• March 16, 2026
Ketajaman yang muncul di tengah jalan

Ketajaman yang muncul di tengah jalan

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Tak meyakinkan di awal, Chile kini berubah menjadi tim agresif dengan mengalahkan Meksiko 7-0.

JAKARTA, Indonesia – Apa saja kendala seorang juara bertahan untuk mempertahankan gelarnya? Salah satunya, haus akan gelar juara sendiri.

Sebuah tim yang mati-matian mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencapai sesuatu pada akhirnya akan merasa nyaman karena sudah mencapainya.

Kurang lebih begitulah gambaran timnas Chile yang mengawali kiprahnya di Copa America Centenario 2016. Mereka datang ke Amerika Serikat setelah pertama kali meraih gelar Copa America setahun sebelumnya.

Rasa haus akan gelar di turnamen internasional tertua di dunia itu kini tak lagi sama. Apalagi, mereka sudah tak lagi bersama pelatih yang mendampingi mereka meraih gelar juara. Posisi Marcelo Bielsa digantikan oleh Juan Antonio Pizzi.

Alhasil, Chile butuh waktu cukup lama untuk benar-benar kembali menemukan semangatnya di Copa America. Tak heran, mereka kalah 1-2 dari Argentina di laga pertama. Nyatanya, pertemuan ini seperti ulangan final tahun 2015 lalu.

Begitu pula pada laga kedua melawan Bolivia. Claudio Bravo dan kawan-kawan hanya mampu menang 2-1 atas tim terlemah di grup D.

Mereka baru menemukan performanya lagi di laga ketiga melawan Panama 4-2. Puncaknya, Chile mengalahkan Meksiko 7-0 di perempat final, dan kemudian mengalahkan Kolombia 2-0.

Kini mereka siap menghadapi Argentina pada laga puncak yang dihelat Senin 27 Juni WIB di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey.

Dominasi pemain Eropa di La Roja

Salah satu kunci kebangkitan Chile adalah munculnya talenta-talenta hebat dalam lima tahun terakhir. Kebanyakan dari mereka langsung menarik minat klub-klub Eropa.

Dari berdiri dalam barisan dari mereka saja, 13 di antaranya bermain di Eropa. Mereka tak hanya bermain untuk klub benua biru, mereka juga menjadi tulang punggung tim.

Mereka antara lain Alexis Sánchez (Arsenal), kiper Claudio Bravo (Barcelona), Arturo Vidal (Bayern Munich), Gary Medel (Inter Milan), dan striker yang mencetak empat gol ke gawang Meksiko, Eduardo Vargas (Hoffenheim).

“Para pemain ini telah menulis sejarah sepak bola Chili hingga halaman-halamannya. “Kami berharap dapat menambah halaman lain pada buku sejarah hebat ini,” kata Pizzi seperti dilansir ESPN.

Meski begitu, Pizzi masih harus belajar banyak dari kekalahannya di Copa America 2016. Pada laga tersebut, lini tengah Chile memang tak berkutik dengan pergerakan Lionel Messi dan kawan-kawan.

Padahal, pada laga tersebut Chile bermain dengan full team. Vidal berperan sebagai pemimpin serangan tim dari lini tengah. Namun, ia tak berdaya menghadapi tekanan Javier Mascherano dan Augusto Fernandez.

“Mereka mengalahkan kami di lini tengah. “Kami benar-benar tidak berdaya,” kata Vidal seperti dilansir ESPN.

Pemain Bayern Munich itu mengakui Argentina berada dalam situasi yang lebih menguntungkan. Mereka tampil hebat di Copa America. Semua pertandingan dimenangkan.

Kondisinya jelas berbeda dengan kondisi timnya. Barisan bek mereka menjadi sorotan. Chile mencapai final dengan “dosa” kebobolan 4 kali. Bandingkan dengan Argentina yang hanya kebobolan dua kali dan mencetak tiga gol lembar bersih.

“Kami mungkin kurang beruntung di game pertama. Namun kini kami berada di final dengan kepercayaan diri tinggi,” ujarnya.

Vidal menampik anggapan timnya tak lagi haus gelar. “Ini adalah pertandingan penting dalam hidup kami. “Tidak ada tim nasional di dunia yang bermain seperti kami,” tegasnya.—Rappler.com

BACA JUGA:

Keluaran HK