Catatan akhir Festival Sastra ASEAN: Jangan kembali diam
keren989
- 0
Saat saya menulis artikel ini, saya ditemani oleh Lagu sunyi dari seorang bisu oleh Pramoedya Ananta Tour dan Nyanyian Bunga Hening Genjer ditulis oleh Faiza Mardzoeki.
Kedua buku itu saya baca ulang karena ingin menikmati kesunyian di tengah kegaduhan palu arit yang diyakini Kapolri Jenderal Badrodin Haiti sebagai ancaman serius bagi keamanan nasional dan dipercaya oleh front pemuda. yang selalu memakai pinggiran pancasila sebagai kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sambil mendengarkan lagu Genjer-Genjer diaransemen ulang oleh musisi muda Yudha Perdana di Soundcloud dan menyeduh secangkir teh, saya menulis blog ini. Shahdan. Pagi dan batas waktu.
Kemewahan ini saya rasakan di tahun ketika semua orang (seharusnya) bebas berekspresi.
Tidak ada teror fisik atau penculikan, bahkan penangkapan seperti yang terjadi pada tahun 1965. Sedikit teror, penangkapan sejumlah orang karena menggunakan fitur palu arit, meski polisi tak pernah mengungkap siapa dalang di balik itu semua.
(BACA: Seorang Penjual Kopi di Malang Ditangkap Karena Pakai Kaos Palu Arit)
Sebelumnya mereka berdiskusi dan menyanyikan karya-karya orang Lekra, seperti Pram Genjer-Genjer merasa tidak nyaman dengan masyarakat kita, bahkan mengadakan diskusi tentang tragedi pembantaian tahun 1965 menjadi sulit saat itu.
Namun angin surga berhembus pelan ketika pemerintah memutuskan menggelar diskusi bersejarah Simposium Nasional 1965 di Hotel Aryaduta, Jakarta pada pertengahan April lalu.
Saya ada di sana dan meliput dari awal hingga akhir. Saya menjaga setiap perkataan yang berasal dari kesaksian setiap sumber karena itu adalah sejarah yang siap direkam dalam bentuk berita. Dan suatu hari akan masuk– google oleh cucu kita. Oh, mungkin besok saya tidak akan menggunakan Google lagi, saya tidak tahu apa nama mesin pencari itu.
Dalam simposium tersebut, pelaku dan korban saling berhadapan. Dialog mengalir meski terkadang tersendat-sendat. Klarifikasi demi klarifikasi dijahit untuk meluruskan konsep yang disebut: Meluruskan sejarah tragedi 1965.
Angin kemudian berlanjut dengan diadakannya Festival Sastra ASEAN yang diprakarsai oleh seorang sastrawan muda, Okky Madasari. Di tangan Okky, ALF tahun ini semakin ramai.
Okky memutuskan untuk menyuarakan mereka yang dibungkam, seperti tragedi 1965, LGBT, hingga Papua. Keputusan yang belum pernah dia buat di tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Okky kepada Rappler, dirinya hanya mengikuti perkembangan zaman.
Sedikitnya ada tiga peristiwa yang membahas tragedi 1965 tersebut. Percakapan dengan masyarakat mendongeng Hati-hati65 yang saya buat sendiri bersama Prodita Sabarini dan kawan-kawan lainnya, diskusi tentang pengungsi dan eksil di tahun ’65 oleh penulis Leila S Chudori, dan terakhir monolog drama untuk peluncuran buku Nyanyian Bunga Hening Genjer.
Ingat 65 dan Ingat 48
Dalam sesi yang saya tunjuk sendiri sebagai pembicara, sesi Ingat 65, juga ada upaya untuk mengoreksi sejarah. Saya menjelaskan kepada seorang peserta, mengapa Ingat 65, mengapa tidak Ingat 48?
Sejarah mencatat, peristiwa tewasnya sejumlah kyai di Madiun pada tahun 1948 merupakan pembantaian yang memakan korban dari dua pihak, yaitu sayap non-PKI dan PKI.
Dalam hal ini, negara menjalankan fungsi penegakan hukumnya. Setahun kemudian pemerintah mengeluarkan surat permintaan maaf kepada PKI yang ditandatangani Menteri Kehakiman Soesanto Tirtoprodjo, pada 7 September 1949.
Isinya: Pemerintah tidak akan menuntut PKI. Hal itu bisa Anda baca di buku seri sejarah terbitan Tempo dengan judul Musso.
Aktivis 1998, Dhyta Caturani, yang juga terlibat dalam film terkait peristiwa 1948, juga menegaskan kasus 1948 sudah ditutup. ‘Jadi jika kita berbicara tentang penyelesaian’65 tidak bisa dikait-kaitkan dengan peristiwa ’48, maka ’48 sudah diselesaikan,” ujarnya.
Tapi apakah ada hubungan sebab akibat? Peserta bertanya lagi.
Jadi saya menjawab. “Jika dialog tentang ’65 ini tidak selalu dibungkam, apakah saya, kita semua, dapat menjawab pertanyaan Anda, karena itu 65 harus kita bicarakan, karena kita juga ingin mengetahui lebih lengkap apa yang sebenarnya terjadi di 1965?”
Dalam sesi ini kita tidak hanya berbicara tentang ’48, tetapi kita juga mendengarkan pernyataan dari pihak yang berseberangan di masa lalu, keluarga para jenderal yang terbunuh.
Puri Lestari, cucu seorang jenderal yang meninggal pada peristiwa ’65, secara khusus meminta maaf kepada seluruh peserta dan masyarakat pada umumnya, jika kematian kakeknya dijadikan alasan Orde Baru untuk menakut-nakuti orang agar berbicara tentang tragedi 1965 , tentunya dalam konteks mengoreksi sejarah.
Pisahkan para ulama
Di sesi lain juga terungkap bagaimana orang-orang terpelajar dari Indonesia yang dikirim ke luar negeri atau yang mengikuti seminar di luar negeri dicekal dari negaranya sendiri.
Leila S Chudori juga membeberkan cerita tentang eksil atau pendatang yang terpaksa keluar negeri, dengan paspornya dicabut oleh penguasa Orde Baru, karena dianggap terkait dengan petinggi PKI atau pemerintahan Sukarno saat itu.
Fokus Leila pada pengasingan sebenarnya bukan hal baru, dia pernah menulis tentang itu sebelumnya di novel pulang ke rumah.
Hananto Prawiro dan Dimas Suryo, dua tokoh utama dalam novel tersebut, dikisahkan sebagai korban tragedi 1965. Hananto tewas setelah peluru ditembakkan dari cold gun yang tertancap di tubuhnya, dan Dimas Suryo yang meninggal di negeri paling romantis. berakhir terasing. , Prancis.
Banyak dari kisah pengasingan ini telah diambil oleh para penulis dan seniman di Indonesia. Terakhir Secangkir cerita kopi dari Playa digunakan sebagai sisipan dalam film Ada apa dengan cinta? 2.
Widodo Suwardjo, pemuda kelahiran 2 September 1940, dan kekasihnya, putri sulung direktur sebuah perusahaan negara, menjadi pemeran utama dalam Papermoon Puppet Theatre karya Ria dan Iwan Effendi.
Konon, setelah menamatkan studinya di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Widodo mendapat kehormatan melanjutkan studi jauh ke Moskow, Rusia pada 1959.
Sebelum dia pergi, dia bertunangan dan bahkan berencana untuk menikah setelah tugas belajarnya. Tahun-tahun berlalu, surat cinta di antara mereka harus diinterupsi oleh peristiwa 30 September 1965.
Leila secara politis menyoroti pengasingan orang-orang terpelajar ini. Bahkan, dia melakukan penelitian khusus. Temuan Leila adalah bahwa ada orang buangan yang harus melakukan perjalanan keliling 10 negara untuk akhirnya menemukan negara yang aman bagi mereka. Cerita yang panjang.
Bunga jahe dan simbol perlawanan wanita
Di hari ketiga, Faiza Mardzoeki membuat jantung saya berdegup kencang. Bagaimana tidak, ia akan menyajikan kisah seorang anggota Gerakan Perempuan Indonesia (Gerwani). Ringkaslah namanya.
Sumilah, tokoh dalam monolog yang diperankan oleh Pipien Putri, adalah seorang penari yang juga mewakili aktivis perempuan di zamannya.
Ia sering bernyanyi Genjer-Genjer, yang sebenarnya merupakan simbol kemiskinan. Awalnya, pada tahun 1942, lagu tersebut berkembang Kesenian Angklung judul yang diketahui Genjer-Genjer.
Saat itu kondisi masyarakat sedang mengalami krisis dibandingkan sebelumnya. Bahkan genjer, atau tanaman berumput yang tumbuh di rawa-rawa yang dulunya dimakan bebek, akhirnya menjadi makanan lezat karena orang tidak mampu membeli daging.
Genjer-Genjer dipopulerkan setelah Indonesia merdeka karena dinyanyikan oleh Lilis Suryani dan Bing Slamet.
PKI kemudian menggunakan lagu ini sebagai bahan kampanye untuk mengangkat isu kemiskinan di desa.
Namun dalam monolog Faiza, karakter Sumilah ditampilkan, menceritakan pengalamannya diinterogasi tentara dalam keadaan telanjang. Dia ditelanjangi dan harus menjawab pertanyaan seperti, apakah dia ikut menari dan memotong kemaluan para jenderal yang diduga dieksekusi oleh PKI?
Monolog ini merupakan diskursus tandingan terhadap skenario nasib aktivis perempuan pada peristiwa 1965 oleh Orde Baru.
Menurut Orde Baru saat itu, aktivis Gerwani adalah perempuan lepas. Mereka memotong kemaluan sang jenderal dan mengumpulkan jenazahnya di lubang mati di kawasan Lubang Buaya, Jakarta.
Selain itu, wanita “pelacur” yang menjadi sasaran Gerwani digambarkan menari “Tari Bunga Harum” telanjang untuk merayakan kemenangan.
Tarian setan diiringi dengan sebuah lagu Genjer-Genjer yang bernuansa mistis, sebagai pelengkap cerita horor pembunuhan 7 jenderal pada 1 Oktober 1965. Read more Di Sini.
Namun seorang peneliti, Saskia Eleonora Wieringa, dalam bukunya penghancuran Gerakan Perempuan, menyangkal skenario ini.
Itu ditulis oleh Rio Apinino di Indoprogress, bahwa ada upaya memutarbalikkan fakta tentang Gerwani. Bahkan, Gerwani fokus pada perjuangan perempuan, mulai dari penolakan poligami, kampanye anti pernikahan dini, hingga pemberantasan buta aksara.
Gerwani juga memiliki jaringan yang luas dan kuat dengan organisasi-organisasi perempuan internasional. Buktinya, Gerwani ikut serta dalam federasi perempuan internasional, Women International Democratic Federation (WIDF), yang didirikan pada 1945. Gerwani juga ikut serta dalam Kongres Perempuan di Paris.
Pertanyaannya, pihak mana yang geram dengan aksi aktivis Gerwani? Pembaca silahkan cari sendiri jawabannya.
Lalu apa yang harus dilakukan setelah ALF?
Teman saya, Dhyta Caturani, menulis di status Facebooknya, “Keberanian itu menular. Teruslah berbicara, karena keberanianmu untuk berbicara akan menular.”
Jika ada satu orang yang berani berbicara, maka orang lain akan tergerak untuk berbicara juga. Jangan bicara untuk membuat resah pihak lain, tapi demi tanggung jawab yang lebih besar. Tanggung jawab untuk mengoreksi sejarah pada generasi setelah kita.
Berbicara atau menulis, sama saja. Yang penting jangan diam (lagi). —Rappler.com
Febriana Firdaus adalah jurnalis Rappler Indonesia. Ia fokus membahas isu korupsi, HAM, LGBT dan buruh migran. Selain jurnalis, ia juga produser Podcast di @Ingat65. Febro, sapaan akrabnya, bisa disapa @febrofirdaus.