Bagaimana peneliti LIPI menyiasati keterbatasan anggaran?
keren989
- 0
Indonesia kaya akan sumber daya hayati. Anda tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengetahui hal itu. Dilihat dari hutan, pulau-pulau terpencil, dan wilayah laut yang luas, Indonesia merupakan negara yang kaya akan mineral, energi, dan sumber daya hayati.
Menurut dr. Andria Agusta, peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indonesia memiliki setidaknya 7.500 tanaman yang berpotensi sebagai obat, yang dapat mengobati berbagai penyakit berat dan ringan, mulai dari kanker hingga infeksi.
Namun, ribuan tanaman masih merupakan obat yang ‘potensial’, sehingga tidak digunakan secara luas dalam pengobatan. Untuk menjadi obat, diperlukan sejumlah penelitian dan uji coba. Potensi Indonesia seringkali terhambat di sini dengan berbagai cara.
Negara tidak mendukung penelitian, terbukti dengan alokasi anggaran yang hanya 0,6 persen dari nilai APBN. Fasilitas penelitian terbatas sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan inovasi penting. Dukungan terhadap penelitian kurang karena penelitian diasumsikan tidak menghasilkan manfaat nyata.
“Penelitian dianggap sebagai kegiatan produksi,” kata Andria. “Kalau ada yang bertanya: Dimana hasil penelitiannya? Dimana hasil penelitiannya? Itulah arti dari produk tersebut.”
Karena tidak mengarah pada produksi, penelitian dianggap hanya membuang-buang uang.
Wabah malaria yang memakan banyak korban jiwa mendorong beberapa penelitian untuk menemukan vaksin anti malaria. Setelah menghabiskan lebih dari dua dekade dana dan waktu, penelitian di bidang ini telah menemukan sejumlah vaksin malaria potensial yang telah mencapai tahap uji klinis. Namun hingga saat ini, calon vaksin tersebut belum mencapai tahap produksi.
Parasit malaria diyakini memiliki siklus hidup yang rumit. Dan masih banyak kesalahpahaman mengenai bagaimana respon imun tubuh terhadap infeksi malaria terjadi. Parasit malaria memiliki genetik yang kompleks. Ini menghasilkan ribuan antigen. Sejauh ini vaksin anti malaria yang diproduksi belum memberikan perlindungan jangka panjang. Ini hanya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada wabah di masa depan, bukan pada wabah berikutnya.
Apakah penelitian ini gagal? TIDAK. Fakta bahwa virus anti malaria belum bisa diterima secara luas juga merupakan hasil penelitian. Namun masyarakat pada umumnya hanya siap menerima hasil yang sesuai dengan harapan dan keinginannya, serta menerima bahwa jika hasilnya sebaliknya, maka penelitian tersebut gagal.
Suatu penelitian gagal apabila penelitian dihentikan sebelum diperoleh hasil.
Penelitian mengacu pada pengetahuan ilmiah. Dan pengetahuan ilmiah bebas bunga. “Secara umum peneliti kita terbebani dengan hasil yang merujuk pada kepentingan tertentu. “Jika kepentingan-kepentingan tersebut tidak terpenuhi maka penelitian adalah sia-sia dan sia-sia,” kata Andria yang juga koordinator Eksplorasi Sumber Daya Hayati IPH LIPI 2016 ini.
Dengan anggaran penelitian saat ini, dana penelitian sekitar Rp50 juta per tahun dialokasikan untuk seorang peneliti di suatu universitas. Peneliti Indonesia hendaknya tidak hanya memikirkan tujuan penelitiannya, tetapi juga bagaimana mengatasi kendala finansial, namun memperoleh hasil penelitian yang diharapkan.
Salah satu cara untuk menyiasati keterbatasan dana adalah dengan melakukan penelitian secara bersama-sama, serentak dan relatif singkat, yang melibatkan beberapa disiplin ilmu.
