• April 4, 2025
China protes nelayannya ditangkap Indonesia

China protes nelayannya ditangkap Indonesia

Tiongkok bersikeras bahwa para nelayannya menangkap ikan secara legal.

JAKARTA, Indonesia – Kementerian Luar Negeri China melayangkan protes ke Indonesia setelah TNI Angkatan Laut menangkap kapal Gui Bei Yu 27088 dan 8 awaknya. Sikap Indonesia direspon tegas oleh China melalui juru bicaranya, Hua Chunying.

TNI Angkatan Laut menangkap mereka karena diyakini melakukan praktik penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia. Sementara itu, Tiongkok mempunyai pendapat berbeda.

“China dan Indonesia berbeda pandangan mengenai wilayah perairan tempat kejadian tersebut terjadi,” kata Hua dalam konferensi pers yang digelar di Beijing, Senin, 30 Mei seperti dikutip dari Antara. Reuters.

Hua menjelaskan, apa yang dilakukan kapal nelayan Tiongkok di sana hanyalah aktivitas penangkapan ikan biasa.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan pihaknya akan segera menginformasikan kepada Kedutaan Besar China di Jakarta mengenai penangkapan 8 awak kapal tersebut. Pemberitahuan tersebut, kata Arrmanatha, seharusnya sudah diterima pihak KBRI hari ini.

“Bahkan memang ada penangkapan terhadap awak kapal dan setiap tindakan yang dilakukan sudah tepat dan terukur. Berdasarkan informasi TNI Angkatan Laut, kapal Tiongkok tersebut memang melakukan pelanggaran dan telah ditangkap, kata pria yang akrab disapa Tata itu kepada Rappler saat dihubungi melalui telepon, Senin, 30 Mei.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Komandan Lantamal IV Laksamana Pertama S. Irawan di Tanjungpinang, kapal Gui Bei Yu dikejar KRI Oswald Siahaan-354 setelah diketahui mencuri ikan di perairan Natuna, Kepulauan Riau pada Jumat, 27 Mei.

“Ada 8 awak kapal yang berhasil diamankan. Penangkapan tersebut terjadi secara dramatis karena dibayangi oleh kapal penjaga pantai Tiongkok, kata Irawan, Jumat pekan lalu.

Kejadian bermula pada pukul 13.30 WIB. Saat itu, kapal fregat KRI Oswald Siahaan-354 sedang berpatroli untuk mengamankan perairan Indonesia di Natuna pada posisi 05 16 00 LU dan 110 14 00 BT.

Selanjutnya Komandan KRI Oswald Siahaan, Kolonel Marinir (P) I Gung Putu Alit Jaya memerintahkan petugas jaga untuk mendekati kontak radar pada jarak 6 NM dari kontak pengawasan.

Begitu mengetahui keberadaan KRI Oswald Siahaan-354, kapal nelayan China tiba-tiba berubah haluan dan meningkatkan kecepatan hingga 8 knot. Putu memerintahkan untuk menyalip dan menambah kecepatan kapal menjadi 16 knot. Ia juga memerintahkan kesiapan anggota peran penanggulangan bahaya umum.

Kapal penangkap ikan Gui Bei Yu 27088 telah beberapa kali diperingatkan oleh TNI Angkatan Laut. Mereka menggunakan metode peringatan kontak radio, peringatan melalui pengeras suara dan bahkan tembakan peringatan ke udara.

“Kami juga melepaskan tembakan ke kanan dan kiri busur, namun tidak dihiraukan. Bahkan, perahu nelayan tersebut melakukan gerakan zigzag dan akhirnya aksi paling kejam adalah menembak di atas jembatan, kata Putu.

Dia menjelaskan, penangkapan tersebut semata-mata untuk memberikan pengetahuan dan peringatan kepada asing bahwa Komando Armada Barat (Koarmabar) menindak tegas kapal-kapal yang melakukan pelanggaran di wilayah hukum Indonesia.

Ini kali kedua Indonesia menangkap kapal nelayan Tiongkok di dekat perairan Natuna. Kejadian serupa juga terjadi pada 19 Maret. Kapal Kway Fey dilaporkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (MAF) melakukan tindakan illegal fishing di perairan Natuna.

Bahkan, ketika PKC sedang menarik kapal Kway Fey untuk memasuki perairan Indonesia, tiba-tiba sebuah kapal penjaga perbatasan Tiongkok menabrakkan armadanya ke kapal Kway Fey. Hal ini membuat geram Menteri Susi Pudjiastuti.

Kementerian Luar Negeri kemudian memanggil Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Xie Feng, sebagai bentuk protes atas tindakan tersebut. Kehadiran Xie Feng kemudian diwakili oleh Wakil Duta Besar.

Pemerintah Indonesia telah meminta penjelasan China atas kejadian di perairan Natuna. Namun hingga saat ini mereka belum memberikan tanggapan.

Demi hubungan baik

Sementara itu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu justru meminta media tidak meributkan insiden penangkapan kapal China pekan lalu. Menurut Ryamizard, hubungan Indonesia dengan China baik sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Masalah yang ada hanya bisa diselesaikan secara hukum. Menkopolhukam juga sudah berkoordinasi, kata Ryamizard saat ditemui di Istana, Senin, 30 Mei.

Ia mengatakan, membangun hubungan baik dengan satu negara tidak mudah, jadi jangan sampai rusak hanya karena masalah tertentu.

“Karena (hubungannya) baik, kemarin Pak Jokowi ke sana (China), begitu pula Pak Luhut. Jangan biarkan (hubungan ini) dirusak oleh orang-orang di bawah Anda TIDAK tampak seperti itu,” dia berkata. – dengan laporan ANTARA/Rappler.com

BACA JUGA:

Data Sydney