• April 6, 2026
Tahun-tahun kelam seputar G30S di mata Anak Kolong

Tahun-tahun kelam seputar G30S di mata Anak Kolong

JAKARTA, Indonesia – “Tulislah yang menggerakkan hati, itulah sastra,” kata Ahmad Tohari. Penulisnya, penulis yang kita kenal khususnya melalui karyanya ‘Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk’ datang khusus dari Banyumas untuk membahas buku tersebut”Anak Kolong di kaki Gunung Slamet”, oleh Rusdian (Yan) Lubis.

“Kami sudah lama menantikan buku bergenre sastra realisme seperti ini,” kata Ahmad Tohari saat peluncuran buku yang berlangsung Minggu, 15 Oktober 2017. Selain Tohari, ekonom HS. Dillon ikut membedah buku ini.

Menurut Tohari yang karyanya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing, sudut pandang yang dipilih Rusdian Lubis menarik. Buku Anak Kolong menawarkan pengalaman pribadi, ditambah referensi pengetahuan sejarah, dan tulisan jenaka, menjadikan buku ini layak untuk dinikmati.

“Buku yang menyentuh hati pembacanya adalah sebuah karya sastra,” kata Tohari mengapresiasi buku pertama Rusdian Lubis.

Tepat waktu

Selesai membaca buku ini, saya digosipkan di media sosial tentang video adu jotos antara seseorang yang akrab disapa Bimantoro dan Lettu Satrio.

Dari video tersebut tampak Bimantoro percaya diri menghajar prajurit TNI tersebut. Tidak heran, mereka saling bertukar tinju. Saat diketahui Bimantoro juga merupakan keluarga TNI, sejumlah komentar di media sosial berbunyi seperti: “Pantas saja berani. Keluarga TNI juga.”

Keyakinan Bimantoro (walaupun perbuatannya salah) mengingatkannya pada stigma yang melekat pada anak kelas bawah. Sebenarnya kepada keluarga ABRI saat itu. Siapa yang diunggulkan? Dalam pengantar buku tersebut, penulis memberikan semacam definisi: Mereka adalah anak-anak prajurit yang dilahirkan atau dibesarkan di asrama tentara, barak atau garnisun.

Apakah anak-anak benar-benar nakal? Menurut penulis buku tersebut, “stigma negatif ini sulit dihilangkan. Hal ini mungkin ada benarnya karena karakter mereka seringkali dibentuk oleh kondisi sosial ekonomi yang pas-pasan, ketidakhadiran ayah (akibat tugas operasional yang rutin), ditambah beban ‘stres’ yang dialami saat ayah mereka bertugas di medan perang.

Dan masih panjang, sengaja saya singgah disini agar pembaca tertarik untuk membaca langsung di buku tersebut, untuk memahami pengalaman hidup seorang anak kurang mampu.

Rusdian Lubis, penulis buku ini, menyebut dirinya profesional di bidang pengelolaan lingkungan sumber daya alam, lulusan Institut Pertanian Bogor, memiliki gelar PhD di Oregon State University, AS, studi postdoctoral di Sidney University, Australia, dan belajar di Kennedy School of Government di Universitas Harvard, juga di Amerika.

Karir profesional penulis buku ini cukup lengkap. Mulai dari dosen, Bank Dunia, top manager di PT Freeport Indonesia, dan Bank Pembangunan Asia. Rusdian Lubis adalah adik kelas. Pangkat terakhir ayahnya, Marah Rusli Lubis, adalah letnan kolonel. Ibunya, Raden Ajeng Hermani Sudiah, adalah seorang guru di SMO Muhamadiyah di Solo. Orang Rusia mempunyai minat yang besar terhadap menulis. Dia menulis untuk hampir semua media terkemuka di tanah air.

Hari-hari dimana Rusdian Lubis, seorang praktisi lingkungan hidup, selesai mencetak buku yang telah ditulis selama hampir tiga tahun ini, merupakan hari-hari dimana suasana kembali ke 52 tahun yang lalu, tepatnya pada bulan September 1965. Belakangan ini, dunia berita dan berita perbincangan di media Media sosial penuh dengan perdebatan antara pihak yang meyakini komunisme dan PKI masih menjadi ancaman, dan pihak yang tidak.

