Agar pejalan kaki tidak lagi menjadi ‘anak tiri’
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Menjadi pejalan kaki di Jakarta itu seperti berada anak tiri, seringkali diabaikan dan diperlakukan tidak adil. Lihat saja lapak-lapak pinggir jalan yang berdiri di trotoar, sepeda motor yang melaju sesuka hati di sepanjang pejalan kaki, dan mobil-mobil yang diparkir di sepanjang jalan.
Padahal trotoar adalah hak pejalan kaki. Hak ini bahkan dijamin dan diatur dalam Pasal 131 ayat (1) UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Untuk itu, untuk memulihkan hak pejalan kaki di trotoar, pemerintah mencanangkan kampanye Bulan Tertib Trotoar pada Agustus ini.
Tak hanya melakukan kampanye, Pemprov DKI juga berencana membangun dan memperbaiki seluruh trotoar di Jakarta. Rencana tersebut disampaikan Kepala Bidang Perencanaan Prasarana dan Utilitas Jalan Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Riri Asnita.
Rini mengatakan, ada 2.600 kilometer trotoar yang akan dibangun di Jakarta. Pada 2016, kata Rini, trotoar berhasil dibangun sepanjang 46 kilometer. Pada tahun 2017, targetnya adalah menyelesaikan setidaknya 80 kilometer lagi.
Pembangunan perkerasan ini dilakukan oleh Dinas Jalan Tol dan Dinas Jalan Tol di lima wilayah administrasi DKI Jakarta. “Untuk Dinas sepanjang 24 kilometer, dan untuk Sudin (Sudin Pelayanan) totalnya 80 kilometer,” kata Riri, Senin 14 Agustus 2017.
Rini mengatakan, dari target pembangunan trotoar sepanjang 80 kilometer pada tahun ini, baru terealisasi 28 kilometer. “Pembangunan yang dicapai baru mencapai 35 persen,” ujarnya.
Rini mengatakan, untuk membangun trotoar sepanjang 80 kilometer itu dibutuhkan dana hingga Rp412 miliar. Dana tersebut bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Riri Asnita mengatakan angkutan umum saat ini cukup baik. Namun masih banyak masyarakat yang enggan memanfaatkannya karena kondisi trotoar yang tidak nyaman dan tidak aman.
“Kalau transportasinya cukup bagus, tergantung bagaimana masyarakat mau diajak jalan kaki. “Kita perlu membangun fasilitas pejalan kaki yang aman, nyaman dan dapat diakses oleh siapa saja,” kata Riri.
Lalu seperti apa trotoar yang layak?
Saat ini, pemerintah tengah menggalakkan sosialisasi kepada warga Jakarta untuk beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Namun program ini tidak akan berhasil jika trotoar yang ada di Jakarta tidak layak pakai atau tidak nyaman. Lalu seperti apa trotoar yang layak?
Pijakan pengerasan jalan taktil
Trotoar itu milik pengguna jalan, termasuk tunanetra. Oleh karena itu harus dilengkapi dengan kaki paving atau blok batu tulis yang nyata. Taktil Warna kuning ada dua macam, yaitu bentuk empat garis lurus sebagai petunjuk jalan dan struktur titik sebagai tanda peringatan kawasan berbahaya. “Agar hati-hati,” kata Riri.
Beton penyerap air
Selain itu, pembangunan trotoar juga harus dilengkapi dengan beton yang mampu menyerap air dengan cepat, sehingga tidak menimbulkan genangan saat hujan. Beton ini dibuat dengan kontur menyerupai pori-pori agar air dapat meresap ke dalam tanah. Beton yang cepat menyerap ini akan ditandai dengan warna merah.
Parkir di jalan
Hal lain yang kerap meresahkan pejalan kaki adalah sepeda motor atau mobil yang sering terparkir di trotoar. Untuk itu, kata Rini, pihaknya akan membuat area parkir di jalanan. Sebagian kecil trotoar akan dibuat lebih landai untuk dijadikan area parkir resmi. Setelah parkir mulai berlaku di jalanan Diharapkan tidak ada lagi parkir liar di jalan setapak.
Pos
Permasalahan lain yang sering ditemui pejalan kaki adalah banyaknya tiang, seperti tiang kabel listrik atau tiang rambu lalu lintas di trotoar. Kedepannya, Dinas Bina Marga akan membangun kotak utilitas di bawah jalur pejalan kaki.
Dengan kotak berukuran 1,2 meter x 1,8 meter ini, tidak ada lagi tiang dan kabel yang melintasi trotoar. Konstruksi kotak utilitas ini juga berfungsi untuk menghindari penggalian jalan secara terus menerus.
Harus ada gawang
Akan lebih baik lagi jika trotoarnya juga dilengkapi dengan trotoar gawang atau tiang untuk memberikan keamanan lebih bagi pejalan kaki. Tonggak penambat kapal idealnya dipasang pada jarak 0,9 hingga satu meter, sehingga masih bisa dilalui oleh pengguna kursi roda.
Namun di Indonesia jaraknya antara gawang umumnya jaraknya tidak terlalu jauh, melainkan berdekatan, dan hanya ada satu celah yang cukup besar untuk dilewati kursi roda. Jadi, ke depan harus ada perbaikan gawang Juga.
Ujung depan aktif
Jalur pejalan kaki juga harus dilengkapi depan aktif. Ada beberapa cara untuk membentuknya depan aktifsuka menggunakan dinding transparan alias dinding berbahan kaca pada bangunan di sepanjang jalur pejalan kaki.
Dengan demikian, pejalan kaki dapat melihat ke dalam gedung sebagai bentuk pengalih perhatian sehingga perjalanan tidak terasa jauh, dan keselamatan pejalan kaki juga dapat terpantau dari dalam. Dinding transparan tambahkan juga penerangan, agar jalur pejalan kaki tidak gelap dan nyaman untuk dilalui.
Topi
Trotoar yang teduh juga akan lebih nyaman untuk dilalui. Saat ini bayangan trotoar hanya bergantung pada bayangan bangunan di sebelahnya. Namun, trotoar tersebut nantinya akan dilengkapi dengan kanopi dan tanaman.
Semua itu harus dilakukan agar pejalan kaki bisa merasa nyaman saat berjalan di trotoar.—Rappler.com