• March 19, 2026

5 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Museum Linggarjati

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Perundingan Linggarjati merupakan perundingan pertama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Hindia Belanda

KUNINGAN, Jawa Barat – Tak jauh dari Kota Cirebon, salah satu destinasi wisata andalan di Jawa Barat, terdapat bangunan bersejarah perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan penuh. Meskipun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, namun jalan menuju kemerdekaan penuh tidaklah mulus. Belanda enggan menyerahkan kekuasaannya di Indonesia.

Museum Gedung Perundingan Linggajati terletak di sebelah selatan Kota Cirebon. Pada hari biasa dikunjungi 100-200 orang. Pada akhir pekan dan hari libur sekolah, jumlah pengunjung meningkat. Biaya masuknya sangat murah, Rp 2.000 per orang dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak. Museum ini cukup terawat dan cocok untuk wisata edukasi. Berikut 5 hal menarik dari Museum Gedung Perundingan Linggarjati.

Perilaku museum

Sebelum menjadi bangunan bersejarah, bangunan di atas lahan seluas 2,4 hektar ini pada tahun 1918 merupakan sebuah rumah sederhana milik Nyonya Jatisem yang istrinya seorang Belanda bernama Tuan Tersana. Dalam perjalanannya, bangunan dan tanah tersebut digunakan sebagai kantor dan rumah bagi Belanda, kemudian direbut oleh Jepang pada tahun 1942 dan menjadi Hotel Merdeka pada tahun 1946, yang kemudian digunakan sebagai tempat perundingan Linggarjati.

Antara Jakarta dan Yogyakarta

Gedung Hotel Merdeka dipilih sebagai lokasi perundingan Linggarjati karena terletak di tengah-tengah antara ibu kota, Jakarta yang saat itu dikuasai pemerintah Hindia Belanda, dan Yogyakarta yang dikuasai pemerintah Republik Indonesia. Lokasi di Desa Linggajati, Cilimus, Kabupaten Kuningan diusulkan oleh Ibu Maria Ulfah Santoso, Menteri Sosial saat itu. Ayah Maria Ulfah adalah mantan Bupati Kuningan.

Menentukan masa depan Indonesia

Kamar tidur delegasi Indonesia saat Perundingan Linggarjati 1946, Selasa (27/12/2016). Foto oleh Uni Lubis

Delegasi Indonesia dalam perundingan Linggarjati dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan ShahrirPemerintah Kerajaan Belanda diwakili oleh delegasi yang dipimpin oleh Wim Schermerhorn dengan anggota HJ van Mook. Mediator dalam perundingan pertama antara Pemerintah Indonesia dan Belanda adalah Lord Killan dari Inggris. Perundingan Linggarjati menentukan masa depan Indonesia.

Indonesia dan Belanda sepakat membentuk RIS

Di ruangan tersebut, Presiden Sukarno bertemu dengan pimpinan delegasi Belanda pada perundingan Linggarjati, Selasa (27/12/2016). Foto oleh Uni Lubis

Hasil perundingan Linggarjati terdiri dari 17 pasal, antara lain: Belanda secara de facto mengakui wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pulau Jawa, Sumatera dan Madura, Belanda harus meninggalkan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1949, Belanda dan Indonesia sepakat untuk bergabung dengan negara RIS, di Indonesia, Persemakmuran/Persemakmuran dengan mahkota Belanda sebagai kepala Persatuan.

Berdiri di atas tanah seluas 24.500 meter

Museum Linggarjati berada di lahan seluas 2,4 ha yang kini menjadi taman rekreasi, Selasa (27/12/2016). Foto oleh Uni Lubis

Museum Perundingan Linggajati berdiri di atas lahan seluas sekitar 24.500 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 1.800 meter persegi. Gedung yang direnovasi menjadi museum pada tahun 1977 ini terdiri dari: ruang sidang, ruang sekretaris, kamar tidur Lord Killearn, ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, kamar tidur delegasi Belanda, kamar tidur delegasi Indonesia, ruang makan, kamar mandi/WC, ruang setrika, gudang, gedung pendopo, dan garasi.– Rappler.com

lagutogel