Beginilah cara Jokowi memenuhi janji kemerdekaannya
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Dalam pidato tahunannya di hadapan Sidang Bersama DPD dan DPR RI, Presiden Joko “Jokowi” Widodo menyerukan pemenuhan janji kemerdekaan yang memerlukan kerja lebih fokus. Jokowi yang hadir dalam sidang dengan mengenakan pakaian adat Bugis itu menyampaikan pidato keduanya hari ini, dalam sidang yang dipimpin Ketua DPD RI Oesman Sapta Oedang.
Untuk memenuhi janji kemerdekaan, Jokowi menguraikan prioritas tahunan kabinet kerja. Pada tahun pertama Kabinet Kerja, Pemerintah meletakkan landasan kokoh bagi pembangunan nasional melalui transformasi ekonomi mendasar dan penerapan kembali paradigma Indonesia Centric.
Pada tahun kedua, Pemerintah mendorong percepatan pembangunan nasional, termasuk pembangunan infrastruktur fisik, percepatan pembangunan sumber daya manusia, dan peningkatan daya saing untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain. “Kita juga mempercepat deregulasi perekonomian dengan mengeluarkan berbagai paket kebijakan ekonomi,” kata Jokowi.
(BA: Baca paket ekonomi ke 12, buka usaha jadi lebih mudah)
Pada tahun ketiga, Pemerintah melangkah lebih jauh ke depan dan fokus pada kebijakan pemerataan ekonomi yang adil. “Tahun 2017 adalah tahun kerja sama untuk pemerataan ekonomi yang hanya diperuntukkan bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Jokowi.
Seperti Sidang Tahunan MPR RI 2017 yang hadir sejumlah presiden terdahulu, mantan presiden, hingga istri presiden. Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengenakan kebaya ala Bali, sedangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenakan kebaya ala Jawa.
(LIHAT: Foto unik acara pidato tahunan 2017)
Kata Jokowi, “Kita tidak ingin kesejahteraan hanya dinikmati oleh satu orang atau sekelompok orang. Ini janji kemerdekaan yang harus segera kita wujudkan,” ujarnya.
Janji tersebut untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta turut mewujudkan ketertiban dunia.
“Ke sanalah kita bergerak,” kata mantan Wali Kota Solo itu. Dalam tiga tahun terakhir, Pemerintah fokus pada pengentasan kemiskinan, pengurangan kesenjangan dan pengurangan pengangguran.
Hasilnya, angka kemiskinan di Indonesia menurun, dari 28,59 juta orang pada Maret 2015 menjadi 27,77 juta orang pada Maret 2017. Begitu pula dengan Indeks Gini Ratio Indonesia yang mengukur tingkat ketimpangan ekonomi yang terus membaik hingga mencapai 0,393 pada bulan Maret. yang dicapai pada tahun 2017, lebih rendah dibandingkan angka pada bulan September 2014 yaitu 0,414.
Dana kota meningkat
Presiden Jokowi pun memaparkan keberhasilannya dalam mengendalikan inflasi. “Tingkat inflasi kita juga terkendali yaitu sebesar 2,6% pada Januari-Juli 2017. Bahkan pada Mei 2017 yakni menjelang puasa, inflasi kita tercatat hanya 0,39%,” kata Jokowi.
Pertumbuhan ekonomi juga terus dijaga agar berkualitas dan berkeadilan. “Pertumbuhan ekonomi yang rata-rata 5 persen per tahun pada periode 2014-2016 harus kita pastikan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang saja, namun dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” kata Jokowi.
Untuk mempercepat pemerataan pembangunan di daerah dan kota, Pemerintah meningkatkan anggaran transfer ke dana daerah dan kota. Melalui program Dana Hibah Khusus Fisik (PSG), Pemerintah meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan infrastruktur dasar seperti jaringan air minum hingga rumah-rumah masyarakat. Pemerintah juga mendorong pergerakan ekonomi lokal dengan meningkatkan persentase stabilitas jalan provinsi, jalan kabupaten/kota dan penunjang irigasi pertanian.
Komitmen pemerataan ekonomi juga diwujudkan melalui peningkatan Dana Desa yang berjumlah Rp 60 triliun pada tahun 2017. Dengan dana desa tersebut, pemerintah mendorong percepatan pertumbuhan dan pemerataan perekonomian desa. Untuk mendukung pemerataan, Pemerintah juga mendorong peningkatan rasio elektrifikasi nasional yang mencapai 92% pada Maret 2017.
“Dalam sidang yang terhormat ini, saya ingin menyampaikan ucapan selamat kepada warga Desa Wogalirit, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang setelah 72 tahun merdeka, kini akhirnya bisa menikmati layanan listrik. Selamat juga kepada warga kota-kota lain di Tanah Air yang sudah bisa menikmati layanan listrik di tahun 2017, kata Jokowi.
Pemerintah juga menjalankan program penyelesaian sengketa pertanahan antar warga, antara warga dengan korporasi atau bahkan antara warga dengan pemerintah.
Oleh karena itu, melalui kebijakan pemerataan ekonomi yang berkeadilan, pemerintah mempercepat sertifikasi tanah yang kini mencapai 250 ribu bidang tanah. Pemerintah juga melakukan redistribusi lahan kepada masyarakat dan telah memberikan 707 ribu hektare kawasan hutan kepada masyarakat adat untuk dikelola secara produktif, kata Jokowi.
(BA: Aliansi Masyarakat Adat mengkritik kurangnya kejelasan mengenai status hutan)
Subsidi tepat sasaran
Jokowi juga menjelaskan dalam pidatonya bahwa untuk mencapai 40% terbawah, Pemerintah melakukan reformasi kebijakan agar subsidi benar-benar lebih tepat sasaran. Pemerintah secara bertahap mensinergikan program bantuan sosial dan secara bertahap mengalihkan Beras Sejahtera (Rastra) ke bantuan pangan nontunai.
Selain itu, dukungan terhadap kelompok 40% terbawah juga dilakukan dengan memperkuat program perlindungan sosial dan memperluas cakupan penerima manfaat.
Untuk mendukung Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Pemerintah juga terus berupaya menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Saat ini suku bunga KUR bisa mencapai 9%. “Kami berharap KUR sebesar Rp 94,4 triliun yang disalurkan pada tahun 2016 dapat membantu meningkatkan kesejahteraan sektor UMKM,” kata Jokowi.
Menurut Jokowi, dengan semakin mudahnya akses permodalan, pemerintah berharap dapat menggairahkan perekonomian masyarakat, khususnya di kalangan pedagang kecil. Selain mempermudah akses permodalan, Jokowi juga menyampaikan program revitalisasi pasar.
Dalam pidatonya sebelumnya, Jokowi menyinggung konsolidasi yang dilakukan pimpinan DPD RI yang mengalami gejolak. Ketua DPD Oesman Sapta Oedang menanggapinya dengan meminta semua partai mengesahkan UU No. 17 Tahun 2014 MD3 (Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah). –Rappler.com