Bagaimana ISIS merekrut jihadis muda?
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Film Selfie Jihad oleh Noor Huda Ismail mengungkap bagaimana Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) merekrut generasi muda untuk bergabung dengan tentara mereka. Rupanya mereka tidak menyentuh ideologi agama, melainkan pencarian jati diri.
Cara tersebut Huda tunjukkan melalui kisah Teuku Akbar Maulana, remaja 17 tahun asal Aceh, yang hampir menjadi tentara Abu Bakr Al-Baghdadi.
Inilah yang perlu Anda ketahui tentang taktik baru ISIS untuk menjangkau generasi muda:
1. Targetkan melalui media sosial
ISIS tidak lagi bergantung pada pertemuan kelompok atau pengajaran. Propaganda mereka di media sosial, baik melalui Facebook, memberikan kesan bahwa para prajurit yang memajang fotonya di media sosial tampil “maskulin dan tangguh”.
Salah satu yang terpikat adalah Akbar yang melihat foto seniornya, Yazid, membawa senapan AK47 di halaman Facebook-nya. Sejak tahun 2014, senior tersebut telah tinggal di Suriah selama 5 bulan sebagai pejuang ISIS.
“Waktu saya lihat dia bawa pistol, kelihatannya gagah banget, keren,” ujarnya dalam diskusi di Ruang Baca, Jakarta, Minggu, 25 Juli 2016. Belum lagi, banyak komentar yang memuji keberanian Yazid dalam aksi tersebut. foto. , sehingga Akbar ingin mengikuti jejaknya. .
Pada April 2014, ia menghubungi Yazid untuk menanyakan kondisi di Suriah. Jawaban yang diberikan Yazid menggambarkan ISIS sebagai surga dunia.
Akbar yang saat itu masih berusia 16 tahun dan sedang mencari jati dirinya, akhirnya tergiur untuk mengikuti seniornya yang berasal dari Surabaya.
Huda mengatakan, arah propaganda kelompok radikal ini akan terus bergeser ke arah itu. Tidak hanya melalui Twitter, Facebook dan lain-lain. Bahkan fitur seperti WhatsApp sudah mulai digunakan untuk distribusi. “Pemerintah harus melakukan pendekatan sosial untuk mengatasi hal ini,” ujarnya.
2. Bukan ideologi
Huda melihat ketertarikan para jihadis muda untuk bergabung dengan ISIS bukan lagi karena ideologi, melainkan ada beberapa faktor lain. “Kalau kita lihat, mereka mau datang karena diundang oleh temannya. Jadi ada lampiran atau lampiran di sana,” katanya.
Ideologi baru tersebut kemudian ditanamkan setelah mereka bergabung dengan kelompok tersebut. Jadi, salah jika kita berpikir bahwa setiap orang tertarik untuk bergabung dengan kelompok ekstrem atau jaringan teroris karena ideologi yang sama.
“Memang ada yang seperti itu, tapi dari 1.255 teroris yang ditangkap, yang benar-benar paham ideologinya sangat sedikit,” kata pria yang pernah berprofesi sebagai jurnalis ini.
Jika sudah ada teman dan lingkungannya nyaman maka akan sangat mudah bagi seseorang untuk bergabung dalam suatu grup.
Huda melanjutkan, proses rekrutmen saat ini sangat berbeda dengan saat banyak WNI yang berangkat ke Afghanistan pada tahun 1980-an. Huda pertama kali menjelaskan fenomena tersebut dengan bantuan metode kolektif.
“Kalau dulu mereka mengumpulkan, kalau sekarang hanya saling pengertian lewat media sosial lalu keluar,” ujarnya.
3. Masalah keluarga
Kedekatan dengan orang tua juga berperan penting bagi seorang anak dalam memutuskan apakah akan bergabung dengan ISIS atau tidak. Akbar adalah salah satu contoh yang menggagalkan niatnya menjadi tentara di Suriah karena pemikiran orang tuanya.
Ia hanya perlu melintasi perbatasan Turki menuju Suriah, sebelum ia tiba-tiba teringat bahwa ia memiliki dua orang tua yang harus ia bahagiakan. Pada akhirnya, dia memilih tidak bergabung dengan ISIS dan kembali ke Aceh.
“Saya dan orang tua dekat (hubungannya), waktu di Turki juga sering Skype. Minimal seminggu sekali, ujarnya. Ibunya pun mengungkapkan kesedihannya saat menunjukkan foto Yazid membawa senjata.
“Kasihan, bagaimana kabar orang tuanya?” ucap Akbar menirukan ibunya. Kata-kata tersebut ampuh untuk mengukuhkan niatnya untuk kembali ke tanah air.
Sementara itu, Huda sendiri mendapati remaja lain yang berangkat ke sana –bahkan yang sudah meninggal– ternyata tidak terlalu harmonis dengan orang tuanya. Bahkan ada yang pergi tanpa memberi tahu keluarganya.
Seperti Yazid, dia pergi begitu saja sehingga ibunya meminta teman-temannya di Turki untuk membujuknya agar kembali. “Tapi apa, orang tuanya hanya bertanya TIDAK penonton, terutama teman-teman,” kata Akbar.
Belakangan terungkap bahwa Yazid sangat tertutup dan jarang membicarakan banyak hal, bahkan dengan keluarganya. Waktunya dihabiskan di depan layar komputer menjelajahi dunia maya.
Huda mengatakan, perlu ada refleksi dari para pengurus anak untuk mewaspadai fenomena tersebut. “Koneksi itu penting,” katanya.
Daripada meninggalkan anak di depan komputer, lebih baik ciptakan aktivitas luar ruangan yang bermanfaat.
4. Pendekatan yang berbeda
Menemukan perbedaan motif, kata Huda, memerlukan metode penanggulangan dan pencegahan yang disesuaikan. “Kita tidak bisa menyamakan mereka yang berideologi dan yang bermotif lain,” ujarnya.
Hal ini juga yang mendorong terciptanya film Selfie Jihad, sebagai upaya memahami ide bagi remaja. ISIS juga sering menyiarkan video propaganda, sehingga hal ini juga patut ditentang.
Lagipula, tidak ada seorang pun yang terlahir sebagai teroris. Mereka yang ditangkap sekarang, kata Huda, sudah keluar dari proses. Negara harus berperan dalam memerangi proses ini untuk mencegah munculnya benih-benih baru.
Hingga April 2016, jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di Suriah diperkirakan berjumlah sekitar 1000 orang. Sedangkan jumlah yang bergabung dengan ISIS sendiri, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), berjumlah sekitar 100 orang 500 orang beberapa dari mereka bergabung dengan kelompok ISIS. -Rappler.com
BACA JUGA: