• April 18, 2026
Target akar rumput Duterte untuk menurunkan kemiskinan hingga 14%

Target akar rumput Duterte untuk menurunkan kemiskinan hingga 14%

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Sekretaris Kabinet Jun Evasco berada di Kota Davao untuk secara resmi meluncurkan program Biyaya ng Pagbabago pemerintahan Duterte pada hari Sabtu, 9 Desember.

DAVAO CITY, Filipina – Sekretaris Kabinet Presiden Duterte mengatakan pada Jumat, 8 Desember bahwa gerakan akar rumput Kilusang Pagbabago bertujuan untuk menurunkan tingkat kemiskinan di negara tersebut menjadi 14% pada akhir masa jabatan Duterte pada tahun 2022.

Sekretaris Kabinet Leonicio “Jun” Evasco Jr mengatakan bahwa pencapaian target berarti pemerintah dapat memberikan manfaat ekonomi melalui langkah ini.

Tingkat kemiskinan terkini di Filipina berada pada angka 25%, namun menurut survei stasiun cuaca sosial pada kuartal ketiga tahun 2017, 47% atau sekitar 10,9 juta keluarga Filipina menganggap diri mereka miskin.

“Tujuan kami, dengan kajian pengelompokan sosial ekonomi, bahwa pada akhir pemerintahan Duterte, kita bisa menurunkan angka kemiskinan hingga 14%,” kata Evasco di Cebuano saat konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Dia berada di Kota Davao untuk peluncuran resmi program Biyaya ng Pagbabago pemerintahan Duterte yang dijadwalkan pada hari Sabtu, 9 Desember.

Program ini merupakan tanggapan kantornya terhadap seruan presiden untuk melakukan reformasi sosial, yang ia harap akan berdampak pada pengurangan kemiskinan di Filipina.

Sejak tahun 2016, Evasco berkeliling tanah air mempersiapkan Kilusang Pagbabago, yang disebutnya sebagai “mekanisme” untuk mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Sebelumnya, lembaga pemberi pinjaman multinasional seperti Bank Dunia meminta Filipina, khususnya di bawah pemerintahan mantan Presiden Benigno Aquino III, untuk meningkatkan belanja publiknya agar pertumbuhannya menjadi inklusif.

“Ternyata pada pemerintahan sebelumnya, tingkat pemanfaatan dana (untuk pelayanan sosial) hanya 60%. Artinya di akhir tahun anggaran ada 40% dana yang belum terpakai,” kata Evasco.

Hal inilah yang menurut Seskab, ia mendukung Presiden Duterte dan terus meluncurkan KP. Ia juga belajar dari pengalamannya sebagai walikota di Bohol, di mana layanan pemerintah sering kali datang bertahun-tahun setelah diminta.

Program ini merupakan kemitraan dengan 12 lembaga pemerintah, termasuk Otoritas Pendidikan Teknis dan Pengembangan Keterampilan, Dewan Kerja Sama Pembangunan Perumahan dan Perkotaan, dan Komisi Nasional Penanggulangan Kemiskinan.

Selain indikator utama 14%, Evasco mengatakan penciptaan lapangan kerja dan peluang yang diciptakan dalam program tersebut merupakan bagian dari parameter yang digunakan untuk mengukur KP.

“Jadi bukan sekedar bekerja (generasi), tapi penciptaan peluang dimana masyarakat akan berwirausaha,” ujarnya. – Rappler.com

sbobet mobile