• March 23, 2026

Berita hari ini: Jumat, 18 Agustus 2017

Halo pembaca Rappler!

Pantau terus halaman ini untuk mengetahui update berita terkini yang dihimpun redaksi Rappler Indonesia pada Jumat, 18 Agustus 2017.

Jokowi mengapresiasi kerja Ahok dalam membangun Simpang Susun Semanggi

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama tak hadir saat proyek Jembatan Semanggi Simpang Susun diresmikan Presiden Joko “Jokowi” Widodo, Kamis malam. Meski demikian, ia tak henti-hentinya mendapat pujian, termasuk dari Jokowi.

Meski tak menyebut nama mereka secara langsung, namun Jokowi mengapresiasi kerja keras Ahok dan Djarot yang mampu menyelesaikan proyek Jembatan Simpang Susun Semanggi lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

“Saya mengapresiasi kecepatan pembangunan simpang susun Semanggi, sangat cepat (pengerjaannya). Saya sangat mengapresiasi kerja para gubernur saat ini dan sebelumnya, kata Jokowi usai meresmikan simpang susun Semanggi.

Sementara itu, rekannya Djarot mengaku kagum dengan keberanian Ahok memutuskan proyek yang tidak mengandalkan uang APBD. Ia mengatakan, pada tahun 2015 lalu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyerahkan pengelolaan jalan arteri di Jakarta kepada Pemprov DKI Jakarta.

Sementara itu, Pemprov DKI tengah berupaya melakukan kajian pembangunan simpang susun di Semanggi yang dikenal dengan kajian MARIP (Metropolitan Arterial Road Improvement Project) yang bekerjasama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency). Permasalahan kemudian muncul mengenai siapa yang akan membiayai pengembangan, teknologi dan implementasinya. Di situlah peran penting Ahok sebagai pengambil keputusan mengemuka.

Jadi diputuskan ya, kita akan bangun, dengan dana non APBD, dengan sistem design and build untuk mempercepat proses ini, kata Djarot. Baca selengkapnya Di Sini.

Saat Prabowo menyindir gaji jurnalis kecil

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, memilih mengomentari pekerjaan dan kehidupan jurnalis ketika ditanya tentang politik praktis. Prabowo mengaku prihatin dengan kondisi jurnalis karena sebagian besar gajinya kecil.

“Makanya kami juga membela jurnalis. Gajimu juga kecil kan?” tanya Prabowo kepada media.

Tetani, ia kemudian menjawab sendiri pertanyaan itu karena mantan Panglima Kopassus itu mengaku hanya bercanda.

“Tahukah Anda, itu terlihat di wajah Anda,” katanya yang ditindaklanjuti oleh media.

Dia kemudian melanjutkan penjelasannya. Menurut Prabowo, setelah melihat wajah para jurnalis yang sebagian besar lusuh, ia lantas mengira para jurnalis tidak pernah berbelanja di mal.

“Benarkah? Jujur saja,” katanya.

Bahkan, media mempertanyakan soal Pilpres 2019 dan komentar Prabowo soal terbitnya Perppu Ormas Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas. Baca selengkapnya Di Sini.

Operasi besar mata Novel berhasil dilakukan

Novel Baswedan, penyidik ​​senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menjalani operasi besar pada mata kirinya. Proses pengoperasiannya dimulai pada pukul 08.00 waktu setempat hingga pukul 13.30 waktu setempat.

Saat keluar dari ruang operasi, Novel tak sadarkan diri di atas tas jinjing yang didorong tiga orang perawat. Menurut salah satu dokter yang merawatnya, operasi Novel berjalan lancar.

“Semuanya berjalan baik,” kata dokter yang namanya tidak bisa dipublikasikan itu.

Usai operasi, Novel harus terus menjalani perawatan pemulihan di rumah sakit selama beberapa hari. Ia pun menjelaskan kepada keluarga yang menunggu di rumah sakit tentang keberhasilan seluruh tahapan operasi.

