Gus Dur pasti menganggap kami seperti anak TK
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
“Saya yakin Gus Dur akan jengkel dan jengkel jika melihat ada kelompok yang merusak konstitusi, mengabaikan pluralisme.”
JAKAKARTA, Indonesia – Presiden Joko “Jokowi” Widodo meminta umat Islam berhenti meributkan hal-hal yang tidak perlu dan mulai meneladani KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Pesan itu disampaikan Presiden Jokowi saat menghadiri prosesi atau peringatan wafatnya Gus Dur ke-7 di Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat malam, 23 Desember 2016.
“Kalau kita terus begini, tenaga kita yang besar akan terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tidak perlu. Kita bisa melupakan strategi besar negara kita, melupakan segalanya karena kita membuat keributan, keributan dan keributan,” kata Presiden Jokowi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan, banyak masyarakat yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara kritik dan hinaan atau antara kritik dan ujaran kebencian.
“Kritik mana yang menghasut, mana yang penistaan, mana yang ujaran kebencian. Kita sekarang tidak bisa membedakan kritik mana yang makar,” kata Presiden.
Andai Gus Dur masih hidup, lanjut Presiden Jokowi, pasti akan menyebut kami seperti anak TK. “Gus Dur seharusnya mendigitalkannya.”
Selain itu, lanjut Jokowi, Gus Dur juga bakal kesal jika melihat sekelompok orang memaksakan kehendaknya dengan paksa.
Saya yakin Gus Dur pasti akan kesal dan jengkel jika melihat ada kelompok yang meremehkan konstitusi, mengabaikan keberagaman, memaksakan kehendak, melakukan kekerasan, radikalisme, dan terorisme, kata Presiden Jokowi.
Oleh karena itu, Presiden meminta masyarakat meneladani Gus Dur, seorang ulama yang rendah hati, sederhana dan selalu ikhlas melayani masyarakat.
“Tirulah kesederhanaan beliau, kesediaannya mengabdi kepada masyarakat, dan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara hingga akhir hayat,” kata Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi sendiri mengenang Gus Dur sebagai sosok yang selalu optimis, tidak takut dan tidak bingung. Kapan pun harus mengambil keputusan sulit, Jokowi berkata, ““Saya selalu ingat apa yang dia katakan, ‘Itu dia, kenapa repot-repot’,””.
Ungkapan ‘Itu saja, buat apa repot-repot’, lanjut Jokowi, merupakan kaidah fikih yang memastikan kita mempermudah, bukan mempersulit. “Saat ini yang mudah dipersulit. Yang sulit harus dipermudah. Jangan dibalik,” kata Presiden.
Penerbangan ke-7 ini antara lain dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama serta sejumlah tokoh politik, tokoh budaya, dan tokoh lintas agama. —Rappler.com