Tak kalah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengawali acara nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI. Sesuatu yang kita tinggalkan selama 19 tahun, sejak berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto. Secara formal.

Bagi saya, buku ini datang pada saat yang tepat. Tepat waktu.

Jadi, membaca buku ini, perhatian saya langsung tertuju pada halaman-halaman yang menceritakan bagaimana “Saya” yang sebenarnya penulis melihat peristiwa-peristiwa yang menjadi momen kelam dalam perjalanan bangsa ini. Menariknya, penulis melihatnya melalui kacamata seorang anak kelas bawah berusia 12 tahun yang tinggal di barak militer di Wonopringgo, sebuah desa di selatan Pekalongan, Jawa Tengah.

Simak kutipannya dalam buku ini:

Operasi pembasmian G30S/PKI di lingkungan TNI dilakukan secara cepat, sejuk dan sistematis. Tak terkecuali Yonif 407 Wonopringgo. Kami mendengar kabar bahwa Kopral Serma P, ayah M dan N, teman saya yang belajar mengaji di surau, terlibat atau ada “indikasi” G30S/PKI. Tanpa sempat kembali ke asrama, usai bertugas di Pulau Sumatera dalam Operasi Dwikora, Serma P ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru.

Konsekuensinya sangat memilukan. Hanya seminggu setelah ayah mereka dinyatakan terlibat G30S/PKI, M dan N menolak berbicara dengan saya dan adik kelas lainnya. M dan N yang biasa salat Maghrib dan Isya bersama kami, kini sudah berhenti salat.

Keluarga Serma P segera meninggalkan perumahan dinas militer. Beberapa waktu kemudian saya mendengar kabar dari ibu-ibu asrama bahwa Bu P telah menjadi gadis panggilan di Solo.

Di asrama kita banyak mendengar kejadian seperti ini dan sangat membingungkan bagi anak-anak kelas bawah yang baru menginjak usia remaja. Seperti halnya Bu P, nasib anak perempuan dan istrinya yang berstatus “sebutan PKI” pun turut mengenaskan.

Sersan Parjo yang mempunyai kumis memanjang seperti setang sepeda mengatakan, setelah mereka “ditangkap”, para penculiknya memanfaatkannya sebagai permainan. Yang lainnya, karena basah kuyup, jadi gadis panggilan. Sersan Parjo ikut serta dalam pembunuhan dan pelatihan organisasi paramiliter yang kemudian membunuh anggota PKI atau mereka yang dianggap PKI di wilayah operasi.

Tak lama kemudian, karena sudah gila, Sersan Parjo menembak kepalanya sendiri. Tragis. Saya ingat, Ibu pernah memarahinya saat dia menenggelamkan dua anak anjing betina di sungai.

Operasi penumpasan G30S/PKI semakin menambah kekacauan di masyarakat sipil. Mereka tidak tahu siapa musuh dan siapa teman. Saling curiga dan saling tuduh terjadi dengan sangat mudah. Jika sebelumnya anggota G30S/PKI yang berafiliasi dengan PKI seperti OPR, Gerwani dan CGMI membantai secara brutal kelompok nasionalis dan agama, maka pada tahun-tahun kelam itu mereka menjadi sasaran organisasi lawan (Kokam, Banser, Banra dan lain-lain). Saat itu terjadi histeria massal dan paranoia.

Kebetulan lain yang membuat buku ini semakin penting untuk dibaca dan dijadikan referensi adalah ketika dokumen rahasia AS mengenai ‘pembantaian’ pasca G30S dibuka ke publik pada tahun 1965, 17 Oktober 2017. Benar sekali.

(BACA: Dokumen Rahasia AS, Bagaimana Kedutaan Besar di Jakarta Mengetahui Pembantaian dan Membantu Tentara Menggulingkan Soekarno)

HS Dillon yang mengenal Rusdian Lubis semasa di kampus dan saat kegiatan terkait Bank Dunia dan ADB memuji sikap Rusdian Lubis. Boleh dikatakan belum pernah dipilih penulis dengan latar belakang seperti Rusdian institusi ttahun-tahun seputar peristiwa 1960-1965 sebagai latar belakang buku ini. “Saya ingin seseorang menulis dari sudut pandang petani. Bagaimana keadaan mereka pada tahun-tahun itu,” kata Dillon.

