• March 20, 2026
Aktivis anti daur ulang dipukuli dan dilarang menghadiri Pesta Kesenian Bali

Aktivis anti daur ulang dipukuli dan dilarang menghadiri Pesta Kesenian Bali

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Tak hanya penggusuran, aksi pengeroyokan juga terjadi terhadap aktivis lingkungan hidup yang menentang reklamasi Teluk Benoa di Bali.

BALI, Indonesia — Kehadiran Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 diwarnai tindakan represif aparat terhadap warga yang hendak menonton.

Tak hanya diskors, dua aktivis lingkungan hidup juga ikut dikeroyok dalam peristiwa di Lapangan Niti Mandala Renon, Sabtu, 11 Juni.

Warga yang diintimidasi adalah mereka yang mengenakan pakaian bertuliskan “Bali Tolak Reklamasi”. Mereka datang ke lokasi saat Jokowi sedang berpidato.

Endra Dinatha, misalnya, dihadang aparat untuk masuk lebih jauh ke dalam arena karena mengenakan kaus bertuliskan “Bali Tolak Reklamasi”.

“Tiba-tiba pihak berwenang menghentikan saya dan melarang saya masuk untuk melihat pertunjukan karena saya memakai kaos yang menolak daur ulang,” kata Endra.

Hal serupa juga dialami Agus Saskara. Petugas yang mengenakan kaos bertuliskan “Turn Back Crime” memaksa Agus melepas jaketnya. Agus yang mengenakan pakaian bertuliskan “Desa Pekraman Denpasar Tolak Reklamasi” diminta pulang ke rumah untuk berganti pakaian.

“Setelah saya ganti baju, baru saya bisa lihat,” kata Agus.

“Saya sangat menyayangkan tindakan petugas tersebut. “Hanya karena baju saya dilarang menonton,” ujarnya.

Tak hanya diusir, mereka bahkan dipukul oleh aktivis ForBALI yang gencar menentang reklamasi Teluk Benoa. Mereka antara lain Jaksa Agung Wayan Adi Sumiarta dan Direktur Eksekutif WALHI Bali Suriadi Darmoko.

Suriadi mengatakan, usai adu mulut dengan pria yang diyakini petugas, tiba-tiba terjadi saling dorong dan dorong. Saat itulah dia dipukul di bagian rahang.

“Awalnya kami didorong-dorong. “Saat saya berusaha menghindari terjatuh akibat dorongan, tiba-tiba rahang kanan saya terbentur dan saya terjatuh ke tanah,” aku Suriadi.

Ia mengaku mempertanyakan alasan pelarangan pemakaian kaos Bali Tolak Reklamasi. Menurutnya, tidak ada alasan yang jelas atas pelarangan penggunaan kaos tersebut. Itu sebabnya dia tetap mempertahankan argumennya.

“Kenapa saya curiga yang memukuli saya adalah aparat sipil, karena mereka selalu bilang atas perintah atasannya setiap kali mereka melarang kami memakai baju Tolak Reklamasi,” kata Suriadi.

Ia mendapat pukulan di bagian rahang kanan, sedangkan Adi Sumiarta dipukul sebanyak 3 kali dari belakang di leher kiri.

“Aku tidak melihat wajahnya. Tapi setidaknya polisi bisa mengetahuinya dari video dan foto yang tersebar, kata Adi.

Sementara itu, Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana menyayangkan tindakan yang dilakukan terhadap warga dan aktivis yang hendak menonton PKB kemarin.

“Ini kejadian paling lucu sepanjang 2016. Aparat takut dengan baliho dan kaos Tolak Reklamasi,” kata Gendo.

Gendo sendiri merupakan salah satu orang yang diminta berganti pakaian jika ingin menyaksikan pawai PKB. “Meski ini pesta rakyat, tidak ada pengumuman apapun tentang syarat berpakaian. Itu hanya kaos biasa. “Sungguh parah dan paranoid, aktivis itu dipukuli hingga terjatuh,” ujarnya. —Rappler.com

Result HK