Begini Kronologi Penyerangan Polisi di Tangerang
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Kedua kakak laki-laki pelaku ternyata anggota polisi.
JAKARTA, Indonesia (Update) – Penyerangan terhadap petugas polisi terjadi di di depan Pos Lalu Lintas Yupentek, Jalan Perintis Independen, Tangerang, Kamis pagi.
Kapolres Tangerang Kota Efendi dan dua anak buahnya yakni Iptu Bambang Haryadi dan Bripka Sukardi menjadi korban.
Ketiganya mengalami luka tusuk dan kini dirawat di RS Siloam. Sedangkan tersangka SA berusia 22 tahun meninggal dunia dalam perjalanan menuju RS Polri Keramat Jati.
Kronologi kejadian
Kepala Departemen Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, kejadian mengejutkan ini bermula pada Kamis pagi, 20 Oktober, sekitar pukul 07.10 WIB.
Saat itu Iptu Bambang Haryadi dan Bripka Sukardi sedang mengatur lalu lintas. Tiba-tiba SA datang dan langsung menyerang mereka dengan senjata tajam.
Tak hanya menyerang secara brutal, SA juga melemparkan dua bom pipa. Saat anak buahnya diserang, Kapolres Efendi langsung menghampiri mereka.
Pada saat yang sama, Kompol Efendi juga melepaskan tembakan peringatan ke arah SA. Namun SA yang melarikan diri tidak mengindahkan tembakan peringatan.
Ia terus menyerang Inspektur Bambang Haryadi dan Bripka Sukardi. Bahkan Kapolsek Efendi juga menjadi sasaran.
SA baru berhenti setelah tiga peluru bersarang di paha dan kakinya. Meski begitu, Kapolsek Efendi dan dua anggotanya mengalami luka-luka karena ditusuk senjata tajam.
Bripka Sukardi dan Iptu Bambang H mengalami luka di bagian punggung dan dada, kata Boy Rafli Amar, Kamis 20 Oktober 2016.
Ketiganya langsung dilarikan ke RS Siloam. Sementara SA dibawa ke RS Polri Keramat Jati.
Stiker Isis di Pos Polisi
Hingga saat ini, polisi masih mendalami dugaan SA dan stiker berlogo Isis yang menempel di pos polisi Yupentek.
“Diduga dia pelaku tunggal. Namun kami belum bisa memastikan apakah dia ada kaitannya dengan jaringan tertentu, kata Boy Rafli. Namun, masuk akal untuk mencurigai adanya jaringan teroris.
SA diduga terkait dengan jaringan teroris karena bahan peledak yang dibawanya dalam penyerangan tersebut. Bahan peledak tersebut dikemas dalam selongsong pipa. Stiker berlogo ISIS di kantor polisi pun menambah kecurigaan tersebut.
Saat ini, Seksi 88 Khusus Anti Teroris masih mempelajari dua terduga bom tersebut. Selain itu, mereka juga menelusuri profil SA.
Siapa SA?
Setelah memastikan pos Lalu Lintas Yupentek aman, sejumlah petugas Polres Metro Tangerang bersama tim Gegana Mabes Polri langsung bergerak menuju rumah tersangka di Lebak Wangi, Desa Sepatan, Kabupaten Tangerang.
Dari pemeriksaan tersebut diketahui kedua kakak laki-laki tersangka ternyata merupakan anggota polisi. Dua kakak laki-laki SA ada di dalamnya Satuan Narkoba dan Lalu Lintas Polresta Kota Tangerang. Keduanya diperiksa Propam Mabes Polri.
Ngomong-ngomong, kakak tersangka masih menjadi anggota kami, anggota Polda Metro Jaya yang bertugas di Tangerang, kata Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan. media saat menjenguk korban di RS Siloam, Karawaci, Tangerang pada Jumat, 21 Oktober.
Menurut Iriawan, kedua kakak tersangka tidak mengetahui aktivitas SA karena adiknya sangat tertutup.. Mereka jarang berkomunikasi. Dari kedua kakaknya, SA juga diketahui menghilang selama beberapa bulan sebelum akhirnya ditemukan di Ciamis.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono sebelumnya juga mengatakan SA berangkat ke Ciamis pada 2015 untuk bergabung dengan jaringan Daulah Islam.
SA sendiri belum bisa dikonfirmasi karena ia meninggal dunia karena kehabisan darah saat dilarikan ke RS Keramat Jati, Jakarta Timur. Ia dimakamkan di TPU TigaraksaTangerang, Jumat pagi—Rappler.com