Idul Fitri di tengah berbagai kekhawatiran
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Ada sejumlah kekhawatiran yang membayangi kebahagiaan Idul Fitri mereka
JAKARTA, Indonesia – Idul Fitri harus menjadi momen yang membahagiakan bagi seluruh umat Islam. Pada hari raya ini, keluarga-keluarga yang terpisah karena pekerjaan atau di luar negeri berkumpul kembali di kampung halamannya.
Namun, tidak semua orang merasakan hal ini. Seperti warga Bukit Duri yang merasa resah saat lebaran. Mereka terpaksa meninggalkan kawasan itu karena akan diperintahkan normalisasi Sungai Ciliwung.
Warga ada yang pindah ke Rusun Rawa Bebek sejak sebulan lalu, namun ada juga yang masih bertahan. “Kami terima (pesanan) setelah Idul Fitri (Idul Fitri),” kata Iroh, warga RT 3 Bukit Duri, Minggu, 25 Juni.
Ia bersama para tetangganya yang masih tinggal di rumah di tepi sungai itu akan saling berkunjung saat Idul Fitri terakhir di Bukit Duri. Memang sebagian besar warga telah tinggal di kawasan tersebut selama puluhan hingga puluhan tahun dan memiliki ingatan yang kuat.
Suasana di apartemen belum tentu seramah sekarang. Kemungkinan ditempatkan di gedung yang berbeda, atau unit di lantai yang berbeda, tentu membuat komunikasi menjadi sulit. Di Bukit Duri, letak rumah mereka berdekatan sehingga memudahkan komunikasi antar tetangga.
Ramdan, salah satu tetangga Iroh, memindahkan barang-barangnya ke Rusunawa Rawa Bebek, namun masih menetap hingga Idul Fitri. Ia menyaksikan cucu-cucunya berlarian bersama anak-anak tetangga.
“Urusan sudah selesai, sekarang tinggal silaturahmi saja, banyak kenangan di sini bersama tetangga,” ujarnya.
Suasana serupa juga dialami warga Kampung Akuarium, Jakarta Utara. Setelah dimukimkan kembali oleh pemerintahan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, mereka melakukan perlawanan dan kembali ke lokasi semula. Sejak Idul Fitri tahun lalu, mereka merayakan Idul Fitri di atas reruntuhan bangunan.
Anak-anak saling berkunjung dan berlari mengitari sungai yang memisahkan mereka dari Desa Luar Batang. Tidak ada ciri khusus yang melekat, hanya saja warga yang digusur khusus mengenakan pakaian muslim.
Juhaeriah, salah satu warga di sana mengatakan, kampung halamannya adalah Kampung Akuarium. Ia lahir dan besar di sana, sehingga tidak perlu kemana-mana saat lebaran.
“Tapi ya saya juga khawatir, karena menjelang puasa mereka sudah digusur lagi,” ujarnya. Meski Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sudah menggaungkan kabar tersebut sejak sebelum puasa, namun realisasinya belum juga terjadi.
Sehingga Juhaeriah dan warga lainnya tidak bisa sepenuhnya merayakan Idul Fitri dengan bahagia dan damai. Bayang-bayang penggusuran yang harus mereka hadapi pasca Idul Fitri berakhir menjadi duri dalam hati mereka.
Jika permasalahan di ibu kota adalah soal perumahan, jamaah Ahmadiyah di Depok justru menjalani Idul Fitri dengan ketakutan. Sehari sebelum Idul Fitri, masjid mereka dilempar telur dan spanduk penolakan dikibarkan.
Konflik keberadaan jemaah Ahmadiyah di Depok sudah berlangsung lama, dan berdampak pada penutupan masjid-masjid yang mengganggu ibadah mereka. Mubaligh JAI Depok, Farid Mahfud mengatakan, mereka tetap melaksanakan ibadah di Masjid Al-Hidayah, Sawangan, Depok.
“Tetap (sholat) di area masjid, di halaman, karena masjid masih tersegel,” ujarnya saat ditanya. Mereka meminta bantuan polisi untuk memberikan keamanan selama jamaah melaksanakan salat Idul Fitri.
Tindakan intimidasi berupa pelemparan telur dan cat ini sangat disayangkan karena berdampak pada kesucian Idul Fitri. Farid berharap ke depannya Pemkot Depok bisa membuka segel dan menghentikan diskriminasi terhadap komunitas Ahmadiyah di Depok. – Rappler.com