• April 7, 2026

Romansa korespondensi kembali meningkat

Di zaman yang serba instan, apakah masih ada masyarakat yang secara tradisional berkirim surat dengan menempelkan prangko dan lewat kantor pos? Mungkin tidak bagi Anda yang tidak tertarik dengan bisnis dan kenyamanan teknologi. Namun bagi orang lain yang mulai “kembali” ke masa lalu, jawabannya mungkin “Ya”.

Kehebohan menciptakan pesan tulisan tangan membuat banyak masyarakat di Indonesia saat ini, khususnya generasi muda, kembali menggunakan surat sebagai alat komunikasi. Kirim aktivitas surat siput Hal ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, namun juga anak-anak kecil yang lahir pada masa tersebut telepon pintar telah dibuat.

Mengirim surat secara tradisional juga disebutkan surat siput atau surat siput karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tangan penerimanya. Namun biasanya mereka mempunyai sahabat pena di luar negeri, sehingga membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga bulan hingga surat sampai ke tujuan.

“Perasaan mendapatkan surat itu tidak bisa digantikan dengan kebahagiaan. Ada misteri tentang isi surat itu. Oleh-oleh yang dibuat oleh orang lain sangat berharga.”

Cukup lama, apalagi dibandingkan dengan surel atau mengobrol yang dapat langsung diimpor pada saat diimpor telepon pintar segera, namun ada euforia yang bisa diberikan oleh kegiatan ini.

Menulis surat seperti ini membutuhkan usaha lebih. Biasanya huruf dihias sedemikian rupa agar terlihat indah dan menarik saat dibuka. Namun semua tergantung dari pembuat surat itu sendiri, bisa jadi pengirimnya lebih fokus pada cerita yang ingin ditulisnya, bukan pada desain suratnya.

Namun ada perasaan bahagia yang berbeda saat membuka surat indah yang telah ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pengguna surat siputAudrey Katherine.

“Perasaan mendapatkan surat itu tidak bisa digantikan dengan kebahagiaan. Ada kegembiraanNah, ada misteri apa isi surat itu. Lalu ada keterkaitan yang diraih, oleh-oleh buatan orang lain sangat berharga dan di hati saya ada perasaan senang, kata Audrey gembira.

Masa lalu surat siput Selain itu, kamu juga bisa punya teman curhat, biasa disapa sahabat pena atau sahabat pena. sahabat pena Orang ini akan membaca komentar Anda melalui surat yang Anda kirimkan. Sebaliknya, mereka juga akan berbagi kisah hidup mereka.

Pengalaman tersebut dirasakan oleh pengguna surat siput lainnya, Kezia Mariska.

“Kadang kalau ada masalah, saya sampaikan lewat surat yang saya kirimkan nanti sahabat penaSaya. Mereka biasanya menanggapi masalah saya, bahkan ada yang memberi saya jalan keluar. Padahal kami belum pernah bertemu langsung,” ujarnya.

‘Dicari sahabat pena’

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memulai aktivitas surat siput sedang mencari sahabat pena atau sahabat pena. Merekalah yang nantinya akan mengirimi Anda surat. Di era saat ini, sebagian besar pengguna surat siput mencarinya di Instagram.

Biasanya ada yang mencari sahabat pena pun menuliskannya di profil Instagram pribadinya dengan tulisan: Diinginkan sahabat pena. Selain itu, Anda juga bisa mencarinya melalui hashtag seperti #Penpalswanted, #Pelpalnedeen, atau #snailmail.

Jangan heran jika Anda bertemu banyak orang dari seluruh dunia yang menggunakan hashtag seperti itu. Memang kegiatan ini digandrungi oleh orang-orang di seluruh dunia. Masalah biaya pengiriman? Tenang saja, harganya tidak semahal kirim paket atau barang lainnya.

Surat dikirim dengan prangko yang dapat dibeli di kantor pos. Harga ongkos kirim berbeda-beda tergantung seberapa cepat surat ingin sampai dan juga tujuannya.

Agar ongkos kirim tidak terlalu mahal, isi amplop jangan terlalu tebal. Ini nantinya bisa dihitung sebagai penyerahan barang, bukan surat.

“Mengirim surat biasanya disertai dengan ‘hadiah’ seperti itu. Biasanya hal-hal khas negara kita. Bisa berupa teh, kartu pos, stiker batik atau barang lainnya. Nah, barang ini biasanya membuat surat kita ‘membengkak’. “Harus pintar-pintar mengaturnya agar barangnya tidak rusak,” kata Kezia.

Romansa surat di masa kejayaannya

Sebelum teknologi komunikasi berkembang seperti saat ini, masyarakat mengandalkan surat sebagai salah satu media komunikasinya.

Saat itu, di setiap sudut tempat terdapat kotak berwarna oranye dengan tulisan Bus, yang disebut kotak pos. Bagi yang ingin mengirim surat tidak perlu repot datang ke kantor pos. Masukkan saja surat itu ke dalam kotak. Nantinya akan ada petugas dari kantor pos yang mengumpulkan surat-surat tersebut.

“Saya dan suami sering berkirim surat. “Biasanya aku membalas surat dengan penutup bibir yang diberi lipstik.”

Namun, dari tahun ke tahun pengiriman surat semakin sedikit. Pada akhirnya, banyak kotak surat yang ditarik. Berdasarkan laporan tahunan PT Pos Indonesia, pada tahun 2015 hanya terdapat sekitar 12.000 pengiriman pos di seluruh Indonesia.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mengirimkan sekitar 60.000 surat.

Menurut Yana, seorang ibu rumah tangga yang biasa berkirim surat, tanpa surat mungkin ia tidak akan memiliki keluarga seperti saat ini.

“Saya dan suami sering berkirim surat. Saya tinggal di Tangerang dan suami saya tinggal di Solo. “Karena jauh, dulu pakai surat,” kata Yana.

Dibandingkan dengan mengirim surel atau bahkan mengobrol, surat yang lebih romantis untuk Yana. Terasa lebih bermakna melihat tulisan tangan suaminya di surat.

“Sepertinya ada upaya besar untuk sekadar berkomunikasi. Aku sedikit malu untuk mengatakan ini, tapi biasanya aku membalas surat dengan lip patch yang kudapat lipstik. “Sekarang bagaimana bisa seperti itu,” ujarnya.

Yana biasanya menambahkan kelopak bunga pada surat yang ingin dikirimkannya. Katanya kalau suratnya dibuka, yang tercium aroma bunga dulu. —Rappler.com

Togel Singapore Hari Ini