Banopolis, desainer ‘bike share’ modern Boseh di Bandung
keren989
- 0
BANDUNG, Indonesia — Kantornya seukuran kamar asrama. Namun di tempat inilah lahir konsep angkutan umum generasi ketiga yang akan diterapkan di Kota Bandung, Jawa Barat mulai Maret tahun ini.
Kantor tersebut milik Banopolis, sebuah perusahaan konsultan transportasi yang berfokus pada hal tersebut angkutan tidak bermotor (angkutan tidak bermotor). Perusahaan start-up ini dikendalikan oleh 8 orang anak muda yang berasal dari berbagai disiplin ilmu namun mempunyai misi yang sama, yaitu membangun Bandung.
Salah satunya bernama Anugerah Nurrewa. Pemuda berusia 30 tahun itu menjabat sebagai Direktur pengatur di kantor ini yang baru berumur 2 tahun. Aso, nama depannya, terpanggil untuk berbuat sesuatu dan mengamalkan ilmu perencanaan transportasi yang didapatnya di universitas demi kemajuan Kota Kembang.
Sebagai anak muda, permasalahan yang sering dihadapinya adalah transportasi umum. Aso yang gemar bersepeda melihat adanya peluang untuk memanfaatkan sepeda sebagai transportasi umum. Perkenalannya dengan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang juga hobi bersepeda memberinya kesempatan untuk mewujudkan sejumlah idenya.
Aso dan beberapa temannya menyambut baik inisiatif Ridwan yang saat itu belum menjabat sebagai Wali Kota untuk membuat sistem penyewaan sepeda di sekitar kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diberi nama Bike Bandung. Sistem yang dimulai pada tahun 2012 ini masih bersifat sukarela dan nirlaba dengan hanya mengandalkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan bantuan dari Ikatan Alumni ITB. Sistem pendaftaran, peminjaman dan pengembalian sepeda masih manual.
Dari situlah timbul keinginan untuk mengembangkannya menjadi lebih profesional. Tak hanya di kawasan ITB saja, tapi juga menjangkau titik-titik padat di Bandung. Ada sambutan yang baik ketika Ridwan terpilih sebagai Wali Kota Bandung pada tahun 2013. Dukungan dari Walikota yang keinginan politik diiringi misi yang sama memudahkan Aso dan kawan-kawan untuk melangkah ke level selanjutnya.
“Dari Bike Bandung, semakin lama kami pelajari, semakin kami menyadari, ini lebih dari sekedar isu bersepeda, ini adalah masalah transportasi kota,” kata Aso kepada Rappler pada akhir Januari 2017.
Berbekal ilmu yang telah diperolehnya selama ini angkutan tidak bermotor saat belajar pasca sarjana, Aso memulai Banopolis bersama sejumlah temannya pada tahun 2014. Banopolis berhasil melahirkan konsep tersebut bagian sepeda generasi ketiga yang disebut Boseh.
Boseh, sistem persewaan sepeda modern
Boseh dalam bahasa Sunda berarti dayung. Namun Boseh sendiri merupakan sistem penyewaan sepeda dengan teknologi modern hasil kerjasama Banopolis dan Pemerintah Kota Bandung.
Selain daripada berbagi sepeda lainnya yang masih melibatkan manusia sebagai operatornya, proses peminjaman dan pengembalian Boseh dilayani oleh sebuah mesin yang disebut terminal. Namun sebelum itu, pelanggan perlu melakukan registrasi terlebih dahulu untuk mendapatkannya kartu pintar sebagai instrumen transaksional.
“Dengan menggunakan kartu tersebut, pelanggan dapat menyewa sepeda di stasiun terdekat dan mengembalikannya di stasiun mana pun,” kata Aso.
Targetnya, Boseh akan resmi diluncurkan oleh Pemerintah Kota Bandung pada Maret 2017. Pada tahap awal, akan dibangun 30 stasiun dari rencana 130 stasiun.
Ketiga puluh stasiun tersebut tersebar di berbagai titik sibuk Kota Bandung, antara lain Pasteur, depan Taman Pramuka, Sudirman, dan Cihampelas. Di lokasi ini dibangun stasiun lengkap dengan terminal atau mesin untuk bertransaksi siap digunakan.
“Jarak antar stasiun ratusan meter, kurang dari 1 kilometer dalam wilayah pelayanan. Memang benar berbagi sepeda Hal ini sendiri dimaksudkan sebagai pelengkap angkutan umum yang ada dan juga untuk perjalanan jarak pendek,” kata Aso.
Cara transaksinya sangat mudah dan sederhana. Jika ingin meminjam, pelanggan yang sudah memiliki kartu tinggal datang ke stasiun terdekat dan melakukan transaksi pinjaman di terminal dengan memasukkan kartu ke dalam slotnya. Layar akan menampilkan opsi untuk meminjam atau mengembalikan. Ketika opsi pinjaman dipilih, sistem akan secara otomatis membuka kunci sepeda yang disertakan pelabuhan.
