Api yang tak pernah padam di rumah pengasingan Rengasdengklok
keren989
- 0
Rumah Sejarah Rengasdengklok menyaksikan Bung Karno dan Bung Hatta menyusun rancangan proklamasi. Bagaimana keadaan saat ini?
RENGASDENGKLOK, Indonesia — Seringkali sebagian dari kita berpikir bahwa waktu akan memudarkan suatu peristiwa, bahkan akan menenggelamkan kenangan yang terkandung di dalamnya. Namun hal tersebut tidak terjadi di daerah yang masih menjadi bagian Kabupaten Karawang, yakni Rengasdengklok. Kawasan tersebut semakin menunjukkan bukti kemajuan sebuah kota, namun masih cukup asri dengan hamparan sawah dan perkebunan yang terbentang disekitarnya.
Jika menyebut Rengasdengklok, sebagian besar orang pasti ingat salah satu peristiwa sejarah penting yang terjadi di Indonesia – dimana terjadi “penculikan” Founding Fathers, Soekarno dan Mohammad Hatta, dengan tujuan untuk mempercepat kemerdekaan.
Peristiwa ini terjadi ketika para pemuda antara lain Chaerul Saleh, Soekarni dan Wikana menginginkan proklamasi kemerdekaan segera terlaksana tanpa campur tangan penjajah Jepang. Berdasarkan alasan tersebut, mereka akhirnya “mengamankan” Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.
Semua bermula ketika Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh pemuda dari Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945 – sehari sebelum hari proklamasi.
Di balik kejadian tersebut tersimpan kisah sebuah keluarga yang masih menjaga api semangat pengabdian 72 tahun lalu. Semangat yang tak luntur hingga saat ini adalah melestarikan sejarah agar tetap abadi dan tak lekang oleh waktu. Keluarga tersebut merupakan keturunan Djiaw Kie Siong, seorang petani yang rumahnya sedang digunakan saat kejadian.
Semua bermula ketika Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh pemuda dari Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945 – sehari sebelum hari proklamasi. Sesampainya di sana, kedua sosok bertubuh besar itu terlebih dahulu ditempatkan di markas Pembela Tanah Air (PETA).
Selain itu juga demi alasan keamanan agar tidak terdeteksi oleh tentara Jepang dan selain itu Bung Karno membawa istri dan anaknya, Guntur Soekarnoputra yang masih balita. Terakhir, mereka ditempatkan di rumah yang paling dekat dengan markas PETA di tepian Sungai Citarum. Rumah itu milik Djiaw Kie Siong.
Meski belum mengetahui secara jelas apa yang terjadi saat itu, Djiaw Kie Siong kemudian membawa seluruh keluarganya ke rumah kerabatnya karena Bung Karno dan Bung Hatta akan menempati rumah tersebut untuk sementara.
Di rumah itulah Bung Karno dan Bung Hatta memulai proses penulisan rancangan proklamasi. Sempat terjadi perdebatan antara kedua tokoh tersebut dengan kalangan muda. Golongan muda menginginkan proklamasi dilaksanakan secepat-cepatnya tanpa melalui Panitia Perencanaan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dianggap dipengaruhi Jepang. Namun Bung Karno tetap menegaskan agar proklamasi tetap dilaksanakan sesuai prosedur PPKI.
“Pada tanggal 15 Agustus 1945, sebenarnya bendera Merah Putih dikibarkan dan proklamasi dibacakan di markas PETA. “Tetapi pada tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta dijemput, sehingga mereka membacanya di Jakarta,” kata Ny. Lanny, pemandu Rumah Sejarah Rengasdengklok yang merupakan menantu Djiaw Kie Siong, mengatakan.
Ia menambahkan, setelah Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta, ada beberapa sobekan kertas yang rupanya digunakan untuk menyusun rancangan proklamasi. Namun karena dikhawatirkan jejak kedua penerbit tersebut akan diketahui tentara Jepang, maka kertas sobek tersebut dibakar untuk menghilangkan jejaknya.
Pada tahun 1957, ketika mengetahui teritip kerap menghantam bantaran Sungai Citarum, Djiaw Kie Siong berinisiatif memindahkan rumahnya sekitar 150 meter dari bantaran sungai untuk melindungi rumah bersejarah tersebut. Setahun kemudian, lokasi bekas rumah dirusak oleh Lumbung sehingga kini menjadi aliran Sungai Sitarum.
Inisiatif ini ternyata sangat tepat sehingga rumah layaknya ini masih bisa “bercerita” kisahnya hingga saat ini.
“Rumah ini masih asli meski dipindahkan dari bantaran Sungai Citarum. Namun furnitur bekas Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Museum Wangsit Siliwangi Bandung, kata Lanny.
Perabotan yang ada saat ini masih milik Djiaw Kie Siong karena pada saat itu masih memiliki jenis yang sama dengan yang digunakan Bung Karno dan Bung Hatta. Tapi ubin di lantai hari ini asli.”
Keluarga Djiaw Kie Siong selalu siap di depan rumah menyambut hangat setiap pengunjung yang datang. Bahkan, pertanyaan pengunjung juga akan dijawab dengan baik sehingga pengunjung mendapat wawasan sejarah mengenai rumah tersebut.
Tak heran, ketika Rappler menyambangi rumah bersejarah ini, para pengunjung seakan tak pernah berhenti. Pengunjung tidak hanya datang dari Karawang, Jawa Barat saja, namun pengunjung juga banyak yang berasal dari luar kota. Bahkan, ada pengunjung yang membawa keluarga besarnya mengunjungi situs bersejarah tersebut.
Saat ini rumahnya masih dirawat dengan sangat baik oleh keluarga Djiaw Kie Siong. Pihak keluarga masih mempertahankan aura bersejarah rumah tersebut. Pemandu mengatakan, Djiaw Kie Siong tidak memberikan pesan khusus kepada keluarganya sebelum meninggal. Namun beliau berpesan agar kita selalu menjaga rumah ini karena bangunan ini bersejarah dan pernah dihuni oleh kedua mubaligh tersebut pada saat rancangan proklamasi dibuat.
Sejarah adalah masa lalu yang benar. Namun sejarah berguna dalam mempersiapkan masa depan yang jauh lebih besar. Djiaw Kie Siong memang telah tiada dan namanya kerap dihilangkan dari buku pelajaran sejarah, namun api baktinya terhadap negara masih berkobar di Rumah Sejarah Rengasdengklok. —Rappler.com
BACA JUGA: