Alasan ‘Bang Maman Kali Pasir’ harus meninggalkan Jakarta
keren989
- 0
Ada apa, Bu? Sebagai cerita yang berkembang di masyarakat dan dklaim sebagai cerita rakyat, Bang Maman tidak salah. Ceritanya, jika dimaknai secara komprehensif, bertujuan untuk mengajarkan masyarakat agar tidak materialistis.
Namun saat Bang Maman menjadi perbincangan anak sekolah, media sosial pun heboh. Mengapa? Ini adalah cerita pendek dari beberapa sumber:
Bang Maman adalah pedagang buah di Kali Pasir, Jakarta. Ia menikahkan putranya yang bernama Ijah dengan Salim. Ayah Salim adalah orang kaya bernama Pak Darip. Singkat cerita, Pak Darip kemudian meninggal dan meninggalkan sebuah taman yang luas untuk Salim.
Sepeninggal ayahnya, Salim yang tidak pandai merawat kebun meminta seorang pria bernama Kusen untuk merawat kebunnya. Namun Kusen kemudian ketahuan menipu Salim dan menjual kebunnya. Akibatnya, Salim jatuh miskin.
Salim yang miskin tidak bisa lagi memberikan uang kepada Bang Maman. Akhirnya Bang Maman meminta Ijah menceraikan Salim. Permintaan ini ditolak oleh putrinya. Tak kehabisan strategi, Bang Maman meminta seorang perempuan bernama Patme menemui Ijah dan mengaku sebagai simpanan Salim. Ijah akhirnya menceraikan Salim.
Lalu datanglah Ujang, seorang perampok yang mengaku kaya dan ingin membebaskan Ijah. Bang Maman menerimanya. Di hari pernikahan Ijah dan Ujang, polisi datang menangkap Ujang.
Penulis cerita ini mungkin mempunyai niat baik, ingin mengajarkan kepada orang-orang bahwa menjadi materialistis tidak akan membawa kebaikan. Namun ketika cerita dengan berbagai variasinya ini dijadikan bahan ajar sekolah dasar pada tahun 2012, para orang tua pun heboh.
Setidaknya saat itu, diketahui ada dua penerbit yang menggunakan cerita Bang Maman dalam buku Pendidikan Lingkungan Hidup Budaya Jakarta (PLBJ), Penerbit Erlangga dan Media Kreasi. Pada bulan Agustus 2012, Dilaporkan bahwa buku tersebut telah ditarik.
Kontroversi Bang Maman kembali berlanjut tahun ini. Seorang warganet bernama Agung Soeharto mengatakan, kisah Bang Maman kembali muncul di pekerjaan rumah putranya yang bersekolah di SD Negeri di Pasar Rebo. Pekerjaan rumah yang diberikan baru-baru ini diambil dari soal-soal ujian lama.
Dalam status Facebooknya tertanggal 21 Mei 2016, ia menyebutkan tak hanya dijadikan pekerjaan rumah, cerita Bang Maman juga ada di buku pelajaran. Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ) anaknya. Buku tersebut ditulis oleh Sri Budi.
Saya mencari buku tersebut, dan mendapat informasi bahwa buku tersebut diterbitkan oleh Aryaduta. Buku ini masih diperdagangkan on line.
Bang Maman pasti DO
Saya bukan tipe orang yang setuju dengan pelarangan buku. Buku merupakan salah satu bentuk kebebasan berekspresi individu yang tidak boleh dibatasi. Lagipula, pembaca juga bisa memilih apa yang ingin dibacanya.
Namun lain halnya bila buku tersebut dijadikan sebagai buku pelajaran wajib bagi siswa kelas 2 SD yang kemampuan menafsirkannya pada umumnya masih terbatas. Mereka tidak punya pilihan untuk tidak membaca, apalagi jika dijadikan pekerjaan rumah.
Membaca melibatkan proses komunikasi yang kompleks, ada informasi yang disampaikan oleh sumber dan ada pembaca yang menafsirkan pesan tersebut. Apakah pesan yang disampaikan informan akan sama dengan pesan yang diterima pembaca? Itu tidak akan pernah sama persis. Hal ini dipengaruhi oleh kerangka pengalaman Dan kerangka acuan dari pembaca.
Oleh karena itu, tidak salah bila Umberto Eco mengatakan, “Penulis harus mati segera setelah dia selesai menulis (penulis harus meninggal setelah menyelesaikan tulisannya)“. Karena terlepas dari tujuan mulia penulis dan konteks penulisan, maka makna yang ada di kepala pembaca akan berbeda dengan apa yang dimaksudkan penulis.
Di tangan pembaca, dalam pandangan konstruktivis, terjadi interaksi antara teks dan pembaca. Pembaca akan menceritakan apa yang mereka alami, sikap mereka dan apa yang mereka ketahui ketika mereka menafsirkan teks tersebut. Proses negosiasi pesan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial.
Dalam pandangan subjektivis, makna bergantung sepenuhnya pada penafsiran pembaca. Pembaca menciptakan kembali maknanya.
Sesederhana ini. Siswa kelas dua sekolah dasar yang memperoleh pendidikan agama yang cukup dan nilai-nilai yang baik, serta mempunyai kemampuan memahami teks secara komprehensif, akan memahami setelah membaca teks bahwa Bang Maman adalah “Orang jahat” dalam cerita tersebut, dan sikapnya harus dihindari.
Namun, siswa sekolah dasar yang belum berkecukupan, atau belum mendapatkan nilai-nilai luhur yang mengajarkan kita untuk menjauhi materialisme, mungkin saja salah tafsir. Dia bisa saja menilai, sikap oportunistik Bang Maman patut ditiru, demi menjamin kelangsungan hidup.
Ia bisa menilai institusi pernikahan bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan ketika badai keuangan melanda rumah tangga. Parahnya, ia boleh saja menilai untuk menikah, asalkan pasangannya kaya.
Seberapa besar kemungkinan penafsiran bebas ini akan membawa ke arah yang buruk? Dapat dilihat apakah dia pembaca yang baik atau buruk.
Pembaca yang baik membaca pesan secara akurat dan melihat hubungan antara kalimat dan kalimat lainnya. Mereka mencoba memantau pemahaman mereka sendiri dengan mengajukan pertanyaan, memparafrasekan, dan merefleksikan apa yang mereka baca.
Sebaliknya, pembaca yang buruk biasanya kesulitan untuk tampil penguraian kode arti. Seringkali mereka hanya membaca dan memahami sebagian saja, dan seringkali gagal memahami pesan utama dari bacaan tersebut. Pembaca yang buruk juga biasanya memiliki pemahaman yang minim terhadap teks.
Jadi, mari kita analisa kemampuan siswa sekolah dasar di ibu kota. Apakah mereka mempunyai keterampilan yang cukup untuk membaca teks secara keseluruhan dan menafsirkannya sesuai dengan harapan penulis?
Dapatkah kita yakin bahwa mereka tidak akan membaca teks tersebut sepotong-sepotong agar tidak membuat penafsiran bebas terhadap “sikap materialisme”? Apakah siswa sekolah dasar terbiasa berpikir kritis terhadap apa yang mereka baca?
Kalau jawabannya kebanyakan tidak, saatnya membuat Bang Maman keluar dari sekolah! —Rappler.com
Camelia Pasandaran merupakan mantan jurnalis media cetak dan online. Beliau merupakan dosen komunikasi antar budaya dan jurnalisme di Universitas Multimedia Nusantara (UMN).
BACA JUGA: