• June 20, 2026
Pembebasan 3 WNI berkat kerja sama dengan MNLF

Pembebasan 3 WNI berkat kerja sama dengan MNLF

Pemerintah membantah adanya uang tebusan yang diberikan untuk membebaskan ketiga WNI tersebut dari penawanan Abu Sayyaf

JAKARTA, Indonesia – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu membenarkan bahwa 3 awak kapal WNI telah dibebaskan oleh kelompok militan Abu Sayyaf. Mereka dilepasliarkan pada Minggu, 18 September sekitar pukul 01.00 dini hari di Pulau Jolo, perairan Sulu.

“Prosesnya Sabtu malam, sudah dibebaskan tiga orang. “Dari Gubernur Sulu sedang ada proses serah terima ke kami,” kata Ryamizard usai mendarat di Lanud Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Tiga sandera yang dibebaskan adalah Lorens Lagadoni Koten (34), Teodorus Kopong Koten (42), dan Emanuel Arakian Maran (46). Ketiga pria asal Nusa Tenggara Timur tersebut merupakan awak kapal tunda LD/114/5S milik Chia Tong Len yang dibajak pada 9 Juli di perairan Lahad Datu, Malaysia.

Pembebasan tiga warga negara Indonesia dan satu warga negara Norwegia ini dikoordinasikan oleh pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) yang dipimpin Nur Misuari yang membantu proses perundingan antara pemerintah dan Abu Sayyaf. Menurut Ryamizard, ini bukan kali pertama MNLF “berkontak” dengan unsur Indonesia.

“Tentara Filipina banyak berkoordinasi dengan MNLF,” kata Ryamizard.

Ia mengatakan ketiga WNI tersebut masih berada di Zamboanga, Mindanao untuk pemeriksaan kesehatan. Ryamizard mengaku belum mengetahui kapan ketiga WNI tersebut akan dipulangkan karena hal itu merupakan kewenangan Kementerian Luar Negeri.

“Saya serahkan ke Kementerian Luar Negeri yang diwakili oleh duta besar kita di sana. “Pemulangannya tergantung Kementerian Luar Negeri, tapi mudah-mudahan secepatnya,” kata purnawirawan jenderal itu.

Mengupayakan pembebasan satu lagi WNI

Selain 3 WNI tersebut, Ryamizard juga mengatakan akan ada 1 WNI lagi yang ingin dibebaskan.

“Kami berharap dapat membebaskan satu sandera lagi, jadi empat orang telah dibebaskan. Tapi sekarang tiga orang sudah pasti bebas, hanya yang ini yang belum pasti, kata Ryamizard lagi seperti dikutip media.

Jika awak kapal yang satu ini berhasil dibebaskan, maka total sandera yang masih ditahan hanya 5 orang.

Menolak pembayaran uang tebusan

Dengan dibebaskannya 3 WNI tersebut, tanda tanya publik kembali muncul: apakah pembebasan tersebut melibatkan uang tebusan. Saat dikonfirmasi, Ryamizard membantah pemerintah telah memberikan uang tebusan kepada kelompok militan tersebut.

Bohong (pemberian uang tebusan), dari pemerintah, dari perusahaan di Indonesia, tidak diberikan uang, kata Ryamizard. media Minggu malam 18 September.

Dia menjelaskan, pembebasan ketiga WNI tersebut hanyalah tekanan dari militer Filipina dan lobi dari MNLF. Namun menurut sumber Rappler, ketiga WNI tersebut dibebaskan setelah kelompok Abu Sayyaf mendapat uang tebusan senilai 20 juta peso atau setara Rp5,4 miliar.

Pelepasan tersebut memang difasilitasi oleh Komandan MNLF, Tahil Sali dan kompi di Vic Barangay Sionugan, Indanan, Sulu.

“Para sandera dibawa ke kamp MNLF di Sittio Bakud Astana Barangay Kagay, Indanan, Sulu untuk memastikan keselamatan mereka,” kata sumber itu.

Sandera asal Norwegia, Kjartan Sekkingstad, juga diduga membayar uang tebusan. Menurut juru bicara kelompok Abu Sayyaf yang dikutip surat kabar lokal, mereka menerima uang tebusan sebesar 30 juta peso atau setara Rp 8,2 miliar.

Meski dibantah Kepala Komunikasi Luar Negeri Frode Andersen. Dia mengatakan kepada media bahwa pemerintah Norwegia tidak akan bersedia membayar uang tebusan. Pernyataan senada juga disampaikan juru bicara Presiden Filipina, Martin Andanar. Dia mengatakan pemerintah Filipina mempertahankan kebijakannya untuk tidak membayar uang tebusan.

“Sekarang kalau ada pihak ketiga seperti keluarga yang membayar (tebusan), kami tidak tahu,” kata Andanar kepada media. – dengan laporan AFP, ANTARA/Rappler.com

HK Malam Ini