Bentrokan terjadi di Dadap, 6 warga dan 2 polisi luka-luka
keren989
- 0
Warga menginginkan dialog, namun bentrokan tidak bisa dihindari.
JAKARTA, Indonesia— Rencana penggusuran yang dilakukan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar di kawasan Dadap tidak berjalan mulus. Warga tetap menolak meski surat peringatan kedua (SP2) sudah diberikan.
Akibatnya, bentrokan terjadi sore tadi, Selasa 10 Mei. Enam warga dan dua polisi terluka.
“Enam warga menjadi korban kekerasan polisi, satu terkena peluru panas. Bahkan ada satu orang yang terluka parah, dan ditolak dari rumah sakit saat hendak dirujuk,” kata Ijul, warga Dadap, kepada Rappler.
Sementara itu, media melaporkan bahwa dua petugas polisi terluka dalam tabrakan tersebut.
Berdasarkan keterangan polisi, petugas gabungan dijadwalkan menyampaikan SP2 kepada warga pagi ini.
Saat kerusuhan terjadi, polisi menembakkan gas air mata.
Informasi jumlah korban luka diklarifikasi oleh kuasa hukum publik LBH Tigor Gempita Hutapea. Namun pihaknya belum bisa memberikan laporan pemeriksaan lapangan karena kawasan Dadap saat ini masih tegang.
Apa alasan warga menolak penggusuran?
Masyarakat Nelayan Dadap, Tangerang, mengatakan rencana penggusuran tidak sesuai dengan rencana awal yakni penertiban lokalisasi.
Tepatnya pada 26 April, diterbitkan Surat Peringatan I Bupati Tangerang Zaki Iskandar nomor 301/1081-SPPP yang menyatakan harus membongkar tempat tinggalnya.
Surat tersebut menyebutkan alasan pembongkaran Program Indonesia Bebas Prostitusi 2019 yang dicanangkan Kementerian Sosial. (MEMBACA: 99 titik lokasi yang mengontrol lokalisasi di Indonesia)
Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa warga yang memiliki bangunan atau usaha 5-10 meter di sisi kanan jalan dan 10-20 meter di sisi kiri jalan di Kampung Baru Dadap, Kecamatan Kosambi, harus membongkar sendiri propertinya.
Bukannya langsung mendukung, warga malah dibuat bingung. Menurut mereka, bangunan di rumah bordil itu sudah dibongkar dua bulan lalu. Tepatnya saat warga dikumpulkan oleh Kepala Desa Dadap pada 14 Maret lalu.
Sosialisasi berkedok pengendalian lokalisasi
Terkait hal tersebut, Waisul Kurnia, 33 tahun, mengatakan awalnya warga berkumpul di Rumah Pernikahan 9 Bersaudara untuk mendapatkan sosialisasi mengenai penertiban rumah bordil tersebut. Sekitar 117 warga menghadiri pertemuan tersebut.
Sosialisasi tersebut dijaga ketat oleh 550 petugas gabungan TNI, Polri, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Warga digeledah satu per satu saat memasuki ruangan. “Mirip dengan standar protokol pertemuan dengan presiden,” ujarnya.
Acara dibuka oleh Sekretaris Daerah setempat. “Awalnya soal lokalisasi, kemudian melenceng semua ke penggusuran ke pemukiman warga. Sekda mengatakan warga akan dibangun apartemen dan Islamic center,” ujarnya.
Waisul lalu menjawab, “Kenapa harus Islamic center pak? Yang kami butuhkan adalah pusat perdagangan ikan bagi para nelayan,” ujarnya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan rencananya.
Bagaimana dengan reklamasi Teluk Jakarta?
Selain persoalan lokalisasi, warga menduga penggusuran tempat tinggalnya ada kaitannya dengan proyek reklamasi Teluk Jakarta. Misbah mengaku mendapat informasi tersebut dari televisi saat Bupati diperiksa sebagai saksi kasus anggota Fraksi Gerindra DPRD DKI, Mohamad Sanusi dalam kasus daur ulang.
Dalam keterangannya, Zaki Iskandar mengungkapkan rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Dadap dengan salah satu pulau reklamasi di pesisir utara Jakarta.
Ia bahkan mengaku menyetujui usulan pembangunan tersebut. Namun masih belum ada kesepakatan dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.
Perkampungan nelayan Dadap berhadapan langsung dengan wilayah pengembangan Pulau A, B, dan C.
Prioritaskan dialog
Sementara itu, hingga laporan ini ditulis, kondisi Dadap belum pulih. “Masih ricuh,” kata Ijul.
Di tengah kondisi tersebut, warga mengirimkan rilis ke media. Mereka menuntut tiga hal.
- Tarik polisi, TNI dan Satpol PP
- Berhenti memberikan SP2
- Lakukan dialog yang tulus dengan warga
Menurut Ijul, warga sebenarnya ingin berdialog dengan pemerintah. Namun aparat keamanan rupanya tidak menghiraukan mereka dan terus menembakkan gas air mata dan peluru karet. —Rappler.com
BACA JUGA