• March 19, 2026
Belanja sepatu bersama Muhammad Ali

Belanja sepatu bersama Muhammad Ali

Kisah fotografer Swiss Eric Bachmann tentang petinju legendaris Muhammad Ali

JAKARTA, Indonesia—Hampir setengah abad lalu, seorang pria kulit hitam dengan tinggi 1,91 meter masuk ke sebuah toko sepatu di kota Zurich, Swiss, dalam keadaan tertutup salju putih. Pria tersebut bermaksud membeli sepatu boots ukuran 47.

Penjaga toko tampak bingung, ketika orang-orang mulai berkerumun di luar toko untuk melihat pelanggan luar biasa ini.

Pelanggannya adalah Muhammad Ali, yang membutuhkan sepasang sepatu bot baru karena sepatu lamanya basah karena salju di Gunung Uetliberg, Zurich, tempat ia berlatih.

Muhammad Ali ditemani fotografer Eric Bachmann pergi ke toko sepatu. Bachmann mengikuti aktivitas Muhammad Ali sebelum mengalahkan petinju Jerman Jurgen Blin pada 26 Desember 1971.

Dalam wawancara telepon dengan AFP dari Zurich, Bachmann menceritakan beberapa kisah spontan menarik saat menemani Muhammad Ali hingga tiba di toko sepatu.

Petinju legendaris yang meninggal pada Sabtu 4 Juni dalam usia 74 tahun ini dikenal sangat terbuka kepada jurnalis sepanjang kariernya.

Dalam perjalanan mereka ke Zurich, sebuah trem berhenti berjalan karena banyak orang mengepung Muhammad Ali untuk meminta tanda tangan.

Gunung tertinggi di dunia

Bachmann memutuskan untuk tidak datang ke bandara saat Muhammad Ali tiba di Swiss karena merasa tidak akan mendapatkan materi eksklusif.

Keesokan harinya, 17 Desember, Bachmann pergi ke Hotel Atlantis, berharap bisa bertemu Muhammad Ali saat sarapan.

Saat Muhammad Ali akhirnya sampai di lobi hotel dengan mengenakan seragam olahraganya. Setelah melihat Bachmann melakukan pukulannya, petinju itu mendekatinya dan bertanya apakah dia bisa memberinya rekomendasi tempat untuk berlari.

“Saya bilang ‘tidak masalah. Silakan ikuti saya. Saya akan menunjukkan tempat terbaik untuk berlari di sini’,” kata Bachmann kepada AFP.

Mereka kemudian pergi ke gunung Uetliberg.

Bachmann merekam foto-foto latihan Muhammad Ali pagi itu Muhammad Ali, Zürich. Buku tersebut menampilkan seorang pria yang selalu tersenyum lebar saat berjalan menyusuri gunung yang dipenuhi pepohonan bersalju.

Dalam salah satu jepretan Bachmann, Muhammad Ali terlihat berlari melewati dua pria kulit putih tua yang sedang mendaki bukit.

Bachmann mengatakan, meski dia belum pernah mengalami insiden rasis apa pun, kehadiran seorang pria kulit hitam bertubuh besar di Zurich pada tahun 1971 tentu saja menarik perhatian.

“Orang-orang selalu terheran-heran dan berpikir sejenak siapa pria berkulit hitam ini. Lalu mereka menyadarinya, dan berkata ‘oh, itu Muhammad Ali,'” kata Bachmann.

“Saat Muhammad Ali berlari, dia bertanya ‘apakah ini gunung tertinggi di Swiss?’ Lalu dia berkata lagi: “Saya yang Terhebat dan saya ingin mendaki gunung tertinggi di dunia,” kenang Bachmann.

Tak yakin Muhammad Ali bercanda atau tidak, Bachmann lalu menyarankan agar The Greatest mendaki Gunung Everest.

‘Saya ingin membeli sepatu ini’

Lubang-lubang pada sepatu bot Ali, ditambah dengan jalanan pegunungan yang basah, membuat ia sangat membutuhkan sepasang sepatu baru.

Ia ingin tahu dari mana warga Uetliberg mendapatkan sepatu botnya.

“Saya bilang padanya, ‘Oh, kalau kamu mau, saya bisa mengantarnya ke tempatnya,'” katanya.

Kemudian mereka kembali ke hotel, namun manajernya Muhammad Ali tidak ada.

Muhammad Ali, pelatihnya Angelo Dundee dan Bachmann akhirnya masuk ke mobil kecil fotografer menuju toko sepatu.

“Ini adalah toko tradisional milik keluarga setempat. “Awalnya mereka tidak tahu siapa pelanggan tersebut,” kata Bachmann.

Untungnya beberapa sepatu ukuran 47 masih tersedia.

Sembilan hari kemudian, Muhammad Ali mengalahkan petinju Jerman Jurgen Blin dalam tujuh ronde di Hallenstadion, Zurich. Kemenangan ini merupakan yang ketiga berturut-turut setelah skorsingnya dicabut. —Laporan AFP/Rappler.com

BACA JUGA:

Pengeluaran Sydney