“Di sini (mata), di sini (gigi), dan di sini (gigi), semuanya baik-baik saja,” kata dokter.

Roman pernah menjelaskan, ada empat dokter ahli yang terlibat dalam operasi besar ini, yakni dokter spesialis mata, dokter spesialis retina, dokter spesialis gigi, dan dokter spesialis glaukoma. Operasi diawali dengan membersihkan mata dari katarak dan menyedot cairan glaukoma di bola mata kiri. Baca selengkapnya Di Sini.

Ibas: Datangnya SBY ke Istana bukan berarti mendukung pemerintah

Bersalaman.  Presiden Joko Widodo (paling kiri) berjabat tangan dengan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (paling kanan) disaksikan Ketua DPR Setya Novanto (kiri) sebelum upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 17 Agustus.  Foto oleh Rosa Panggabean/ANTARA

Putra bungsu Presiden ke-6, Edhie Baskoro Yudhoyono ini berharap kehadiran ayahnya dalam upacara peringatan HUT ke-72 di Istana Negara tidak dimaknai berbeda. Menurut pria yang akrab disapa Ibas itu, SBY hadir karena mengapresiasi undangan yang dilayangkan Istana Kepresidenan.

“Bukan berarti kehadiran (SBY) selalu dimaknai sebagai dukungan (kepada pemerintah),” kata Ibas usai menghadiri upacara bendera.

Ini adalah pertama kalinya SBY menghadiri upacara HUT RI di Istana setelah ia berhenti menjabat sebagai presiden dan digantikan oleh Joko Widodo. Pada 17 Agustus 2015 dan 2016, SBY memilih merayakan Hari Kemerdekaan di Pacitan, Jawa Timur, kampung halamannya.

Menurut dia, ketidakhadiran Ketua Umum Partai Demokrat merupakan hal yang lumrah dan tidak perlu dibandingkan. Baca selengkapnya Di Sini.

Momen bersejarah saat SBY dan Megawati berjabat tangan di Istana Negara

jabat tangan.  Presiden ke-6 SBY berjabat tangan dengan Presiden ke-5 Megawati saat keduanya bertemu di Istana Negara saat menghadiri momen Proklamasi.  Foto: spesial

Ada dua momen bersejarah yang terjadi pada Kamis lalu di peringatan Detik-Detik Proklamasi. Selain daftar lengkap mantan presiden yang berkumpul di Istana Negara, Presiden ke-6 SBY juga terlihat berjabat tangan dengan Presiden ke-5 Megawati.

Benar-benar momen yang tak terlupakan karena selama 13 tahun terakhir, keduanya belum pernah menghadiri acara HUT Kemerdekaan di Istana bersama.

Menurut Ketua Departemen Komunikasi Publik Partai Demokrat Imelda Sari, apa yang dilakukan SBY merupakan etika politik para pemimpin.

Jadi Pak SBY sebagai Presiden ke-6 memberi hormat dan hormat kepada Ibu Megawati sebagai Presiden RI ke-5, kata Imelda kepada Rappler melalui pesan singkat.

Terakhir kali keduanya terlihat bersama merayakan HUT RI di Istana Negara adalah pada tahun 2003. Saat itu, Megawati masih menjabat sebagai presiden dan SBY menjabat sebagai Menko Polhukam. .

Pada Maret 2004, SBY memutuskan mundur dari kabinet gotong royong pimpinan Megawati. Keduanya juga pernah bertarung pada Pilpres 2004, namun hasilnya dimenangkan oleh SBY.

Megawati kembali mencoba peruntungannya pada tahun 2009, namun kembali gagal. Padahal, selama 10 tahun SBY memimpin, Megawati tidak pernah menghadiri peringatan HUT RI di Istana. Megawati diwakili suaminya Taufiq Kiemas dan putrinya Puan Maharani. Baca selengkapnya Di Sini.

– Rappler.com

situs judi bola