Sebuah persembahan

Rusdian kaget dengan komentar yang muncul, baik dari Tohari, Dillon, dan sejumlah tokoh lainnya. Penulis Eka Budianta yang juga aktif di Badan Pelestarian Peninggalan Indonesia mengatakan: “Penulis berhasil memadukan kecerdasan modern dan perasaan lembut klasik.”

Sementara itu, Nina Akbar Tanjung mengatakan, “Membaca buku ini seperti membaca Solo jadul, lengkap dengan foto-foto lawasnya.” Aristides Katoppo, jurnalis senior, berpendapat bahwa buku ini wajib dibaca oleh generasi milenial yang hampir melupakan sejarah.”

Terkait pemahaman sejarah, Dillon menuturkan, saat mendampingi penulis yang merupakan direktur PT Freeport Indonesia itu, ia bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Perbincangan mengenai peninggalan keraton kemudian sampai pada yang namanya sebuah peninggalan sejarah. “Sultan lupa nama pusaka tersebut. Anehnya, kenang Rusdian. “Padahal dia dari Lubis,” kata Dillon.

Ninok Leksono, Rektor Universitas Multimedia Nusantara, jurnalis senior sekaligus alumnus Eisenhower Fellowship mengatakan, buku ini dirasa semakin relevan. Bagaimana anak-anak awam melihat peristiwa 1965 yang kemudian muncul dalam bentuk fobia PKI kembali bergema. Rusdian juga merupakan alumni Eisenhower Fellowship.

“Kami ingat apa yang dikatakan Presiden Dwight Ike Eisenhower industri militer kompleks. “Ucapan tahun 1961 masih relevan,” kata Ninok.

Sekadar catatan, Jenderal Eisenhower yang memimpin pasukan Sekutu pada D-Day mengenang hal ini dalam pidato perpisahannya saat meninggalkan Gedung Putih setelah menjadi Presiden AS. Menurut dia, kompleks industri militer merupakan ancaman terhadap demokrasi, yang dilakukan oleh koalisi tentara dan kontraktor senjata.

Jadi, buku Anak Kolong seolah membuka banyak pintu refleksi dan memecahkan kesadaran pembacanya terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Persis seperti yang dikatakan Tohari, sang Maestro.

Mengapa Rusdian Lubis menulis buku ini? “Buku ini adalah upeti, atau apresiasi kepada tiga orang penting dalam hidup saya yaitu kakek, ibu, dan ayah,” ujarnya. Rusdian mengenang kakeknya sebagai sosok yang nyentrik, humoris, tidak mengenyam pendidikan namun fasih berbahasa Sansekerta bahkan menerjemahkan kitab Bharatayudha dari bahasa Jawa Kuno ke bahasa Jawa.

Dari ibunya, seorang wanita yang menurut Rusdian lemah secara fisik namun berhati baja, tidak menutup kemungkinan Rusdian mewarisi kemampuan mengolah kata. Sang ibu suka menulis puisi. Kenangan dalam buku ini seolah menjadi obat penyesalan karena penulis sedang berada di negaranya bekerja di ADB, di Manila, saat ibunya meninggal.

Buku ini juga dipersembahkan untuk mendiang ayahnya. Seorang prajurit yang menurut penulis memiliki motto Jenderal Besar Mac Arthur: Tugas, Kehormatan, Negara (Tugas, Kehormatan, Negara). Seorang prajurit yang hampir selalu jauh dari keluarganya karena tugasnya yang panjang dan lengkap, 35 tahun.

Sebuah tribut yang ditulis oleh seseorang yang kaya pengalaman dan banyak membaca, segar karena dibumbui dengan kisah kegagalan cinta yang meski pahit, disajikan dengan penuh humor. Kenakalan remaja yang bikin ketawa, kocak. Kenangan orang-orang tercinta dihadirkan dalam kalimat-kalimat berayun indah.

Pembaca akan terpikat dari halaman pertama hingga akhir. – Rappler.com

Togel Singapore