Bagaimana universitas dan perusahaan dapat bekerja sama untuk mencari pekerja?
keren989
- 0
Saat ini, banyak lulusan perguruan tinggi yang cerdas namun kurang memiliki keterampilan sosial dan cenderung bertindak asal-asalan ketika ada masalah di kantor.
TANGERANG, Indonesia – Banyak orang yang kebingungan dalam berkarir setelah menyelesaikan pendidikan di universitas. Beruntungnya mereka yang sudah mengetahui dimana mereka akan bekerja setelah lulus.
Namun kenyataannya tidak sedikit orang yang harus menunggu lama sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan pertamanya. Alasan perusahaan sendiri menolak pelamar kerja pun bermacam-macam. Mulai dari minimnya pengalaman, hingga ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dengan bidang pekerjaan yang dilamar.
Berdasarkan Proyek Kepemimpinan dan Manajemen Pendidikan Tinggi Spesialis Penjaminan Mutu USAID (HELM), Abdul Rahman mengatakan, pengalaman nyata tidak bisa dijadikan alasan.
“Karena perusahaan juga sering licik. “Mereka punya kewajiban memberikan magang perusahaan (bagi pekerja baru), tapi hanya sedikit yang melaksanakannya,” ujarnya kepada Rappler, Selasa, 24 Mei 2016. Jika kebijakan ini diterapkan oleh semua perusahaan, tentu tidak akan ada kekurangan pengalaman. sangat signifikan.
Permintaan perusahaan
Dengan semakin meningkatnya intensitas persaingan bisnis saat ini, tentu saja perusahaan juga semakin meningkatkan tuntutan terhadap kualitas tenaga kerjanya. Kualifikasi apa yang dibutuhkan perusahaan saat ini?
“Saat ini kita membutuhkan orang-orang dengan kemampuan interdisipliner yang tinggi,” kata Yasrof Mahardhiko, District Sales Manager dan Instrumen Nasional dalam diskusi pada simposium nasional akreditasi perguruan tinggi di Tangerang, Selasa, 24 Mei 2016.
Kemampuan tersebut antara lain kepemimpinan dan presentasi presentasi. Selain itu diharapkan karyawan mampu berkontribusi dalam hal inovasi dan menjadi team player yang baik. Yasrof melihat saat ini, khususnya di bidang teknik yang digelutinya, banyak sekali sosok-sosok cemerlang.
Sayangnya, hal ini tidak disertai dengan keterampilan sosial yang baik. Dia mencontohkan, ketika ada masalah pekerjaan, orang-orang tersebut cenderung sok tahu. “Mereka tidak mendiskusikannya dengan tim, seolah-olah itu adalah hal yang benar untuk dilakukan,” ujarnya.
Etos kerja juga penting. “Kita membutuhkan pekerja keras yang bisa terus berinovasi, dan juga pemain tim yang baik,” kata Syamril dari Kalla Group Makassar.
Sementara itu, Samuel Harris, Business Development Executive di Amazon Web Services, mengatakan tenaga kerja saat ini harus fasih dalam penggunaan teknologi. “Karena sekarang semua sudah berbasis aplikasi dan internet,” ujarnya.
Pelatihan kerja
Untuk menyediakan tenaga kerja yang berkualitas, harus ada kerjasama antara perguruan tinggi dan perusahaan. Mereka dapat berkontribusi dalam bentuk pelatihan atau bengkel dengan siswa, hingga peluang magang.
Amazon Web Services mempunyai caranya sendiri yaitu dengan memberikan pelatihan berbasis internet. “Kami menyediakan platform “Untuk pelatihan lewat internet, tentunya dengan sertifikasi juga,” kata Harris.
Dengan demikian, persediaan material tidak dibatasi lokasi dan dapat diakses oleh siapa saja di mana saja. Sejauh ini, 500 universitas di seluruh dunia telah menggunakannya platform Ini. Di Indonesia, menurut Harris, sudah ada 3 universitas yang menerapkan hal serupa.
Yasrof dan Syarif juga mengatakan bahwa perusahaannya masing-masing memiliki program CSR yang mencakup bidang tersebut. Mereka pun mengaku terbuka terhadap universitas mana pun yang ingin mengajukan kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.
“Banyak yang mengirimkan proposal untuk bertemu dan kami setuju, kami mendengarkan apa yang diminta,” kata Yasrof.
Akreditasi membantu
Selain soal kemampuan individu, lulusan universitas terakreditasi juga terbukti lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Hal itu dibuktikan oleh rektor Binus ASO School of Engineering, Ho Hwi Chie.
“Setelah fakultas teknik kita terakreditasi nasional, terjadi peningkatan jumlah alumni yang langsung mendapat pekerjaan,” ujarnya.
Peningkatan ini cukup drastis, dari 40 persen pada tahun 2014 menjadi 90 persen pada tahun 2015.
Perguruan tinggi yang terakreditasi harus senantiasa mengevaluasi dan menjaga mutu pendidikan. Mereka juga harus melengkapi fasilitas dan persyaratan dokumen untuk memperoleh akreditasi nasional atau internasional.
Terlebih lagi, dengan dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN, perguruan tinggi yang memiliki kredibilitas internasional tentunya akan lebih mudah dalam berbisnis. “Karena itu berarti universitas sudah mempunyai standar yang diakui dunia,” kata Titi Savitri Prihaningsih, anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Berdasarkan informasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), saat ini terdapat 3.738 program studi baik dari perguruan tinggi negeri maupun swasta yang belum terakreditasi. Sedangkan untuk institusinya sendiri, dari 800 perguruan tinggi, hanya 163 yang terakreditasi.
Untuk itu, para akademisi seperti rektor dan dekan universitas harus mulai mengarahkan perguruan tinggi dan program studinya untuk mendapatkan akreditasi. Dengan begitu, masa depan lulusannya bisa lebih terjamin ketika menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. -Rappler.com
BACA JUGA: