Polisi menangkap kurir senjata asal Filipina selatan untuk kelompok Santoso
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Polisi mengaku sulit menangkap Santoso karena medan hutan yang sulit, meski telah mengerahkan 2.000 personel.
MENADO, Indonesia – Polisi berhasil menangkap salah satu kurir yang memimpin senjata dari Filipina selatan ke kelompok teroris Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) melalui Santoso alias Abu Wardah. Pasokan senjata tersebut diyakini berasal dari kelompok separatis Filipina, Abu Sayyaf.
Penangkapan itu karena pengamanan yang lebih ketat di kawasan perbatasan antara Indonesia dan Filipina. Juru Bicara Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, jalur pengiriman senjata diduga dimulai dari Pulau General Santos hingga Sangatta Laut, kemudian masuk ke Sulawesi Utara hingga Poso, Sulawesi Tengah.
“Ini adalah jalur distribusi senjata dari Filipina Selatan dan sudah terungkap,” ujarnya media pada Rabu, 25 Mei di Mabes Polri.
Sedangkan kurirnya ditangkap pada Selasa, 24 Mei di kawasan Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Ia kedapatan mengantarkan senjata dari Indonesia ke Filipina bagian selatan.
Selain itu, Satgas Operasi Tinombala 2016 kembali melakukan kontak senjata dengan anggota kelompok Santoso. Dari aksi tersebut, 2 anggota teroris tewas.
Keduanya diketahui bernama Firman alias Aco alias Ikrima dari Malino, Poso, dan Yazid alias Taufik dari Jawa. Kedua jenazah berhasil dievakuasi pada Rabu, 18 Mei, kata Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Rudy Sufahriadi, saat konferensi pers yang digelar di Mabes Polri, Rabu, 25 Mei.
Diakui Rudy, tak mudah menangkap seluruh anggota kelompok Santoso yang diperkirakan hanya tersisa 22 orang. Bahkan, jumlah personel yang dikerahkan polisi mencapai 2.000 orang. Jadi dimana masalahnya? Rudy mengatakan medan berupa hutan lebat membuat pencarian anggota kelompok Santoso terhambat.
Ia juga mengatakan, jumlah anggota yang diburu juga berpengaruh.
“Semakin besar kelompok yang kita cari, semakin cepat kita menemukannya,” kata Rudy.
Namun, lanjutnya, jika kelompoknya kecil dan semakin terpecah, maka akan semakin sulit menemukannya. Rudy mengatakan, kelompok Santoso menggunakan teknik gerilya saat bersembunyi di hutan. Oleh karena itu personel polisi memilih menggunakan teknik anti gerilya dengan memecah belah anggota untuk mencari anggota kelompok Santoso.
Teknik tersebut terbukti mampu melumpuhkan 15 anggota kelompok Santoso sebelumnya.
Perbatasan Sulut dan Gorontalo dijaga ketat
Personil kepolisian juga memperketat kawasan perbatasan antara Sulut dan Gorontalo menyusul penangkapan kurir senjata tersebut. Setiap migran wajib mengetahui asal dan tujuannya ketika melintasi wilayahnya.
“Kawasan hutan di Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Utara saling berhubungan. Sehingga sangat rentan dilintasi kelompok teroris Santoso. “Selain memperketat pengamanan, kami juga mengimbau kepada setiap kecamatan untuk terus melakukan pemantauan jika ada orang yang tidak dikenal,” kata Kapolda Sulut, Brigjen Polisi Wilmar Marpaung.
Di Provinsi Gorontalo, 1 peleton satuan Brimob dikerahkan di Polsek Popayato Barat, Kabupaten Pohuwato. Polisi sengaja memperketat pengawasan di wilayah perbatasan, karena wilayah tersebut paling rawan masuknya teroris, karena banyak “jalur tikus”. – Rappler.com
BACA JUGA: