• April 8, 2026

Angkat besi, jangan jadi ‘anak tiri’

JAKARTA, Indonesia — Perolehan medali Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 memang meleset dari target awal: dua medali emas. Target meleset dalam tolak peluru.

Namun hasil 1 emas dan 2 perak di semua cabang olahraga lebih baik dibandingkan Olimpiade London 2012. Satu emas bulu tangkis berhasil mengembalikan tradisi emas Indonesia di Olimpiade.

Karena itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi enggan disebut gagal. Baginya, satu emas dan dua perak merupakan peningkatan besar dibandingkan Olimpiade 2012 yang tak mampu menyumbang satu pun medali emas.

Indonesia hanya meraih 1 medali perak dan 1 perunggu di Olimpiade London empat tahun lalu.

“Ini adalah hadiah terbaik. Tujuan kami adalah membawa pulang emas dan hasil ini menunjukkan dominasi Indonesia dalam meraih emas. “Kembalinya tradisi emas telah tercapai,” ujarnya.

(BACA: Indonesia Sukses Selesaikan Misi ‘Penjemputan Emas’ di Olimpiade Rio)

Imam sebenarnya melihat peluang untuk meningkatkan perolehan medali di Olimpiade Tokyo 2020. Prestasi di bidang atletik, angkat besi, dan bulu tangkis kemungkinan akan meningkat dalam empat tahun ke depan.

Di balik itu semua, suka atau tidak, harus diakui ada target emas yang tidak bisa diraih Eko Yuli Irawan. Kekecewaan juga ditunjukkan Eko dan pelatihnya setelah dijemput sekembalinya ke Indonesia beberapa waktu lalu.

“Kami sebenarnya belum puas, karena kami yakin bisa mendapatkan emas. Lawannya ternyata luar biasa, mampu meraih medali di luar ekspektasi dan perhitungan, kata Eko.

Persiapan selalu kurang

Di balik pernyataan tersebut, sebenarnya ada beberapa cabor yang awalnya mengeluhkan persiapan. Mereka tidak mendapatkan peralatan tepat waktu. Oleh karena itu, perbaikan yang perlu dilakukan adalah pada manajemen persiapan.

“Mohon maaf, tapi memang ada keterlambatan perlengkapan, bahkan atletik sudah lama meminta standar lapangan, tapi sudah dibangun sebelum pemberangkatan,” kata sumber yang enggan disebutkan namanya.

Ia membandingkannya dengan negara lain. Secara umum, para atlet olimpiade telah dipersiapkan sejak lama. Dia mencontohkan Thailand yang langsung melakukan persiapan panjang, dengan program terstruktur usai Olimpiade London 2012.

Indonesia baru mengganti Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) setelah Suwarno pada Oktober 2015 atau kurang dari setahun setelah Olimpiade Rio. Program ini dipersiapkan hanya secara sederhana. Maju cepat ke hanya beberapa bulan.

Belum bisa mengulang Sydney 2000

Perolehan medali Indonesia masih jauh dari ekspektasi di Olimpiade tersebut. Ketua Satlak Prima Sutjipto bahkan berani sesumbar Indonesia sebenarnya menargetkan tiga medali emas, namun gagal.

Komentar tersebut berbeda dengan saat ia berangkat ke Brasil yang mengincar dua medali emas.

Meski mampu meraih emas, jumlah medali yang diraih atlet Indonesia di Olimpiade kali ini masih lebih sedikit dibandingkan Olimpiade sebelumnya. Total Indonesia meraih 3 medali, satu emas dan dua perak.

Jika dihitung mundur, Indonesia kehilangan tradisi emasnya di London 2012. Mereka hanya meraih 2 medali, yakni satu perak dan satu perunggu.

Pada Olimpiade Beijing 2008, Indonesia mengoleksi 5 medali, dengan rincian satu emas, satu perak, dan tiga perunggu. Jumlah tersebut lebih baik dibandingkan Olimpiade Athena, Yunani tahun 2004 yang mengumpulkan 4 medali dengan rincian satu emas, satu perak, dan dua perunggu.

Indonesia merupakan peraih medali terbanyak di Olimpiade Sydney tahun 2000. Saat itu, pasukan Merah Putih berhasil meraih 6 medali dengan rincian satu emas, tiga perak, dan dua perunggu.

Pada Olimpiade Atalanta 1996, Indonesia mengoleksi 4 medali yakni satu emas, satu perak, dan dua perunggu. Rekor medali emas satu edisi Olimpiade sejauh ini baru terjadi satu kali, yakni pada edisi 1992, di Barcelona.

Saat itu, dua emas, dua perak, dan satu perunggu menjadi prestasi grup Merah Putih. Ini merupakan lompatan yang signifikan, setelah Indonesia mampu meraih medali Olimpiade pertamanya di Seoul pada tahun 1988 dari cabang olahraga panahan dengan medali perak.

Latihan nasional angkat besi harus diwujudkan

Bulu tangkis menyumbang medali di olimpiade, itu merupakan hal yang wajib dan wajib dilakukan oleh cabang tepok bulu.

Dari masa kemerdekaan hingga saat ini, itulah prestasi-prestasi di bidang olahraga yang sangat membanggakan bagi Indonesia, dengan meraih medali tertinggi di ajang olahraga terbesar dunia.

Namun yang menarik perhatian dan patut diperjuangkan adalah membangun prestasi berkelas di cabang olahraga lain. Melihat medali yang diraih di Olimpiade, tanpa melakukan latihan nasional seperti itu Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) di Cipayung, tampaknya atlet angkat besi bisa meraih medali.

Berbeda dengan olahraga panahan yang sejak tahun 2008 belum mampu mencapai hasil yang tinggi, namun tembakannya sangat konsisten. Banyak medali yang mereka raih dan tak pernah gagal menyumbang prestasi Indonesia di Olimpiade.

Yang perlu digarisbawahi, tanpa Pelatnas prestasi angkat besi selama ini sangat luar biasa. Di Olimpiade, Indonesia mengumpulkan total 30 medali. Dari bulutangkis 19 medali, tolak peluru 10 medali, dan panahan hanya 1 medali.

Bayangkan bagaimana jika angkat besi memiliki pelatihan nasional sepanjang tahun, dengan program jangka panjang, berkelanjutan, dan tempat yang cocok dan permanen?

Banyak fasilitas milik pemerintah yang bisa dimanfaatkan oleh para atlet angkat besi. Di Cibubur misalnya. Lokasi ini sangat dekat dengan RS Olahraga Nasional, fasilitas olah raga juga memadai. Sejumlah alat ilmu olahraga juga tersedia, akses mudah.

Pengelolaan Pusdiklat Angkat Besi Nasional bersifat terpusat, seperti halnya Pusdiklat Cipayung. Dengan raihan 10 medali dan saat ini menyumbang perak berturut-turut, Pelatnas Angkat Besi bisa menghadapi Olimpiade 2020 di Tokyo.—Rappler.com

Live Result HK