• March 26, 2026
Kebijakan sekolah lima hari menjadi sorotan

Kebijakan sekolah lima hari menjadi sorotan

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

PBNU akan menghadap Presiden untuk menyuarakan keberatan terhadap kebijakan sekolah lima hari

JAKARTA, Indonesia — Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menerapkan lima hari sekolah mendapat tentangan dari banyak pihak. Mereka menilai kebijakan tersebut tidak hanya membebani siswa, tapi juga orang tua bahkan dunia pendidikan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, menilai kebijakan sekolah lima hari dengan jam kerja 8 jam sehari akan menutup banyak madrasah dan pondok pesantren.

Sebab dengan lima hari kerja maka jam belajar siswa akan lebih lama yaitu 8 jam sehari. Mereka masuk pada pukul 07.00 WIB dan baru pulang pada pukul 16.00 WIB setiap hari Senin hingga Jumat.

Jam sekolah yang panjang membuat mereka tidak lagi mempunyai waktu untuk belajar di luar sekolah, seperti di pesantren atau pesantren.

“Dengan dilaksanakannya pendidikan delapan jam sehari, maka dipastikan pendidikan model madrasah ini akan membuahkan hasil,” kata Wakil Ketua MUI ini. Zainut Tauhid Sa’adi pada hari Minggu 11 Juni 2017.

Jika hal ini terjadi, lanjut Zainut Tauhid, kebijakan sekolah lima hari yang dicanangkan Mendikbud akan menjadi catatan kelam bagi dunia pendidikan Indonesia.

Selain itu, Zainut juga menyoroti infrastruktur sekolah. Sebab jika kurang, diprediksi banyak siswa yang stres menghabiskan waktu 8 jam di sekolah. “Bahkan yang terjadi justru siswa menjadi bosan dan stres,” kata Zainut.

Penolakan juga datang dari Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU). Mereka sependapat dengan MUI bahwa kebijakan 5 hari sekolah dengan 8 jam per hari bisa membuat madrasah hilang.

Ketua PBNU Muhammad Sulton Fatoni juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah di dunia pendidikan. “Hentikan tradisi buruk mengutak-atik sesuatu yang tidak substansial,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Sulton Fatoni, pihaknya akan mendatangi langsung Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan keberatannya terhadap rencana sekolah 5 hari yang dicanangkan Mendikbud.

Penolakan lainnya datang dari Bupati Rembang Abdul Hafidz. Menurutnya, kebijakan 5 hari sekolah dengan 8 jam per hari tidak hanya membebani siswa, tapi juga orang tuanya.

“Sebenarnya dampak dari penerapan kebijakan ini cukup banyak, salah satunya uang jajan yang dibayarkan orang tua lebih besar dari biasanya,” ujarnya.

Abdul Hafidz mengatakan, penolakannya terhadap kebijakan 5 hari sekolah merupakan sikap pribadinya. “Sampai saat ini Pemerintah Kabupaten Rembang belum mengambil sikap terhadap kebijakan tersebut,” ujarnya. –Rappler.com

HK Hari Ini