• February 7, 2026
Keberangkatan ke Saudi melalui Filipina telah berlangsung selama 4 tahun

Keberangkatan ke Saudi melalui Filipina telah berlangsung selama 4 tahun

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Untuk bisa melewati Filipina menunaikan ibadah haji, Anton merogoh kocek sebesar Rp 140 juta. Sejak dia pergi, Anton tahu dia akan mendapatkan paspor Filipina

JAKARTA, Indonesia – Pemerintah Filipina pada Minggu, 4 September akhirnya memulangkan 168 calon jemaah haji asal Indonesia yang terdampar di kantor imigrasi Bandara Internasional Ninoy Aquino, Manila. Sebanyak 110 calon jemaah diterbangkan langsung ke Makassar, sedangkan sisanya 58 orang dipulangkan melalui Jakarta.

Keluarga calon jemaah haji pun sudah menunggu di gedung Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta untuk menjemput mereka. Mereka dipulangkan dengan menggunakan Air Asia dan diperkirakan tiba sekitar pukul 14.10 WIB.

Di antara sekian banyak anggota keluarga yang menunggu, Rappler bertemu dengan Gian, adik salah satu calon jemaah haji yang masih terjebak di Manila, Filipina. Pemerintah Filipina membutuhkan kesaksian 9 calon jemaah asal Indonesia untuk membuktikan bahwa mereka adalah korban dan bukan bagian dari sindikat pengirim calon jemaah haji dengan dokumen ilegal.

Agen perjalanan memberi mereka paspor asli Filipina meskipun diperoleh secara ilegal.

“Kakak saya, Anton Kapriyatna, sudah tahu sejak awal bahwa dia akan pergi ke Saudi dengan paspor Filipina. Berdasarkan informasi warga tempat kami tinggal, cara ini selalu berhasil dan sudah berjalan selama 4 tahun, kata Gian, warga Parung Panjang, Bogor, pada Minggu, 4 September.

Ini adalah pertama kalinya upaya ini terungkap oleh otoritas setempat.

Anton, kata Gian, mendapat informasi bisa berangkat haji lewat Filipina dari rekannya yang sudah lebih dulu berangkat haji. Ia belum mengetahui nama biro perjalanan haji yang direkomendasikan rekan Anton tersebut.

Namun biaya yang dikeluarkan kurang lebih Rp 140 juta dan ONH plus. “Itu juga didapat dengan cara meminjam,” kata Gian.

Sehingga Anton kaget saat mereka tiba di Bandara Manila pada Kamis, 18 Agustus lalu dicegat oleh pihak imigrasi Filipina. Sedangkan pihak keluarga baru mengetahuinya keesokan harinya sekitar pukul 14.00.

“Saya mengetahui dari saudara saya sendiri bahwa dia ditahan karena menggunakan paspor Filipina. Ia mengaku bingung kenapa ditahan pihak imigrasi. Sedangkan pihak travel hanya diam dan tidak bertanggung jawab, ujarnya lagi.

Karena tidak ada yang berani berkomunikasi dengan pihak berwenang setempat, Anton akhirnya menawarkan diri untuk berbicara dengan pihak imigrasi.

“Dia menyatakan bersedia diperiksa oleh imigrasi asalkan 176 calon jemaah lainnya diberi makanan. “Adikku kasihan dengan kondisi mereka,” kata Gian menirukan perkataan kakaknya.

Salah satu alasan Anton diwawancarai, kata Gian, karena ia cukup fasih berbahasa Inggris.

Dengan bantuan KBRI Manila, 177 calon jemaah haji tersebut akhirnya bisa dipindahkan ke fasilitas yang ada di KBRI sambil menunggu proses verifikasi selesai. Mabes Polri berjanji akan mengungkap pelaku dan sindikat pengirim calon jemaah haji melalui Filipina.

Sementara ratusan calo haji, impian mereka untuk pergi ke Tanah Suci harus pupus. Kementerian Agama menyebutkan 177 calon jemaah haji tidak bisa berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. – Rappler.com

SDY Prize