• March 21, 2026
Apa dampak Brexit terhadap Indonesia?

Apa dampak Brexit terhadap Indonesia?

JAKARTA, Indonesia (DIPERBARUI) — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa tidak akan berdampak langsung terhadap Indonesia.

“Efeknya bagi kami sebenarnya tidak besar, tapi roh Perlindungan ini akan terjadi di banyak negara, kata Kalla, Jumat 24 Juni di Jakarta.

Dalam referendum bersejarah, Inggris memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa (Brexit, atau Inggris hingga saat ini). 52 persen warga Inggris memilih opsi untuk tetap tinggal di Uni Eropa.

(BACA: Brexit: Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa)

Menurut Kalla, Indonesia akan terus menjaga hubungan baik dengan Inggris dan Uni Eropa tanpa terpengaruh sentimen kemenangan Brexit.

“Indonesia sebenarnya sama. Mengekspor ke Inggris dan mengekspor ke Uni Eropa sama saja. “Konsekuensinya lebih bersifat internal di Uni Eropa,” katanya.

Ia mengatakan, sentimen negatif untuk meningkatkan proteksi juga bisa terjadi antara Inggris dan Amerika Serikat yang saat ini memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Uni Eropa.

“Selain itu, situasi perekonomian di Amerika juga sedang bermasalah,” ujarnya.

Meski tidak berdampak besar bagi Indonesia, Kalla mengakui Brexit akan menimbulkan sentimen negatif bagi investor asing yang menanamkan modalnya di Inggris, termasuk investor asal Indonesia.

“Itu (Brexit) juga bisa menyebabkan kebijakan yang sama di banyak negara, buktinya investasi di Inggris dari asing kini mulai menurun karena tidak bisa masuk ke Eropa dengan bebas, sehingga saham-saham dengan kisaran yang luas menjadi negatif,” dia dikatakan.

Hubungan bilateral kedua negara tetap sama

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan dampak hasil referendum Brexit terhadap politik Indonesia sangat terbatas. Prioritas kemitraan Indonesia dengan Inggris, serta kemitraan Indonesia-Uni Eropa, tidak akan berubah.

“Indonesia meyakini hasil referendum tidak akan mempengaruhi hubungan bilateral Indonesia dengan Inggris dan merupakan kepentingan bersama kedua negara untuk terus mendorong kerja sama di berbagai bidang strategis,” kata Retno, Jumat, dalam keterangan tertulisnya. . 24.

Sementara terkait kerja sama di bidang ekonomi, Retno mengatakan, Indonesia belum mengkaji tindak lanjut penarikan perjanjian Inggris-Uni Eropa.

“Indonesia memiliki perjanjian kerja sama dalam kemitraan komprehensif CEPA dan Lisensi FLEGT,” ujarnya.

Selain itu, hasil referendum di Inggris belum tentu langsung berlaku, karena Pasal 50 Traktat Uni Eropa harus diaktifkan dan proses negosiasi antara Inggris dan Uni Eropa harus dilakukan untuk menyepakati Withdrawal Agreement. .

‘Tidak banyak perdagangan dengan Inggris

Mantan Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pangestu mengatakan dampak langsung dan jangka pendek tidak terasa bagi Indonesia.

“Karena kita tidak memiliki banyak perdagangan dengan Inggris,” kata Mari kepada Rappler pada hari Jumat.

Namun menurutnya, dalam jangka pendek akan terjadi kerentanan di pasar uang.

“Poundsterling dan euro akan memimpin aliran kerentanan pasar keuangan ini. Mata uang dolar AS akan menguat. Tentu dampaknya rupiah akan melemah,” kata Mari.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, meski Inggris keluar dari Uni Eropa, bukan berarti perekonomian negara tersebut akan membaik karena mayoritas perdagangan Inggris saat ini dilakukan dengan negara-negara Uni Eropa.

“Ketika Inggris meninggalkan Uni Eropa, Inggris pasti akan mulai mencari hambatan dalam perdagangan dengan UE,” kata Darmin.

Pelajaran untuk Indonesia dan ASEAN

Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) tidak akan berdampak langsung terhadap kinerja pasar modal Indonesia.

“Saya kira dampak Brexit tidak langsung dan tidak signifikan,” kata Direktur Utama BEI Tito Sulistio, Kamis 23 Juni.

Tito mengatakan, dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa masih belum diteliti sepenuhnya. Jika tidak ada perubahan drastis terhadap perekonomian dunia, maka dampak negatifnya tidak akan terasa.

“Masih harus dilihat seberapa besar gangguan yang akan dialami negara-negara Uni Eropa jika Inggris hengkang,” katanya.

Menurut Tito, negara yang akan terkena dampak negatif langsung adalah negara seperti Yunani, karena ketika Inggris bergabung dengan Uni Eropa, negara tersebut merasakan dampak positifnya, yakni mata uangnya menguat.

Meski demikian, Tito mengakui referendum Inggris memang berdampak pada pasar global dalam beberapa hari terakhir. Jadi, faktor peringatan tetap perlu dilakukan.

“Brexit bisa menjadi pembelajaran bagi Indonesia tentang hubungannya dengan negara-negara ASEAN. Harus ada kesepahaman antar anggota ASEAN untuk saling menguntungkan. Munculnya referendum karena Inggris merasa senang jika berjalan sendiri,” ujarnya.—Rappler.com

BACA JUGA:

Data Sydney