Chatib Basri: RAPBN 2018: Realistis dan cenderung konservatif
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri mengatakan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% yang diumumkan pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam RAPBN 2018 adalah realistis dan cenderung konservatif.
“Harus diakui, target pertumbuhan 5,4% itu tidak mudah,” kata Chatib Basri dalam komentar pengantar nota keuangan RUU Pendapatan dan Belanja Negara di dinding akun Facebooknya, Rabu 16 Agustus 2017. .
Chatib juga menulis, “Target pajak meningkat sebesar 9% dibandingkan Pandangan 2017. Defisit primer turun 45% dibandingkan tahun 2017.” Lebih lanjut, “Total pembelanjaan naik 5% jika dibandingkan Pandangan Tahun 2017. Dana PKH meningkat signifikan. Defisit anggaran turun dari 2,67% pada tahun 2017 menjadi 2,19%.” PKH adalah Program Keluarga Harapan.
Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini, “RAPBN 2018 mencerminkan konsolidasi fiskal setelah tahun 2015 dan 2016 yang memiliki sasaran yang sangat agresif. RAPBN 2018 mencerminkan anggaran yang kredibel.”
Dalam Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2018, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4% yang dicapai dengan dukungan konsumsi rumah tangga yang berkelanjutan, peningkatan investasi, dan peningkatan kinerja ekspor-impor.
“Pada tahun 2018, pemerintah akan fokus mendukung pertumbuhan wilayah Maluku, Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali serta Nusa Tenggara dengan memperkuat hubungan dengan pulau Jawa dan Sumatera yang merupakan penyumbang terbesar perekonomian nasional,” kata Presiden. Joko “Jokowi” Widodo dalam pidato pengantar Nota Keuangan RAPBN Tahun 2018 di hadapan Sidang Paripurna DPR RI, sekaligus pembukaan masa sidang I Tahun 2017-2018.
(BA: Jokowi menyampaikan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% dalam RAPBN 2018)
Menanggapi status Facebook Chatib Basri, Anton Gunawan berkomentar: “Target peningkatan penerimaan pajak sebesar 9,3% berdasarkan angka target APBN-P 2017 yang tampaknya sulit dicapai pada tahun ini. (100 T an), oleh karena itu pertumbuhan Penerimaan pajak tahun 2018 akan naik menjadi 20%… ini sulit dicapai,” kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton.
Anton juga mengatakan: “Saya ingin melihat penurunan signifikan dalam target defisit primer, yang merupakan masalah yang perlu diatasi.”
Chatib Basri membalas Anton dan berkata: “Dari Pandangan 2017, bukan APBN-P. Akan ada pendek (defisit), tapi perkiraan saya tidak sampai 20%. Jadi kesenjangannya akan jauh lebih kecil. Pertumbuhan dari tahun ke tahun Pajak sudah di atas 10%.”
Lebih lanjut Chatib Basri menjawab Anton, “Selain itu, kalau dilewatkan tidak apa-apa. Dengan defisit sebesar 2,19%, Anda tidak perlu khawatir. Mungkin turun ke 2,4-2,5 dan itu sudah pasti bagus.”
Target pajak RAPBN tahun 2018
Jokowi dalam pidatonya menyampaikan bahwa untuk mencapai target pembangunan di atas, perlu dilakukan peningkatan Pendapatan Negara hingga Rp1.878,4 triliun pada tahun 2018.
Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah akan melakukan langkah-langkah perbaikan di bidang perpajakan, antara lain dengan melaksanakan reformasi perpajakan, penyempurnaan sistem data dan informasi perpajakan, serta peningkatan basis pajak dan pencegahan praktik penghindaran pajak melalui keterbukaan informasi perpajakan (Pertukaran informasi otomatis).
Namun Pemerintah akan terus mendukung kemajuan dunia usaha dengan memberikan insentif perpajakan, kata Jokowi.
Jokowi juga mengatakan, merujuk pada tema kebijakan fiskal tahun 2018 dan strategi pendukungnya, pendapatan negara dalam RAPBN tahun 2018 direncanakan sebesar Rp1.878,4 triliun.
Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak direncanakan sebesar Rp1.609,4 triliun dan penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp267,9 triliun.
Pemerintah akan berupaya maksimal untuk mencapai target pendapatan dengan berbagai langkah perbaikan dan memanfaatkan seluruh potensi perekonomian nasional, dengan tetap menjaga iklim investasi dan stabilitas dunia usaha, kata Jokowi.
Dalam target penerimaan pajak RAPBN 2018 sebesar Rp1.609,4 triliun, berasal dari Pph migas sebesar Rp35,9 triliun, Pph nonmigas sebesar Rp1.379,4 triliun, dari bea cukai dan Bea Cukai senilai Rp194,1 triliun. Dari angka tersebut terlihat penerimaan pajak saja sebesar Rp 1.415,3 triliun.
Rasio pajak tahun 2017 tercatat sebesar 11,5% terhadap PDB atau produk domestik bruto
Berdasarkan Pandangan Tahun 2017 sebagaimana dilansir Kementerian Keuangan, tahun 2017 penerimaan pajak sebesar Rp 1.472,7 triliun. Pada tahun 2016 senilai 1.285 triliun, sedangkan penerimaan pajak pada tahun 2015 sebesar Rp 1.240,4 triliun.
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), Yani Motik, mengatakan dunia usaha hendaknya mencermati angka asumsi indikator makroekonomi yang digunakan pemerintah dalam penyusunan RAPBN 2018.
“Saya masih ragu apakah kita bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%. Karena investasi masih ada. Dana desa tidak efektif. APBD banyak yang terhenti. “Harga komoditas yang stagnan cenderung turun,” kata Yani Motik.
Mantan Menteri Keuangan era Soeharto, Fuad Bawazier mengingatkan, stabilitas makro penting, namun tidak cukup. “Ukuran keberhasilan sebenarnya ada pada sektor riil atau mikro. “Di sektor mikro kita terpukul,” kata Fuad melalui pesan singkat.
Fuad juga mengaku bersyukur Jokowi (pemerintah) aktif membangun infrastruktur yang akan meningkatkan perekonomian Indonesia dalam jangka menengah dan panjang. –Rappler.com