• March 16, 2026
Ahok meminta pendukungnya menghormati aturan

Ahok meminta pendukungnya menghormati aturan

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Ahok mengatakan, sudah terlambat untuk mengubah konsep acara karena pemerintah Singapura sudah mengetahui detail acaranya terlebih dahulu.

JAKARTA, Indonesia – Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama ikut berkomentar setelah dua pendiri kelompok relawan Sahabat Ahok, Amalia Ayuningtyas dan Richard Handris Saerang dilarang masuk Singapura pada Sabtu 4 Juni. Ahok merenungkan kejadian tersebut dan meminta pendukungnya memperhatikan dan menaati peraturan terkait.

Ia mengatakan, jika ingin meminta dukungan masyarakat, maka Relawan Ahok harus mematuhi aturan terkait terlebih dahulu.

“Jangan terlalu antusias kalau aturannya dilanggar, nanti malah stres,” kata Ahok, Senin, 6 Juni di Balai Kota, Jakarta Pusat.

Mantan politikus Partai Gerindra itu menjelaskan, Singapura memiliki undang-undang yang melarang orang asing mengadakan kegiatan politik dan mengumpulkan orang banyak. Pemerintah Negeri Singa, kata Ahok, sudah mengetahui detail acara tersebut sebelum Sahabat Ahok mengubah konsepnya.

Ahok menilai perubahan program tersebut dinilai terlambat.

“Warga Singapura rupanya sudah mengetahui semua kegiatan tersebut. Akhirnya dia ubah (ringkasannya), dia (teman Ahok) bilang ‘tidak-tidak’ (mengambil KTP) dan dikira Singapura ada niatnya, kata Ahok seperti dikutip Kompas.

Meski dibantah, Ahok menyebut niat awal Sahabat Ahok jelas ingin mengambil KTP dan menjualnya barang dagangan.

“Karena itu ada di brosur pertama,” ujarnya.

Pihak berwenang Singapura, lanjut Ahok, tidak mengetahui adanya perubahan konsep acara. Alhasil, Ahok mengaku dihubungi Duta Besar Singapura untuk Indonesia Anil Kumar Nayar.

Makanya saya langsung menghubungi Duta Besar Singapura untuk berkoordinasi dan membantu, kata Ahok.

Sementara itu, Amalia dan Richard dalam siaran persnya mengatakan, pemerintah Singapura tidak menjelaskan alasan pelarangan keduanya. Mereka juga membantah pernyataan Kedutaan Besar Singapura di Jakarta yang menyebut mereka berniat melakukan aktivitas politik di Singapura.

“Kami memang datang ke sana sebagai WNI karena ingin berkumpul dan tidak membawa apa-apa barang dagangan terserah,” kata Amalia saat berbicara kepada media di Graha Pejaten, Minggu, 5 Juni.

Karena dilarang masuk, Amalia dan Richard dibawa ke ruang Immigration and Checkpoint Authority (ICA) untuk dimintai keterangan. Keduanya mengaku bingung dan cemas karena tidak diperbolehkan masuk ke Lionland.

Mereka berharap perwakilan KBRI Singapura bisa mendampingi saat diperiksa oleh pihak imigrasi Singapura. Tetapi, Sulit untuk menghubungi KBRI Singapura karena kedutaan tidak buka pada hari Sabtu.

Dan ketika perwakilan KBRI Singapura mencoba menghubungi Amalia dan Richard, alat komunikasi mereka disita oleh pihak imigrasi sehingga mereka tidak sempat berkomunikasi. Perwakilan KBRI baru tiba di Bandara Changi sekitar pukul 07.00 pada Minggu pagi.

Kelompok Sahabat Ahok di Indonesia pun ikut haru melihat kejadian tersebut. Mereka mengancam akan mengerahkan massa untuk menyerang Kedutaan Besar Singapura di Jakarta. Gara-gara seruan tersebut, pendiri Teman Ahok lainnya, Singgih Widyastono, secara terbuka meminta maaf kepada media.

“Kami menganggap ajakan di media sosial itu sebagai bagian dari emosi kami karena pemerintah Singapura berjanji akan memulangkan Mba Amalia pulang pada Sabtu malam pukul 10 malam, namun tidak terwujud,” kata Singgih. – dengan laporan ANTARA/Rappler.com

Togel SDY