• March 1, 2026

Bagaimana kabar mantan atlet Olimpiade Indonesia?

Susi Susanti dan Alan Budikusuma memproduksi raket; Kisah 3 Atlet Panahan Putri Difilmkan, Rexy Mainaki Menjadi Pelatih PBSI

JAKARTA, Indonesia — Prestasi Indonesia di ajang olahraga global Olimpiade patut dibanggakan.

Sejak Olimpiade Barcelona tahun 1992 hingga Beijing 2008, kontingen Indonesia selalu meraih medali emas.

Baru pada Olimpiade London 2012 Indonesia gagal membawa pulang medali emas.

Namun tahukah Anda jika atlet bulutangkis Susi Susanti menjadi orang pertama yang menyumbangkan medali emas untuk tim Merah Putih? Ataukah Indonesia pertama kali meraih medali berkat penampilan “3 Dara” di Olimpiade Seoul 1988?

Bagaimana kabar Susi saat ini? Lalu bagaimana kehidupan atlet Indonesia lainnya yang sukses di Olimpiade?

Susi Susanti dan Alan Budikusuma

Emas Olimpiade pertama Indonesia dianugerahkan Susi, lewat kemenangannya pada kategori bulu tangkis tunggal putri, di Olimpiade Barcelona 1992.

Untuk pertama kalinya bulu tangkis menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade.

Saat itu, Alan Budikusuma juga menjadi juara di kategori bulu tangkis tunggal putra.

Wanita kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, tahun 1971 ini juga menyumbangkan medali perunggu di Olimpiade Atlanta 1996. Bersama Alan – yang menikah dengannya pada 1997 – Susi menjadi pembawa obor Olimpiade 2004 di Athena.

Setelah tak lagi menjadi atlet, Susi dan suaminya memulai dari awal lagi. Alan mencoba berjualan mobil, menjadi agen alat olah raga buatan Malaysia, bahkan menjadi pelatih Pusat Latihan Nasional (Pelatnas).

Ibu tiga anak ini membuka toko pakaian, bersama suaminya mendirikan Olympic Badminton Hall di Jakarta, dan memproduksi raket dengan merek Astec (Alan-Susi Technology). Susi juga merupakan staf ahli di Departemen Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Lilies Handayani, Nurfitriyana S. Lantang dan Kusuma Wardhani

Bersama Nurfitriyana S. Lantang dan Kusuma Wardhani, Lilies menyumbangkan medali Olimpiade untuk Indonesia, yakni medali perak kategori panahan Olimpiade Seoul 1988. Ini merupakan pertama kalinya Indonesia meraih medali di Olimpiade.

Lahir pada tahun 1965 di Surabaya, Jawa Timur, wanita ini menekuni pencak silat sebelum beralih ke olahraga panahan karena keyakinan ibunya.

Kini Lilies telah menjadi ibu dari tiga orang anak yang juga merupakan atlet panahan. Ia menikah dengan atlet pencak silat Denny Trisyanto pada tahun 1988.

Lilies merupakan pegawai Dinas Pendapatan Daerah Jawa Timur, dan sedang belajar memanah. Bersama suaminya, ia bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional mendirikan Sekolah Panahan Surabaya (SAS) untuk melatih anak-anak memanah.

Kisah perjuangan Lilies, Nurfitriyana dan Kusuma beserta pelatihnya hingga meraih medali olimpiade ditampilkan dalam film tersebut. Tiga pahlawan wanitayang akan dirilis pada 4 Agustus.

Sri Indriyani

Pada Olimpiade Sydney tahun 2000, cabang olahraga angkat besi untuk pertama kalinya menyumbangkan medali bagi Indonesia. Saat itu, Sri Indriyani meraih medali perunggu, sedangkan Raema Lisa Rumbewas meraih medali perak.

Lahir di Lampung pada tahun 1978, Sri merupakan anak asuh dari atlet angkat besi senior Indonesia, Imron Rosadi.

Usai berprestasi di Olimpiade 2000, Sri berhenti menjadi atlet karena menikah dengan mantan atlet angkat besi yang bekerja di PT Pos Indonesia, Jepara.

Sri kemudian tinggal di rumah kontrakan di pinggiran Jepara. Ia bercita-cita menjadi pelatih angkat besi di Jepara, namun ia tidak mempunyai tempat dan modal untuk mewujudkan cita-citanya.

Raema Lisa Rumbewas

PEMENANG MEDALI BERAT BADAN PERTAMA.  Lisa Rumbe mengharumkan nama Indonesia di cabang olahraga angkat besi dengan meraih medali emas di Olimpiade Sydney 2000.  Foto oleh Rosa Panggabean/ANTARA

Raema Lisa Rumbewas merupakan peraih medali perak pertama Indonesia di cabang tolak peluru, tepatnya di Olimpiade Sydney 2000.

Wanita kelahiran Jayapura tahun 1980 ini juga pernah meraih medali perak di Olimpiade Athena tahun 2004. Namun di Olimpiade Beijing tahun 2008, ia finis di peringkat keempat.

Induk Lisa juga seorang atlet angkat besi, bahkan ibunya, Ida Korwa, merupakan pelatih wanita penerima beasiswa dari Olympic Solidarity.

Rexy Mainaky Dan Ricky Subagya

PASANGAN GANDA BULUTANGKIS.  Ricky dan Rexy punya karir berbeda setelah tak lagi menjadi atlet.  Foto oleh Andika Wahyu/ANTARA

Rexy Mainaky dan Ricky Subagja membawa Indonesia meraih medali emas cabang olahraga bulutangkis kategori ganda putra Olimpiade Atlanta 1996.

Kini Rexy menjabat sebagai Ketua Departemen Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), setelah sebelumnya menjadi pelatih bulu tangkis di Malaysia.

Sementara itu Ricky DIA merek peralatan lari dan pakaian Bulutangkis “Flypower” bersama Hariyanto Arbi.

Ricky juga berbagi pengalaman di sejumlah pameran dan acara klinik pelatihan di berbagai bidang.

Taufik Hidayat

MENANGKAN MEDALI OLIMPIADE.  Setelah tak lagi menjadi atlet nasional, Taufik Hidayat punya center bulutangkis sendiri.  Foto oleh Andika Wahyu/ANTARA

Pria kelahiran Bandung tahun 1981 ini berhasil meraih medali emas cabang olahraga bulutangkis di Olimpiade Athena 2004.

Dua tahun kemudian, pria yang akrab disapa Opik itu menikah dengan Ami Gumelar dan dikaruniai dua orang anak.

Sejak 2013, Taufik tak lagi menjadi atlet profesional. Sekarang, dia melakukannya pusat pelatihan bulutangkis di Jakarta Timur yakni Taufik Hidayat Arena. —Rappler.com

Baca laporan lengkap Rappler tentang kontingen Indonesia di Olimpiade Rio 2016:

pengeluaran hk hari ini