• January 12, 2026
Brasil v Afrika Selatan: Hapus kutukan Olimpiade

Brasil v Afrika Selatan: Hapus kutukan Olimpiade

JAKARTA, Indonesia – Peluang meraih gelar besar kembali terbuka di depan mata publik Brasil. Setelah Piala Dunia 1950, Piala Dunia 2014 juga digelar di kampung halamannya. Namun tak satu pun dari mereka yang mendapatkan singgasana juara.

Kesempatan yang sama kembali hadir. Kali ini adalah Olimpiade 2016. Memang ajang ini tidak memiliki gengsi yang sama turnamen besar sepak bola lainnya.

Seperti yang dikatakan Fernando Santos, pelatih asal Portugal yang membawa Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan meraih kemenangan di Euro 2016: “Olimpiade adalah perayaan olahraga selain sepak bola. Kami tidak akan membuang banyak energi di sana, ” dia mengatakan dalam sebuah wawancara.

Portugal—dan mungkin beberapa tim lainnya—mungkin meremehkan ajang sepak bola di Olimpiade. Namun tidak bagi Brasil. Mereka adalah tuan rumahnya. Sebagai negara sepak bola, tim mendapat julukan tersebut Canarinho Wajib menjaga harkat dan martabat negara sendiri.

Apalagi, kenangan kekalahan menyakitkan di Belo Horizonte masih terpatri jelas di benak para pemain Brazil-Brazil. Trauma dikalahkan Jerman 1-7 di semifinal Piala Dunia 2014 membutuhkan penebusan dosa. Yakni meraih juara Olimpiade 2016 di bidang sepak bola.

Masalahnya, “hoki” juara Piala Dunia lima kali itu di Olimpiade sangat buruk. Sepanjang keikutsertaannya di ajang empat tahunan ini, mereka tampil di partai puncak sebanyak tiga kali. Namun tak satu pun dari mereka yang menjadi juara.

Terakhir, mereka pun lolos ke final Olimpiade 2012 di London. Namun, mereka kalah 1-2 melawan Meksiko. Praktis, tim tersebut dijuluki Selecao tidak pernah sekalipun memenangkan medali emas sepak bola. Akankah “kutukan Olimpiade” kali ini bertahan?

Melihat persaingan di babak penyisihan grup, tim asuhan Rogerio Micale tidak akan menghadapi banyak kesulitan. Mereka tergabung di grup A bersama Afrika Selatan, Iran, dan Denmark.

Kemungkinan besar, Brasil akan memenangkan grup dan memberikan perlawanan penerus grup B di perempat final. Di babak semifinal, mereka hanya akan bertanding melawan tim-tim kuat.

Lawan potensial yang mungkin bisa mencegahnya adalah Argentina, Jerman atau Portugal. Sebab tim-tim tersebut berpotensi paling besar untuk melaju ke empat besar.

Namun, Brasil juga harus melihat peluang di ajang ini. Olimpiade tidak akan seketat ajang sepak bola lainnya. Sebab, banyak bintang tim besar yang absen.

Tidak ada Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Praktis, beberapa nama besar yang bisa – setidaknya – tampil di olahraga ini adalah bintang Nigeria John Obi Mikel (Chelsea), pemain Jerman Serge Gnabry (Arsenal), Lars Bender (Bayern Leverkusen), dan pemain Argentina Giovanni Simeone. .

Tidak ingin bergantung pada Neymar

Brasil harus menunjukkan bahwa mereka mampu menghapus kutukan Olimpiade. Salah satu caranya adalah dengan menang meyakinkan melawan Afrika Selatan, Jumat 5 Agustus, pukul 02:00 WIB dini hari.

Brasil mengumumkan berdiri dalam barisan mereka menghadapi Junior Bafana—julukan tim U-23 Afrika Selatan. Beberapa nama besar di tim U-23 adalah Neymar (Barcelona), Douglas Costa (Bayern Munich), dan Gabigol (Santos). Ngomong-ngomong, ketiganya berposisi di lini depan.

Nama keluarga itu melejit karena diyakini akan bertarung dua tim besar Serie A: Inter Milan dan Juventus.

Selain trio terobosan, nama-nama pemain muda Selecao yang lainnya adalah Marquinhos. Bek Paris Saint-Germain itu siap mengawal lini pertahanan Brasil.

Selain mereka, para pemain di dalam berdiri dalam barisan Fred (Shakhtar Donetsk) dan Felipe Anderson (Lazio) bermain di Eropa.

Sedangkan nama pemain asal Brasil lainnya merupakan pemain yang memperkuat klub lokal. Mereka termasuk: punggung penuh Douglas Santos (Atletico-MG), William (Internasional), Dan Rodrigo Caiao (Sao Paulo).

Sebenarnya di antara nama-nama tersebut, Neymar bisa dibilang sebagai nama yang paling mencolok. Bukan hanya penampilannya di Barcelona yang lebih baik dari rekan-rekan setimnya, tapi juga angka-angkanya topidia sambil memakai warna kuning kenari.

Neymar mengumpulkan 70 topi. Bandingkan dengan Douglas Costa, rekan penyerangnya, yang baru mencetak 7 gol topi.

Neymar juga yang paling berpengalaman Selecao semuda ini Pemuda kelahiran Mogi daz Cruzes ini membela Brasil sejak Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Dengan pengalaman di sepakbola level tinggi, suka atau tidak suka, pasukan Rogerio Micale akan sangat bergantung pada Neymar alias. Ketergantungan Neymar.

Namun Rogerio menolak gagasan tersebut. Ia mengakui Neymar adalah bintang paling cemerlang di timnya. Namun dia tidak ingin semua orang bergantung padanya. “Mereka mengatakan bagus jika bergantung pada Neymar. Tapi saya tidak setuju,” kata dia Rogerio seperti dikutip Telegraph.

“Tetapi bukan berarti saya akan mengesampingkannya. “Dia akan selalu menjadi bagian dari tim,” tambahnya.—Rappler.com

Data HKKeluaran HKPengeluaran HK