• April 8, 2026
Akhirnya gajah sumatera ‘Yani’ mati

Akhirnya gajah sumatera ‘Yani’ mati

Sebuah petisi meminta manajemen memperbaiki kondisi Kebun Binatang Bandung

BANDUNG, Indonesia – Setelah ramai diberitakan media, gajah sumatera bernama Yani akhirnya mendapat perawatan dari tim dokter di Taman Safari dan Rumah Sakit Hewan Cikole Lembang pada Rabu sore. Namun upaya tim dokter tidak berhasil menyelamatkan gajah berusia 34 tahun tersebut.

“Iya (meninggal), pukul 18.36 WIB,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Sylvana Ratina saat dikonfirmasi Rappler, Rabu malam, 11 Mei.

Menurut Sylvana, kondisi Yani saat dirawat dokter sudah sangat memprihatinkan. Tim dokter pun membalikkan tubuh gajah betina tersebut untuk mengobati luka lecet di berbagai bagian tubuhnya.

Sylvana menilai ada unsur kelalaian pihak pengelola Kebun Binatang Bandung dalam kematian Yani.

Yang lebih miris lagi bagi kami karena sejak awal tidak dilaporkan ke BBKSDA, kata Sylvana.

Pihaknya, kata Sylvana, sudah memberikan bimbingan teknis sejak dua bulan lalu. Saat itu, kondisi satwa di kebun binatang yang terletak di Jalan Taman Sari Kota Bandung itu masih bagus.

“Tetapi mereka tidak memiliki dokter hewan. “Kami minta mereka segera mencari dokter hewan, tapi sampai saat ini belum ada,” kata Sylvana.

kata Humas Kebun Binatang Bandung Sudaryo dokter hewan kebun binatang tersebut mengundurkan diri tahun lalu dan manajemen tidak berhasil menemukan dokter hewan yang diperlukan.

“Kami sangat sulit sampai hari ini. Bukannya Anda tidak berusaha mencari dokter, karena itu bukan sekadar dokter hewan. Itu liar, ada yang khusus (dokter hewan). Mohon ditanyakan kepada Ikatan Dokter Hewan Indonesia, tidak mudah mencari dokter spesialis, kata Sudaryo, Rabu sore.

Dia juga berkata pihaknya berkonsultasi dengan dokter hewan yang merawat dan ahli penangan dari Lampung mengenai kondisi Yani. Upaya pengobatan seperti pemberian infus, vaksin dan vitamin juga diberikan kepada gajah tersebut

“Ibarat dikasih infus, kita sudah melakukannya 6 kali, kurang lebih. Lalu kita berikan vaksin, vitamin, dan sebagainya. Tapi kita masih mencari penyakitnya, itu penyakitnya kan? Nah, kami juga khawatir,” kata Sudaryo.

Kabar kondisi Yani membuat Wali Kota Bandung Ridwan Kamil datang ke kebun binatang yang sudah berdiri sejak tahun 1930 itu.

Ia mengaku menawarkan bantuan agar pengelolaan Kebun Binatang Bandung lebih profesional. Namun Ridwan sendiri kesulitan membantu karena kebun binatang tersebut milik perorangan yang menyewa tanah dari Pemerintah Kota Bandung.

“Sekarang saya sebagai Wali Kota banyak yang merestorasi taman dan ruang terbuka. Bahkan kalau ada celah hukum, saya bisa merestorasi kebun binatang ini juga. Tapi karena disewakan pribadi, saya kembalikan ke penyewa yaitu Yayasan Kebun Binatang Bandung,” kata Ridwan.

Keterbatasan pendanaan muncul menjadi penyebab pengelolaan Kebun Binatang Bandung tidak profesional. Terkait hal ini, Ridwan mengatakan pihak kebun binatang harus membuka diri terhadap dukungan dan bantuan pihak lain.

“Kalau memang tidak ada kapasitas anggaran, buka saja bantuan atau dukungan investasi dari luar. “Yang ingin kami tawarkan adalah tempat yang tidak hanya baik bagi pengunjung, tapi juga baik bagi satwanya,” ujarnya.

Kondisi yang dialami Yani nampaknya menjadi bukti buruknya pengelolaan Kebun Binatang Bandung. Warga sudah lama mengeluhkan kondisi hewan dan kandang yang tidak terawat serta minimnya sarana dan prasarana.

Baru-baru ini muncul petisi “Selamatkan Kebun Binatang Bandung”. www.change.org. Petisi tersebut meminta pihak pengelola untuk memperbaiki kondisi Kebun Binatang Bandung agar lebih layak huni.

Intinya masukan warga, baik dalam bentuk tertulis maupun petisi, menurut saya harus ditanggapi dengan serius oleh pengelola kebun binatang, imbau Ridwan.

Untuk mengetahui penyebab meninggalnya Yani, tim dokter yang terdiri dari dokter hewan dari Taman Safari, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung, serta RS Hewan Cikole akan melakukan autopsi, Kamis pagi, 12 Mei 2016. – Rappler.com

Hongkong Pools