• March 23, 2026
Benarkah transaksi online menjadi penyebab terpuruknya bisnis retail?

Benarkah transaksi online menjadi penyebab terpuruknya bisnis retail?

Jakarta, Indonesia – Ukuran ruangan Sekitar 3 x 4 meter persegi disebut sebagai “ruang perang” bagi para pengelola perusahaan Matahrimall.com perdagangan elektronik O2O (daring ke luring) di bawah grup Lippo. Hadi Wenas menghabiskan sebagian kesehariannya sebagai Pejabat tertinggi Eksklusif (CEO) perusahaan di dalam ruangan yang dinding kacanya dilapisi stiker kertas warna-warni.

Isi makalahnya membahas materi rapat, strategi perusahaan, termasuk apa saja yang perlu dilakukan untuk mengembangkan bisnis dengan transaksi miliaran rupiah setiap harinya. Tidak ada kursi di dalam ruangan. Hanya meja rapat, sekaligus meja kerja Wenas.

Pria yang memulai karirnya di perusahaan komputer Oracle ini menganggap rapat tetap lebih efektif. Begitu informasi diproses di otak, tubuh akan langsung bereaksi untuk mengambil keputusan.

“Ada peran gravitasi di sana. Selain itu, saya mempunyai masalah di bagian belakang leher. Bertemu sambil bertumpu pada dua kaki. Lebih sehat. Rapat tidak perlu berlangsung lebih dari 30 menit. Singkat, jelas. Apa langkah selanjutnya, siapa melakukan apa dan kapan? ujar Wenas yang sebelum bergabung dengan perusahaan ini merupakan pendiri dan CEO Zalora, sebuah perusahaan e-commerce di bidang fashion.

Wenas saya temui di kantornya, Senin 7 Agustus 2017. Situasi perekonomian diwarnai pertanyaan apakah memang terjadi penurunan daya beli? Berbagai analisis bermunculan dari pemerintah dan pendukung pemerintah.

Perkiraan rata-ratanya adalah penurunan daya beli pada sektor ritel khususnya pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2017 konsumen beralih berbelanja on line. Perdebatan sengit juga terjadi di forum kelompok diskusi Pemimpin Redaksi. (LIHAT: Daya beli anjlok saat Ramadan dan Lebaran 2017)

Bahkan, CEO Bukalapak Achmad Zaky saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut mengatakan, pangsa pasar atau volume transaksi bisnis ritel online tersebut. perdagangan elektronik, sekitar 2%.

Jual e-niaga memang naik 3% per tahun, tapi kontribusinya tidak signifikan,” kata Zaky saat saya tanya melalui SMS di penghujung tahun 2017 lalu.

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Profesor Bambang S. Brodjonegoro menjawab pertanyaan saya dan mengatakan bahwa penurunan daya beli ini terbilang misterius. Hal itu dijawab Bambang saat menyerahkan rencana pelaksanaan Indonesia Development Forum di kantornya pada Jumat, 4 Agustus 2017.

Bambang mencontohkan data perekonomian kuartal I 2017 yang bagus. Pada semester I tahun ini, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tumbuh sekitar 13,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah ekspor, padahal ekspor tidak dikenakan PPN. Jadi kalau PPN naik pasti karena ada transaksi. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan PPN banyak berasal dari sektor manufaktur,” ujarnya.

Turunnya daya beli yang masih dianggap misteri juga disebabkan karena tidak terlacaknya transaksi di sektor tersebut perdagangan elektronikyang berpotensi mengubah kebiasaan berbelanja masyarakat.

“Yang jadi misteri lagi, data transaksinya berapa on lineyang sulit on line itu tidak tercatat dengan baik. Sejujurnya kami TIDAK mampu mengatasinya. Misalnya orang yang membeli melalui Amazon, bagaimana cara membebankan pajak? Saya sangat yakin bahwa statistik tidak mencakup hal tersebut transaksi on line sepenuhnya, misalnya Instagram, digunakan untuk promosi, hanya statistik saja TIDAK mencatat kejadian tersebut. Saya kira masih misteri,” kata Bambang.

Untuk mendapatkan informasi lain yang menjawab misteri tersebut, saya bertemu dengan Wenas. Saya pun menindaklanjuti perbincangan dengan Achmad Zaky tentang kesiapan e-commerce Indonesia menghadapi kompetitor asing dan menjadi pemain ekonomi digital terbesar di ASEAN. (BACA: Ekonomi digital di ASEAN akan mencapai US$200 miliar dolar).

Wenas mengaku optimis dengan bisnis yang dijalankannya, begitu juga dengan bisnis e-commerce di Indonesia.

“Di Q2 lebih spesial, karena kami fokus pertumbuhan yang sehatkonsumen yang sehat, dengan lebih fokus pada peningkatan pelayanan, kemudahan bertransaksi, selain persaingan produk dan harga, program diskon menarik. Jadi penjualan meningkat signifikan,” kata Wenas.

Lanjutnya, setiap perusahaan mempunyai prinsip yang berbeda-beda untuk mencapai tujuannya.

“Kalau kami bagian dari grup Lippo, bisnisnya juga harus ikut berkelanjutan, seperti department store Matahari yang berusia 57 tahun. Kami sedang dalam perjalanan ke sana, agar bisnisnya tidak bertambah tua satu digit Kemudian TIDAK Ada. Untuk mencapai hal tersebut, Anda tidak bisa hanya fokus pada akuisisi saja klien seperti itu, kami juga mencatat program mana yang akan dijalankan, cara membuatnya klien yang sehat menentangnya lebih sedikit. Tidak hanya perlu program diskon. Harus mengandalkan pelayanan, kemudahan transaksi, akses situs penjualan, kemudahan pengajuan dan lain-lain,” kata Wenas.

Saya menanyakan dampak penurunan (pertumbuhan) daya beli, dengan berbagai analisa yang ada. Wenas menjawab kompak bahwa pangsa pasar usaha perdagangan elektronik di Indonesia kurang dari 2%. Mirip dengan jawaban CEO Bukalapak Zaky.

“Masih kurang dari 2% dari total ritel luring Dan on line. Kelihatannya kecil, tapi itu adalah proses yang harus kita lalui secara bertahap. Angka (volume transaksi) yang kita miliki saat ini adalah angka di Tiongkok 6-8 tahun lalu. Kami sedang menuju 6-8% dari total ritel di Indonesia. saya masih berpikir di jalan yang benar. Angka 2% ini sudah termasuk penjualan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook dan lainnya. Di sisi lain adalah angka penjualan ritel on line Dan luring yang meliputi grosir, eceran modern, Toko serba adauntuk penjualan media sosial, “katanya.

Wenas mengaku tidak bisa begitu saja mengambil kesimpulan mengapa ada anomali antara angka makroekonomi yang baik dan lesunya daya beli seperti yang dikeluhkan para pengusaha, termasuk Ikatan Pengusaha Indonesia.

“Dari segi makro, sejujurnya saya belum bisa mengambil kesimpulan. Tapi tunggu mengobrol dengan pelaku industri yang sama ada 2 kubu. Kata salah satu kubu seluruh makro melunak, tidak berkurang (transaksi), namun pertumbuhannya melambat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa yang terjadi adalah perubahan perilaku konsumen. Ada yang mengatakan pembeli beralih ke penawaran on line. Yang saya maksud dengan perubahan perilaku adalah, saat ini, orang tidak lagi membeli barang inventaris dalam jumlah besar. Belilah jika Anda membutuhkannya, jadi memang demikian ukuran keranjangitu lebih kecil. Beli lebih banyak, belanjakan lebih sedikit. Mengapa? Karena sekarang sudah ada Toko serba ada jamur di mana-mana. Tahun 2012 saya ingat angkanya 15 ribu toko, dari dua pemain besar saja. Sekarang saya dengar satu jaringan memiliki 15 ribu toko, jaringan lainnya memiliki 12 ribu toko. Bayangkan, ada 27 ribu toko, hanya dari dua merek ternama tersebut. Artinya akses konsumen terhadap suatu barang semakin dekat. Dan juga jika melihat perbedaan harga di tingkat grosir, hipermarket, supermarketke toko serba-ada sedikit perbedaan Harga dekat dengan segalanya. Meski ide awalnya toko serba-ada harganya lebih mahal dibandingkan grosir atau eceran modern besar. Karena letaknya yang dekat dan mudah dijangkau. Kita lihat saja yang terjadi sekarang tidak lagi seperti itu. Perubahan perilaku juga terjadi, misalnya masyarakat yang tadinya membeli air mineral botolan besar kini membeli air mineral botolan kecil. Beli mie instan dalam karton dalam jumlah besar, beli sekarang. Bisa dibawa dalam kantong plastik,” kata Wenas. (BACA: Benarkah Sevel Tutup Karena Larangan Penjualan Minuman Beralkohol?)

Mengenai masih tertinggalnya pangsa pasar e-commerce di Indonesia, Wenas mengatakan hal tersebut tidak hanya terkait dengan usia bisnisnya, namun juga faktor lainnya.

Ini adalah masalah pendidikan dan waktu. Di Tiongkok sekarang memberikan angpao, pemberian uang, melalui transaksi on line. Pada tahun 2016, ada sekitar US$200 juta transaksi paket merah pesan. Di negara maju seperti Amerika dan Tiongkok, tingkat penetrasi pasar bisnis e-commerce pada tahun ini hanya 12-15% dari total bisnis ritel (luring dan daring). Angka itu bukanlah angka yang kecil, angka yang normal. Misalnya tidak bisa tiba-tiba naik ke 5%,” kata Wenas.

Pendidikan penting

“Jika Anda melihatnya dari negara yang lebih maju, seluruh ekosistem harus mendidik konsumennya. Menurut pendapat saya, e-commerce jika platform harus mampu menawarkan nilai tambah. Apa? Sistem ini menjadikan jumlah orang sebagai pusat proses perdagangan (perantara) oleh karena itu lebih sedikit. Jika ingin menyalurkan barang dari produsen ke konsumen harus melalui kota-kota besar, menengah dan besar kecil, sekarang tidak perlu. Orang tengah dari 5 menjadi 2 atau hanya satu. Harga yang lebih baik. Dari sana, maksudku perdagangan elektronik memiliki nilai lebih dibandingkan pasar tradisional. Siapa yang harus dididik? Sebaiknya bukan hanya pemain perdagangan elektroniktapi dukungan penyedia pembayaran seperti bank dan layanan pembayaran lainnya, pemerintah, penyedia logistik, semua orang saling mendukung. Termasuk platform pemasaran digital seperti pemutar media sosial. Semuanya harus mengedukasi masyarakat belanja on line lebih mudah dan memberikan nilai tambah dalam artian rantai pemasaran dari produsen ke konsumen lebih pendek,” kata Wenas.

Bersaing di pasar ASEAN

Pir– itu masih banyak, tapi pasti mungkin. Sangat mungkin. Kita harus melihat bagaimana bisnisnya. Bagi pemain lokal seperti kami, persaingan semakin ketat. Tapi bagus untuk keadaan wirausaha. Jika itu normal TIDAKseru k. Persaingan yang sehat menguntungkan konsumen. Indonesia perlu mempercepat pertumbuhan perusahaan lokal untuk bersaing dengan pemain besar dari luar yang mulai masuk. Kita masih sangat tertinggal dalam dunia bisnis perdagangan elektronik dibandingkan dengan pemain asing utama. Tapi kalau melihat sejarah, pada masa perang kemerdekaan kita juga dipersenjatai dengan bambu runcing,” kata Wenas.

Penting untuk memahami pasar lokal. “Karena konsumen mempunyai kebiasaan dan selera yang berbeda-beda. Sensitivitas perilaku Ini keunggulan pemain lokal,” ujarnya. – Rappler.com

SGP hari Ini