• March 22, 2026

Berita hari ini: Sabtu, 12 Agustus 2017

Halo para pembaca Rappler!

Pantau halaman ini untuk update berita terbaru Sabtu 12 Agustus 2017 oleh Redaksi Rappler Indonesia.

Johannes Marliem menjadi orang ketiga dalam kasus proyek e-KTP yang meninggal dunia

Meninggalnya Johannes Marliem menjadi salah satu saksi dalam kasus megakorupsi KTP elektronik yang meninggal dunia. Namun, dia bukan satu-satunya orang yang menemukan sesuatu yang aneh tentang proyek tersebut dan meninggal.

Ada dua saksi lain yang diketahui telah meninggal. Mereka adalah politisi Partai Demokrat, Mayjen TNI (Purn) Ignatius Mulyono dan anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Golkar, Mustokoweni.

Ignatius meninggal pada 1 Desember 2015 di RS Medistra Jakarta. Mantan anggota Komisi III itu meninggal karena penyakit jantung. Sementara itu, Mustokoweni meninggal dunia pada 18 Juni 2010 di RS Elizabeth Semarang, Jawa Tengah.

Dalam dakwaan terhadap Irman dan Sugiharto, Ignatius dan Mustokoweni diduga menerima aliran uang hasil korupsi proyek KTP Elektronik. Ignatius disebut menerima US$258 ribu, sedangkan Mustokoweni disebut menerima US$408 ribu. Baca selengkapnya Di Sini.

Ratusan penumpang Lion Air turun dari pesawat

Sebanyak 120 penumpang reguler Lion Air JT 673 terpaksa menunda perjalanannya lebih lama. Pasalnya, pesawat yang akan mengangkut mereka ke Balikpapan, Kalimantan Timur itu sudah terbang dan menurunkan penumpang di Bandara Internasional Juwata Tarakan.

Kronologis tidak terangkutnya calon penumpang yang sudah memiliki tiket resmi disebabkan jadwal atau jadwal keberangkatan terhambat karena gangguan (sistem down). Hal ini mengakibatkan petugas maskapai terkait terpaksa melakukan proses check in secara manual.

Proses check-in manual dilakukan mulai pukul 04:30 WITA. Padahal petugas ground handling sudah berkoordinasi dengan kapten pesawat Lion Air JT 673, namun kapten menolak memberikan waktu dan ingin berangkat sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Akibatnya, ratusan penumpang harus bersiap ditinggal, meski sebagian sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. Dari total 206 penumpang terdaftar, hanya 86 penumpang yang berangkat ke Balikpapan. Baca selengkapnya Di Sini.

Kunjungi acara We The Fest, Jokowi ingin memahami generasi milenial

Presiden Joko “Jokowi” Widodo melakukan kunjungan mendadak ke festival musik We The Fest 2017 di JIExpo Kemayoran tadi malam. Kehadiran Jokowi di acara We The Fest merupakan sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya.

Jokowi mengatakan kepada media bahwa alasannya mampir ke acara We The Fest karena ingin memahami generasi milenial.

“Agar kita bisa mengantisipasi kebijakan nanti dan kemudian menyiapkan kebijakan ke depan tentang apa yang perlu kita lakukan. Kalau kita tidak tahu, bagaimana kita menyiapkan kebijakan,” kata Jokowi saat ditemui awak media di JI Expo Kemayoran.

Selain itu, ia mengatakan industri kreatif merupakan industri yang memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Pangsa pasarnya juga besar.

Menurutnya, program We The Fest dapat ditingkatkan ke skala internasional dan dipromosikan ke luar negeri. Namun, sebelum itu dilakukan, harus ada pembenahan di beberapa lini. Ia menyarankan agar panitia membandingkan penampilan artis asing yang bermain di We The Fest dengan musisi lokal.

“Harus diperbaiki di mana. Saya kira misalnya di event-event ini tata panggungnya bagus, tata lampunya bagus, tata kelola penontonnya juga bagus,” ujarnya.

Kehadirannya di acara tersebut juga untuk mengupdate pengetahuan para entertainer yang tampil. Ia pun tak segan-segan mengakui bahwa para musisi yang tampil berasal dari generasi yang berbeda.

TIDAK, TIDAK. (SAYA) TIDAK tahu (siapa yang muncul). Di era saya (musisi) Ledd Zeppelin, Nazareth, Judas Priest, Metallica. Itu era-era yang menurut saya berbeda,” ujarnya.

Namun, di acara tersebut, Jokowi terlihat menikmati penampilan musik sambil menganggukkan kepala di sela-sela band Charlie XCX.

Megawati: Orang-orang hanya berani mengatakan Pak Jokowi diktator di media sosial

PERTEMUAN TAHUNAN.  Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri (paling kanan) bersama Ketua MPR Zulkifli Hasan (kanan), Menko PMK Puan Maharani (ketiga kiri) dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto (paling kiri) menyapa awak media sebelum pembukaan menghadiri acara Sidang Tahunan MPR RI 2018 Tahun 2016 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 16 Agustus.  Foto oleh M Agung Rajasa/ANTARA

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengaku tak habis pikir jika ada pihak yang menyebut Presiden Joko Widodo sebagai diktator. Pasalnya, sikap tersebut sama sekali tidak tercermin saat dirinya masih menjadi walikota dan gubernur.

“Pak Jokowi disebut diktator, kata orang bisa buktikan kediktatoran Pak Jokowi?” kata Megawati pada Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Bogor, Jawa Barat.

Ia lantas menceritakan bagaimana ia mengikuti kiprah Jokowi sejak menjadi Wali Kota Solo. Saat itu, Jokowi ingin melakukan razia desa dari satu tempat ke tempat lain. Alih-alih menggusurnya langsung, ia memilih berulang kali mengajak warga sekitar untuk makan.

“Itu dilakukan bolak-balik hingga 57 kali. Sampai saya ikut-ikutan saja bosan,” ujarnya.

Dia rupanya memilih jalur diplomasi agar warga bersedia pindah secara sukarela.

Di mata Mega, selama ini masyarakat hanya berani mem-bully Jokowi di media sosial. Saat berhadapan langsung dengan individu yang bersangkutan, mereka memilih diam.

“Pak Jokowi sekarang disebut diktator. Nah, secara jantan mereka harus bertemu dan bertatap muka. Sekarang orang nge-bully orang, berani-beraninya medsos,” ujarnya. Baca selengkapnya Di Sini. – Rappler.com

Data Sidney