Cara tersebut dilakukan LIPI beberapa waktu lalu melalui ekspedisi LIPI Widya Nusantara ke Sumba dan Sulawesi Barat serta Papua yang berlangsung selama 20 hari. Menurut Koordinator Lapangan Widya Nusantara 2016, Oscar Efendi, waktu penelitian selama 20 hari dicapai dengan anggaran sebesar Rp 2,6 miliar dan cukup untuk pengambilan sampel secara acak.
Padahal, Widya Nusantara sebenarnya menjadi semacam titik temu antara inisiatif para peneliti yang sudah lama mengajukan proposal penelitian dengan strategi dan kebijakan yang dirancang oleh pengambil keputusan di LIPI, kata Oscar.
“Jika tidak ada kesesuaian antar inisiatif penelitian, maka proses persetujuan rencana penelitian bisa memakan waktu lebih lama,” tambah Oscar.
Di lapangan, penelitian bukanlah pekerjaan yang nyaman: Tidur di tenda, naik turun bukit, peralatan terbatas. Darurat lengkap. Seorang peneliti seringkali kesulitan menemukan kendaraan, makanan dan minuman yang cocok untuk memenuhi kebutuhan energinya. Bahkan di tempat tertentu mereka tidak boleh mandi dan menghemat air minum karena ketersediaan air terbatas.
Mungkin pengembangan penelitian bisa dipercepat jika pendanaan penelitian menggunakan mekanisme hibah (memblokir menganugerahkan), yaitu dengan mengalokasikan sejumlah dana langsung kepada lembaga penelitian untuk jangka waktu tertentu beserta penggunaan teknisnya.
Dengan cara ini, pencairan dana penelitian tidak memakan waktu, begitu pula cara penggunaan dan pelaporannya. Peneliti tidak lagi disibukkan dengan pekerjaan administrasi keuangan dan dapat lebih memusatkan perhatian pada kegiatan penelitiannya.
Namun, selain dari segi pengalokasian dana, sarana dan prasarana penelitian belum mendukung kegiatan penelitian yang kredibel.
Permasalahan seperti ini tidak pernah terselesaikan. Hasil yang diharapkan: Minat terhadap penelitian menurun. Dunia penelitian bergerak lambat, ibarat berjalan di atas catwalk. Dampak selanjutnya adalah Indonesia kurang berinovasi, melakukan terobosan, bahkan sekedar melangkah maju di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lebih memilih untuk tetap menjadi konsumen tetap negara-negara maju.
Di bidang farmasi misalnya, peneliti LIPI sangat prihatin dengan ketergantungan Indonesia terhadap obat-obatan impor, dan tertantang untuk mencari sumber bahan obat dalam negeri. Dalam beberapa kasus, upaya ini telah membuahkan hasil. Namun untuk sampai pada tahap siap diproduksi massal, diperlukan pengujian dari beberapa aspek. Tentu saja hal ini memerlukan investasi.
Di sinilah letak permasalahannya, sangat sulit menemukan pihak yang mau berinvestasi dalam produksi obat baru. Berisiko. Sebaiknya menjadi distributor obat yang sudah ada di pasaran. Pasarnya jelas, biayanya jelas, dan keuntungannya jelas.
Namun apakah berinvestasi dalam produksi baru di dalam negeri berisiko? Tidak menguntungkan? Dalam jangka pendek, bisnis ini berisiko dan tidak terlalu menguntungkan dibandingkan bisnis perantara obat asing di dalam negeri. Namun dalam jangka menengah dan panjang, investasi produksi obat nasional akan sangat bermanfaat bagi masyarakat dan Pemerintah.
Obat yang diproduksi secara mandiri, dari bahan rumah tangga, oleh apoteker dalam negeri sendiri, akan lebih murah dan mudah diperoleh. Hal ini membuka akses masyarakat yang lebih luas terhadap kesehatan, khususnya obat-obatan.– Rappler.com