Ajak Jokowi mengenang Wiji Thukul
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Film ‘Istirahatlah Kata-Kata’ akan diputar serentak di seluruh Indonesia pada 19 Januari.
JAKARTA, Indonesia – Keluarga dan sahabat Wiji Thukul berencana mengajak Presiden Joko “Jokowi” Widodo menonton film tentang aktivis yang hilang dalam tragedi 1998 tersebut, Kata Istirahat.
Film ini mengisahkan kehidupan Wiji, seorang aktivis buruh, saat buron di Pontianak, Kalimantan Barat.
Kami berharap Presiden melihat karena dia punya kedekatan pribadi saat menjabat Wali Kota Solo, kata adik Wiji, Wahyu Susilo, di Jakarta, Minggu, 8 Januari.
Selain Wahyu, putri aktivis Fitri Nganthi Wani serta rekan Wiji seperti Nezar Patria dan Raharjo Waluyo Jati juga hadir dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Minggu.
Baik Wahyu maupun Fitri rutin mengunggah kisah pertemuannya dengan Jokowi di media sosial, khususnya membahas penderitaan Wiji dan aktivis lainnya yang masih hilang. Jokowi pernah berjanji akan mengusut tuntas hilangnya Wiji dan aktivis lain yang hilang.
Bahkan, beberapa kali Jokowi mengaku sangat mengenal Siti Dyah Sujirah alias Sipon, istri Wiji, dan anak-anaknya karena sesama warga Solo. Pernyataan tersebut tak dibantah Wahyu.
“Beliau sering memfasilitasi pembacaan puisi Wiji Thukul pada setiap peringatan jatuhnya Orde Baru di rumah dinasnya saat itu (Loji Gandrung),” kata Wahyu yang juga seorang aktivis buruh migran. Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi mengaku menyukai puisi Peringatan karya Wiji, sang penyair pelo.
“Saya tahu Jokowi adalah pengagum ayah saya,” kata Fitri.
Korban penculikan
Rekan Wiji sekaligus sesama korban penculikan tahun 1998, Nezar Patria mengatakan, film ini pertama kali mengangkat kisah korban penculikan. Sisi humanistik Wiji, aktivis dan penulis, tercermin dalam akting Gunawan Maryanto.
Sutradara Yosep Anggi Noen mengatakan, periode hidup Wiji ini dipilih karena permasalahannya yang kompleks. Masa ini paling emosional karena jauh dari keluarga, di Pontianak bersama orang-orang baru, kata Yosep.
“Negara masih punya utang sejarah untuk mengusut kasus aktivis,” kata sutradara muda itu. Hampir 20 tahun telah berlalu, namun belum ada kejelasan nasib mereka, apakah mereka hidup menyamar atau mati.
Film ini juga bertujuan untuk mengajak masyarakat bertanya tentang penderitaan para aktivis.
Banyaknya masyarakat yang bertanya akan membuat negara resah sehingga harus melakukan proses hukum, kata Raharjo Waluyo Djati, aktivis tahun 1998.
Menurutnya, sudah menjadi tugas masyarakat untuk bertanya dan mencari tahu kebenaran nasib mereka yang masih hilang. Toh, pemerintah pernah berjanji akan mengungkapnya dan janji itu harus ditepati.
“Yang kejam dari penculikan adalah menghilangkan apa yang sudah ada,” kata Wahyu.
Undangan menonton Jokowi akan diantar langsung ke Istana Negara pada Selasa, 10 Januari 2017.
Sebelum Jokowi, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri merupakan pejabat yang menonton film ini melalui pemutaran terbatas. Film Kata Istirahat akan disiarkan secara simultan oleh Indonesia pada 19 Januari.—Rappler.com