Sedangkan jika dikembalikan, pelanggan bisa pergi ke stasiun mana pun dengan menempelkan sepedanya pelabuhan yang kosong.
“Untuk mengembalikannya, tempelkan saja pelabuhan apa pun yang kosong jenis memetakan kembali ke konsol terminal keluar”guru Anjing.
Tarif akan diterapkan secara progresif dan dihitung per 30 menit. Pada 30 menit pertama, Banopolis merekomendasikan harga antara Rp750 hingga Rp1.500.
“Tapi kalau soal tarif, itu kewenangan pemerintah. Kami sebagai perencana dan desainer telah merekomendasikan tarif termurah kepada pemerintah berkisar antara Rp750 – Rp1.500 per 30 menit pertama. “Kalaupun bisa gratis, itu benar-benar menjadi fasilitas umum,” kata alumnus ITB ini.
Desain sepeda Boseh anti maling
Selain mendesain konsep Boseh, Banopolis juga mendesain khusus sepeda Boseh. Sepeda ini didesain anti maling berdasarkan pengalaman mengendarai Bike Bandung.
“Hanya bel sepeda yang dicuri,” kata Ahmad Zamakhsyari Sidiq, kepala teknologi Banopolis.
Untuk mengatasi tangan kasar, Banopolis mengantisipasinya dengan mengasuransikan setiap sepedanya. Selain itu, operator memiliki data setiap pelanggan yang tercatat saat registrasi dengan e-KTP.

“Kami menyimpan semua datanya. Jadi ketika ada kerugian, kita tahu dari sistem siapa orang terakhir yang meminjam. “Jadi bisa kita selidiki siapa yang hilang,” kata Ahmad.
Untuk proses pengadaan barang, lanjut Ahmad, pihaknya bekerja sama dengan PT LEN yang siap membiayai dari awal. Selain itu, BUMN ini mempunyai reputasi yang dapat diandalkan.
Dijelaskannya, Boseh merupakan sebuah sistem yang prosesnya selalu diawasi. PemantauanItu ada di tangan Dinas Perhubungan Kota Bandung dan nantinya akan dikelola oleh operator.
“Dishub dan operator nanti akan memantau, misalnya di stasiun ini dermaga Berapa banyak yang kosong, berapa banyak sepeda yang ada. Kalau sepedanya kosong, maka orang yang mau meminjam juga tidak bisa. Jadi nanti sistemnya mencakup pembagian sepeda. Karena kosong dan penuh membuat kita jelek. “Yang bagus ada yang silaturahmi, ada yang kosong, ada yang terisi, jadi beredar,” jelas Ahmad.
Sementara itu, Aso menegaskan konsep tersebut berbagi sepeda Sebaiknya dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat sebagai angkutan umum jarak pendek. Untuk itu, setiap stasiun selalu dibangun di dekat halte atau halte angkutan kota (angkot) agar terintegrasi dengan jenis angkutan umum lainnya. Oleh karena itu, menurut Aso, ketersediaan sepeda di setiap stasiun harus banyak dan pelanggan diimbau menggunakan sepeda tidak lebih dari 30 menit.
Oleh karena itu, kami merekomendasikan agar tarif diterapkan secara progresif, di mana tarif akan semakin mahal setiap 30 menitnya, ”ujarnya.
Boseh merupakan proyek percontohan untuk kota-kota lain di Indonesia. Humas Banopolis Imam Nazhar Muhamad Ali mengatakan banyak kota di Indonesia yang membutuhkan konsep berbagi sepeda Namun, hal ini menjadi rumit karena kurangnya hal tersebut penjual atau penyedia layanan. Inilah yang dirintis Banopolis.
Imam bahkan berharap teknologi Boseh ini juga bisa melakukan hal tersebut go internasional.
“Kami jika penjual menemukan bahwa bidang ini bukanlah bidang yang dieksplorasi banyak orang. Bahkan, kami pergi ke negara tetangga yang punya berbagi sepeda Tampaknya mereka juga mengimpor sistem tersebut dari Tiongkok. Sementara kami anak muda Bandung sedang bereksperimen untuk membuat sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia dengan anggaran semurah mungkin, kata Imam.
Namun di balik konsep Boseh terdapat misi besar yang ingin dicapai Banopolis, yakni transportasi berkelanjutan bebas sepeda motor. Artinya terjadi perubahan perilaku dari pengguna kendaraan pribadi menjadi angkutan umum yang juga berarti dapat mengurangi kemacetan sekaligus ramah lingkungan. Hasil akhirnya adalah jalan yang aman bagi semua pengguna jalan.
“Mungkin agendanya bukan untuk membuat pengendara sepeda lebih aman. “Agendanya adalah menjadikan jalanan lebih aman bagi semua orang, dan sepeda hanyalah salah satunya,” kata Imam. —Rappler.com