Bayern Munich vs Arsenal: Hanya meminta kemenangan sederhana
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia — Angka terus berubah pelatih dari Pep Guardiola hingga Carlo Ancelotti bisa menjadi berkah. Apalagi bagi pemain yang tidak menyukainya bermain game ketat dengan kontrol permainan yang sangat detail.
Ancelotti memang merupakan sosok yang cocok bagi mereka yang tidak terlalu menyukai pelatih yang mendikte. Terutama mereka yang”perubahan suasana hati“Kritis. Artinya lebih sering mengganti formasi dibandingkan mengganti kaus kaki.
“Di lapangan ada seorang bapak dua orang anak. Ada seorang pemimpin keluarganya. Saya tidak perlu memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan,” ujarnya dalam wawancara saat masih menjabat pelatih di AC Milan.
Ini Carletto—nama panggilannya. Para pemain di bawah asuhannya tidak pernah merasa begitu dituntut olehnya. Ia juga bukan pelatih yang begitu terobsesi dengan satu gaya permainan tertentu.
Sifatnya yang longgar dan kalem sangat terjaga. Bahkan beberapa saat menjelang pertandingan penting, Carletto tetap menjadi sosok yang hangat dan santai. Paolo Maldini mengingatnya dengan sangat baik.
“Jelang final Liga Champions, Carletto bercanda dan membicarakan menu makan malam,” kata mantan bek Milan itu mengenang kenangan indah musim 2006-2007.
Kita semua tahu bahwa setelah diskusi saat makan malam dan lelucon kering Carletto, Milan muncul sebagai juara Liga Champions dan mengalahkan Liverpool.
“Ancelotti membuat kami sangat santai,” kata Maldini tentang Ancelotti di kata pengantar buku tersebut: Permainan indah dari seorang jenius biasa.
#FCBvAFC pic.twitter.com/hhMspoEy8L
– ArsenalFC (@Arsenal) 15 Februari 2017
Kesan Maldini terhadap mantan pelatih Real Madrid tersebut tentu sangat berbeda dengan para pelatih hebat yang bermunculan belakangan ini. Pendekatan mereka jauh dari kata santai. Bermain dan menang menjadi obsesi besar.
Bukan berarti Ancelotti tidak punya semangat yang sama untuk menang. Italia Pria berusia 57 tahun ini mampu mengelolanya dengan dorongan emosional yang sederhana.
Bandingkan saja dengan Pep Guardiola yang tiba-tiba memanggil Lionel Messi ke kamar pada tengah malam. Sekadar untuk memindahkan posisi barunya sebagai salah sembilan alias penyerang pantat.
Begitu pula dengan Jose Mourinho yang dulu di Chelsea terkenal dengan pendekatannya mentalitas pengepungan. Mengondisikan para pemain untuk diserang semua pihak sehingga muncul semangat solidaritas, pengorbanan dan kerja keras di lapangan.
Itu belum termasuk obsesi Guardiola untuk bermain dengan gaya yang “mulia”. sepak bola sendiri atau kebiasaan Mourinho mengkambinghitamkan pemain di depan umum.
Don Carletto jauh dari itu.
“Orang-orang selalu membayangkan bahwa seorang pelatih adalah seseorang yang memberikan pidato emosional di momen-momen krusial. “Sampai para pemain menangis,” kata Maldini.
Di Milan, salah satu bek terbaik dunia mengatakan, para pemain juga menangis sebelum pertandingan. Namun itu karena mereka tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Ancelotti.
Tidak diperlukan revolusi
Meski demikian, bukan berarti Ancelotti tak punya terobosan. Ia pun melakukan perubahan pada tim yang ia asuh. Dan perubahan tersebut selalu mampu membuat tim tampil maksimal, meski perubahan tersebut terkesan sepele.
Itu @Liga juara teruskan! Kami ingin mengamankan posisi awal yang baik untuk leg kedua dengan kemenangan malam ini! #paket abu #FCBARS pic.twitter.com/Uw7dPt7agJ
— Philipp Lahm (@philipplahm) 15 Februari 2017
Misalnya saja saat ia menjadi juru taktik Chelsea. Biru yang pada era Jose Mourinho sering bermain dengan tiga striker (4-3-3), kembali ke formasi 2 striker ditambah formasi berlian di lini tengah (4-3-1-2).
Begitu pula di Real Madrid. Angel Di Maria yang biasa beroperasi di sektor tersebut sayap sebaliknya, dia dipindahkan kembali ke posisi gelandang kiri. Memang pada saat itu posisinya sayap Dari Orang kulit putih sangat kompetitif. Gareth Bale mengambil alih posisi kanan sementara Cristiano Ronaldo kemungkinan besar tidak ingin dipindahkan dari kiri.
Alhasil, Di Maria justru tampil sebagai penggerek pertahanan lawan. Dia akan menjelajahi ruang di antaranya punggung penuh Dan belakang tengah untuk kemudian mengirimkan umpan di tengah lapangan atau melepaskan tembakan. Para bek jelas tidak mengantisipasi pergerakannya karena lebih fokus pada Ronaldo atau Karim Benzema di tengah.
Perubahan sederhana ini selalu menjadi ciri khas Don Carletto. Begitu pula saat ia akhirnya pindah ke Jerman untuk melatih Bayern Munich.
“Tidak akan ada revolusi game. Saya tidak ingin melakukan itu,” katanya dikutip dari Penjaga.
“Paling-paling, jika ada perubahan, kami akan lebih menekan secara acak dan bermain lebih banyak langsunglebih vertikal,” imbuh pelatih dengan 3 gelar Liga Champions itu.
Kesederhanaan permainan juga akan menjadi senjata Ancelotti saat Philipp Lahm dan kawan-kawan menjamu Arsenal di Allianz Arena, Kamis 16 Februari, pukul 02.45 WIB dini hari.
Namun, Ancelotti terkadang perlu berkembang rasa krisis. Sebab sikapnya yang terlalu santai bisa jadi merupakan suatu kesalahan. Di babak penyisihan grup Liga Champions musim ini, mereka kalah dari Atletico Madrid dan Rostov.
Kalah dari Atleti mungkin bisa dimaafkan, namun pihak Rusia jelas merasa kewalahan karena pada akhirnya gagal lolos sebagai juara grup.
Meski begitu, hasil imbang babak 16 besar jelas membawa senyuman bagi Ancelotti dan pasukannya. Pasalnya Arsenal adalah lawan yang sangat mereka kenal.
Menyingkirkan Arsenal di babak 16 besar seolah menjadi “tugas wajib” Bayern. Mereka sukses melakukannya pada musim 2012-2013, 2013-2014, dan tak lupa juga pada musim 2004-2005.
Kali ini sepertinya Bayern akan melakukannya lagi. Mungkin jauh lebih santai karena kali ini bersama Ancelotti.—Rappler.com