• February 8, 2026
Arti perawan

Arti perawan

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteks, selalu merujuk ke artikel lengkap.

Seorang wanita mungkin tidak pernah menyadari bahwa penanaman pemahaman yang menjunjung tinggi nilai-nilai patriarki sudah ada sejak kecil.

“Wah, senangnya punya anak perawan, bisa bantu masak dan bersih-bersih rumah.”

Kalimat itu terdengar familiar bagiku saat aku memasuki masa dimana masyarakat memberiku gelar ‘Perawan’. Wanita yang sudah memiliki alat reproduksi aktif dan belum menikah, mungkin inilah yang menjadi dasar pemberian gelar ‘Virgo’.

Perawan merupakan fase baru bagi seorang wanita. Ia berhadapan dengan realita yang menampilkan perempuan sebagai kelas dua. Saya yakin kalimat di awal artikel ini adalah kalimat yang sering didengar remaja putri. Selain itu, masih banyak kalimat lainnya, seperti:

“Sesukses apapun wanita, dia harus mengelola dapur pada akhirnya.”

“Menjadi perjaka tidak boleh malas. Nanti suaminya akan dibawa pergi.”

Dan masih banyak lagi yang menyiratkan seolah-olah perempuan ditakdirkan untuk menyerahkan seluruh otoritas hidupnya di tangan laki-laki. Seorang perawan dipaksa untuk menyetujui bahwa keperawanannya adalah masa belajar untuk persiapan legalisasi perbudakan oleh laki-laki melalui pernikahan di masa depan.

Seorang wanita mungkin tidak pernah menyadari bahwa penanaman pemahaman yang menjunjung tinggi nilai-nilai patriarki sudah ada sejak kecil. Pemisahan peran antara perempuan dan laki-laki demikian diatur oleh keluarga. Perempuan bekerja di dalam rumah, dan laki-laki bekerja di luar rumah. Hal itu baru bisa dirasakan ketika seorang wanita sudah menginjak masa ‘perawan’nya.

Sejak kecil, anak perempuan disuapi nilai-nilai yang dianggap mulia, seperti berpakaian tertutup, banyak berada di dalam ruangan, belajar menangani dapur, dan lain sebagainya yang berbanding terbalik dengan anak laki-laki.

Hal-hal ini kemudian harus diterapkan pada kepribadian seorang perawan. Jalur budaya yang dibangun sejak lama harus dilalui dengan perawan. Lurus tanpa memutar atau memutar.

Menjadi perawan adalah awal bagi seorang wanita untuk menyadari bahwa dunia melihat sekeliling melalui mata laki-laki. Salah satu contoh yang paling nyata adalah ketika seorang wanita berjalan sendirian di malam hari dengan pakaian yang minim.

Masyarakat memandangnya dari kacamata nafsu laki-laki sehingga perempuan yang keluar rumah pada malam hari dianggap membahayakan dirinya sendiri karena laki-laki selalu mengancam keselamatannya.

Dari contoh tersebut, seorang perempuan, khususnya yang masih perawan, memiliki dua tugas penting. Pertama, bagaimana menyembunyikan tubuhnya dari mata pria penyusup.

Kedua, bagaimana caranya agar selaput daranya tidak robek oleh orang yang tidak diinginkan. Lagi-lagi, seorang dara baru menyadari bahwa pandangan publik seolah disalahkan atas terciptanya tubuh perempuan.

Sebagai seorang ‘Virgin’ saya sangat mengerti bagaimana pandangan masyarakat dan norma-norma yang berlaku bagi seorang wanita yang dianggap perawan. Dalam keluarga saya, saya diharapkan lebih mengerti tentang pekerjaan rumah tangga dan lebih banyak tinggal di rumah daripada saudara laki-laki saya.

Di masyarakat saya harus melindungi diri dari pandangan laki-laki di setiap sudut jalan. Ini bertujuan untuk mempersiapkan diri di masa depan sebagai budak yang sah dengan lapisan perut yang utuh.

Budaya patriarki yang kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia menganggap ‘Perawan’ seolah-olah sebagai organisme yang “tidak tahan lama” dan harus disimpan dalam jendela tanpa bergerak bebas. —Rappler.com

Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan di Magdalena.co

Atalya Puspa, perempuan yang menulis karena kegelisahannya menjadi perempuan. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia.

Data Hongkong