• April 18, 2026
Menagih ‘jangan diambil dulu’ The Blues

Menagih ‘jangan diambil dulu’ The Blues

JAKARTA, Indonesia — Namanya Vittoria. Gadis kecil berponi itu memandang dengan polosnya ke arah piala berlapis emas di depannya. Dari pelukan Elisabetta, ibunya, ia beberapa kali menyentuh trofi tersebut di tengah riuhnya nyanyian stadion Lagu Kebangsaan Juventus (Juventus lagu kebangsaan) Yang paling terkenal, Kisah cinta yang luar biasa.

Klub asal kota Turin, Juventus, berhasil meraih gelar juara Serie A untuk ketiga kalinya berturut-turut. Gelar paling bergengsi di negeri Pisa. Vittoria melihat betapa ayahnya sangat merindukan momen itu. Meski sudah kesekian kalinya ia meraihnya.

Dalam bahasa Italia, Vittoria berarti kemenangan. Sama seperti nama anak pada umumnya yang mencerminkan keinginan orang tuanya, gadis cilik ini pun menjadi “korban” obsesi besar ayahnya: Antonio Conte.

Keinginan untuk menang sudah tertanam dalam diri Conte. Ia selalu ingin memenangkan setiap pertarungan di lapangan hijau. Bahkan dalam pikiranku.

Elisabetta mengatakan Conte kerap tidur larut malam hanya untuk menonton cuplikan pertandingan. Baik itu rekaman pertandingan Juventus, klub yang dilatihnya selama tiga musim, atau tim-tim yang bakal menjadi lawan Si Nyonya Tua.

Semangat besar tersebut terus ia coba sampaikan kepada bawahannya. Mereka harus bekerja keras di lapangan. “Kamu bahkan harus makan rumput jika perlu!” kata gelandang Juve saat itu, Andrea Pirlo, yang menirukan sang bos.

Meski tim sudah unggul, Conte tetap memberikan tekanan kepada para pemainnya untuk terus memberikan segalanya. Gianluigi Buffon, misalnya, pernah disemprot Conte karena bicara soal bonus gelar juara di lini tengah pembicaraan tim. Faktanya, Juve saat itu membenarkannya scudetto padahal liga belum berakhir.

Di klub barunya, Chelsea, Conte masih mengusung mentalitas yang sama. Misalnya saja pada laga melawan Leicester City pada 15 Oktober lalu, Conte sempat terlibat adu mulut dengan seorang bomber. Biru yang tak kalah emosionalnya, Diego Costa. Costa bahkan memberi sikap minta diganti. Sementara itu, Conte terus berteriak dari pinggir lapangan.

Belakangan, sejumlah pembaca bibir menyebut Conte tidak senang dengan tindakan Costa. Pembom asal Spanyol itu geram. “Jika kamu tidak menyukaiku, ubahlah sekarang juga,” kalimat itu diduga terlontar dari bibir Costa dikutip sejumlah media Inggris.

Faktanya, Chelsea saat itu tidak dalam kondisi berbahaya. Mereka sudah unggul tiga gol tanpa membalas tamunya. Ada juga sekitar 10 menit tersisa dalam permainan. “Di Inggris, 10 menit bisa menjadi hal yang menghancurkan jika Anda lengah,” kata Conte di kesempatan lain.

Kerja keras mengalahkan talenta

Para pemain Chelsea nampaknya masih melakukan penyesuaian dengan manajer baru. Mereka yang belum mengenal Conte akan menghadapi situasi canggung. Selalu dituntut untuk terlihat lebih gigih. Alhasil, pemain “flamboyan” seperti Cesc Fabregas tak banyak diturunkan di era manajer berusia 47 tahun itu. Dia tidak datang 6 kali mulai sebelas.

Conte hanya ingin memberi ruang bagi pekerja keras. Seperti dirinya saat masih aktif bermain berseragam Bianconeri—Julukan Juventus—Conte lebih merupakan pekerja keras ketimbang jenius.

Ia akan terus berlari hampir ke seluruh sektor lapangan untuk membantu rekan satu timnya. Seperti peran gelandang bertahan N’Golo Kante yang kerap dihujani pujian.

Padahal, Juve di era tersebut diperkuat pemain-pemain fantastis seperti Zinedine Zidane, Roberto Baggio, dan Alessandro Del Piero. Membandingkan bakat Conte dengan 3 pemain ini ibarat bumi dan langit.

Namun, Conte bisa memberikan kompensasi ketika bakat hilang dari seorang pemain: kerja keras. Seperti kutipan terkenal di dunia bola basket, kerja keras mengalahkan bakat ketika bakat tidak bekerja keras. Kerja keras akan mengalahkan bakat ketika yang berbakat tidak bekerja keras.

“Menang itu penting. Namun yang lebih penting adalah bermain dengan intensitas dan selalu menunjukkan kemauan besar untuk menang. Gairah yang berlebihan,” kata Conte dikutip dari Daily Mail.

“Saya mencoba menyampaikan hal itu kepada para pemain. Selalu!” tambahnya.

Kerja keras menjadi elemen yang harus terus didorong oleh Conte. Pasalnya Chelsea kekurangan talenta musim ini. Usai menjalani musim penuh ambisi, mereka cenderung tak agresif di bursa transfer. Sesuatu yang tidak terduga terjadi di Chelsea.

Satu-satunya pembelian mahal musim ini adalah Kante. Selebihnya klub London barat itu mempromosikan pemain akademi seperti Nathaniel Chalobah dan Ola Aina. Sebelumnya ada nama lain dari akademi seperti Ruben Loftus-Cheek. Dominic Solanke musim ini juga disertakan berdiri dalam barisan padahal belum dimainkan.

Tiga bek melawan United

Selain itu, Conte harus memaksa mereka bermain lebih keras karena gaya permainan khas Italia mengandalkan semangat yang menggebu-gebu. Apalagi Chelsea sebenarnya bermain gemilang saat memainkan formasi Conte di Juventus.

Ya, setelah mencoba berbagai formasi, dari 4-2-3-1 hingga 4-1-4-1, Conte kembali menggunakan gaya lamanya, 3-4-2-1. Format 3 bek mampu membawa Chelsea meraih dua kemenangan besar. Mereka mengalahkan Hull City 2-0 dan juara bertahan Leicester City 3-0.

Melawan Manchester United pada 23 Oktober pukul 22.00 WIB, Conte kemungkinan besar akan memilih sistem yang sama. Para pemain mulai merasa nyaman memakainya. Proses mencari formasi terbaik pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Baru pada minggu ketujuh Conte menggunakannya.

Karena itulah Conte menyambut kunjungan United ke Stamford Bridge dengan tangan terbuka lebar. Bahkan, mantan pelatih timnas Italia itu menilai waktu kedatangan Setan Merah sangat tepat.

“Saya ingin melihat kemajuan kami dibandingkan dengan Arsenal dan Liverpool,” ujarnya.

Namun, dia harus tetap terjaga. Karena sistemnya bukannya tanpa cela. Chelsea masih harus beradaptasi dengan gaya permainan yang jarang digunakan klub-klub Inggris.

Jika skema permainan tak berjalan sempurna, klub yang beranggotakan 3 bek justru bisa menjadi incaran. Sebab, posisinya masuk sayap belakang akan kosong karena sayap datang terlambat. Itulah situasi yang menimpa Victor Moses.

Meski mencetak satu gol di laga itu, ia beberapa kali terlambat untuk memperkuat pertahanan. Beruntung pasukan Claudio Ranieri tidak memanfaatkan kelalaiannya.

Sistem 3 bek juga seharusnya bisa membuat pertahanan semakin kokoh. Dalam 2 pertandingan yang menggunakan skema ini, Chelsea mencetak gol untuk pertama kalinya lembar bersih dalam 2 pertandingan berturut-turut. Kondisi yang jarang terjadi jika menggunakan formasi lain.

Tiga bek lekat dengan gaya permainan Italia. Sistem ini secara tradisional lebih mampu mengakomodasi gaya permainan bertahan yang kuat yang dikenal daripada yang diketahui baut. Dengan 3 bek tengah gawang akan di cover oleh 5 pemain saat bertahan. “Kelebihan” satu bek dibandingkan dengan skema umum 4 bek.

Salah satu dari 3 bek tengah dapat mengambil peran tersebut mesin penyapu alias bebas dalam posisi yang lebih posterior. Jika dua pembatas pertahanan tidak bisa menghentikan lawan, ia bisa menyapu bola untuk mengamankan gawang.

Dengan baut, Biru akan lebih fokus pada pertahanan. Kebobolan 3 gol melawan Arsenal dan 2 gol melawan Liverpool sebenarnya bisa dihindari. Sebab dalam permainan bertahan gaya Italia ada ungkapan yang dipegang teguh: bahkan tidak mengambilnya alias lembar bersih adalah prioritas tertinggi.

Pertahanan total ini akan sangat mengganggu United. Pasukan Jose Mourinho saat ini sedang krisis kreativitas di lini depan. Kebuntuan bisa saja kembali terjadi seperti saat pasukannya bermain melawan Liverpool pekan lalu.

Namun bekal kemenangan besar 4-1 atas Fenerbahce di Liga Europa bisa jadi modal berharga. Terutama untuk mengangkat mentalitas mereka usai bermain imbang melawan musuh bebuyutannya.

“Kemenangan melawan Chelsea akan menggambarkan bagaimana kami akan berada di akhir musim ini,” ujarnya Striker muda United, Marcus Rashford.—Rappler.com

Keluaran Sidney