan teruslah berusaha. Narasi bahwa Women’s March Jakarta hanyalah sebuah upaya sistem patriarki untuk membungkam perempuan Indonesia. —Rappler.com
Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan di Magdalena.co
Dea Safira Basori adalah seorang feminis Jawa yang berjuang melawan segala rintangan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidupnya. Dia mendokumentasikan kehidupannya di www.deasafirabasori.com dan mendirikan Indonesia Feminis, sebuah proyek media sosial sebagai platform berita, artikel, dan acara tentang feminisme di Indonesia.
BACA JUGA: