Berita hari ini : Selasa 21 Februari 2017
keren989
- 0
Perkembangan berita terkini yang perlu Anda ketahui.
Halo pembaca Rappler,
Pantau terus halaman ini untuk mengetahui update berita terkini yang dihimpun redaksi Rappler Indonesia pada Selasa, 21 Februari 2017.
Calon gubernur nomor urut tiga, Anies Baswedan mengaku heran mengapa banyak pihak yang mengkritik program cicilan rumah yang ia rintis bersama Sandiaga Uno. Kritik tersebut juga disuarakan lawannya di Pilkada DKI putaran kedua, calon petahana Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.
Pemerintah melalui Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan bank sentral mengatur loan to value untuk bisa membiayai properti. Dalam peraturan ini diatur besaran minimal angsuran. Agus mengatakan, harus ada minimal uang muka dalam penyaluran kredit properti. Kalau DPnya nol persen, justru melanggar ketentuan.
Anies pun mempertanyakan kebijakan tersebut. Mengapa aturannya tidak bisa disesuaikan agar warga bisa memiliki rumah pribadi?
“Kenapa regulasinya tidak disesuaikan saja agar masyarakat punya rumah? Filosofi kami begini, kenapa kalau daur ulang aturan (bisa) dilewati, maka perpindahan aturan pun dilewati. Tapi kalau bicara masyarakat yang punya rumah, aturannya adalah aturannya, kata Anies. Baca selengkapnya Di Sini.
Ibu kota Jakarta kembali dilanda banjir tahunan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan 54 titik di Jakarta terendam air banjir.
Hal ini kemudian dikritik oleh calon gubernur nomor urut tiga, Anies Baswedan, yang mengunjungi lokasi banjir di Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Dia menyebut, program banjir yang dikelola Pemprov DKI tidak berhasil.
Gubernur DKI Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama pun langsung merespons pernyataan Anies. Ia justru mengklaim Pemprov berhasil meredam banjir dari tahun ke tahun dan hal itu terlihat secara kasat mata.
Titik banjir di Jakarta dari tahun ke tahun semakin berkurang, kata Ahok saat mengunjungi Kompleks Garuda di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.
Data yang dimilikinya, titik banjir di Jakarta menyusut signifikan. Pada tahun 2012 terdapat 2.200 titik banjir dan pada tahun 2016 jumlahnya hanya 80 titik.
“Matematika sederhana. “Kalau (skor) bencananya diturunkan dari 2.000 menjadi 80 berarti sukses,” ujarnya. Baca selengkapnya Di Sini.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan negara menderita kerugian setidaknya Rp 30 triliun setiap tahunnya akibat bencana. Saat ini, menurut BNPB, sebanyak 148,4 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah rawan gempa, 5 juta di daerah rawan tsunami.
Selain itu, 1,2 juta orang tinggal di daerah rawan letusan gunung berapi, 63,7 juta orang tinggal di daerah rawan banjir, dan 40,9 juta orang tinggal di daerah rawan longsor.
BNPB juga mencatat terdapat 386 kabupaten/kota yang berada pada zona bahaya gempa sedang hingga tinggi. Selain itu, terdapat 233 kabupaten/kota yang berada di wilayah rawan tsunami. Sebanyak 75 kabupaten/kota lainnya terancam erupsi gunung berapi. Baca berita selengkapnya Di Sini.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, pendapatan pemerintah dari PT Freeport Indonesia sangat kecil dibandingkan pendapatan dari sektor lain. Bahkan, nilai pajak yang dibayarkan PT Freeport lebih rendah dibandingkan penerimaan cukai rokok yang mencapai nominal Rp 139 triliun.
Devisa yang disumbangkan TKI sendiri mencapai Rp 144 triliun.
“Nah, Freeport hanya bayar Rp 8 triliun (pajak). adalah sangat pemilih. Sebenarnya wajib pajak lain lebih besar, tapi ya santai aja,” kata Jonan saat menjadi pembawa acara kuliah tamu dan workshop peningkatan kapasitas energi baru terbarukan (EBT) di Hall Dome Universitas Muhammadiyah.
Angka kontribusi sebesar Rp8 triliun itu diperoleh dari nominal royalti dan pajak yang dibayarkan PT Freeport Indonesia kepada negara sebesar Rp214 triliun dalam kurun waktu 25 tahun.
Diakui Jonan, kekayaan sumber daya alam (NRW) yang besar bisa mensejahterakan masyarakat suatu negara, meski hal itu tidak selalu menjadi jaminan.
“Sebaliknya, banyak negara yang tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, namun kesejahteraan masyarakatnya cenderung tinggi. “Semua tergantung produktivitas masing-masing negara dan sumber daya manusianya,” kata Jonan lagi. Baca selengkapnya Di Sini. – Rappler.com