Cita-cita generasi muda Jakarta terhadap pemimpin masa depannya
keren989
- 0
Mulai dari permasalahan kemacetan, hak-hak penyandang disabilitas, hingga pelayanan publik yang baik
JAKARTA, Indonesia — Apa peran generasi muda dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Indonesia? Tentunya sebagai warga negara mereka mempunyai peran, hak dan kewajiban yang sama dengan orang dewasa.
Namun pada Pilkada DKI Jakarta tahun ini, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur (cagub-cawagub) kurang memberikan perhatian terhadap generasi muda di Ibu Kota. Padahal, menurut Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta, jumlah pemilih muda berusia 17-30 tahun berjumlah lebih dari 1,9 juta orang atau 27,3 persen dari total Daftar Pemilih Tetap (PLR).
Tentu saja, itu bukan angka yang bisa diabaikan, bukan?
“Konten tentang anak muda mengalami penurunan (di Pilkada kali ini) dibandingkan pemilu presiden beberapa tahun lalu. Memang benar khawatir tentang hal ini, oleh karena itu kami menyukai kegiatan ini,” kata Iman Sjafei, kata salah satu dari 2 YouTuber yang tergabung dalam Asumsi yang sering melakukan like pertunjukan web tentang isu-isu politik nasional dari sudut pandang generasi muda.
(BACA: Rappler Bikin Asumsi Soal Debat Pilkada Kedua DKI)
Bersama Young Synergy Foundation, Asumsi menggelar acara bertajuk “Dengar Dong! Anak Muda Bicara Pilkada DKI” pada Rabu, 8 Februari, di Restoran Es Teler 77, Jakarta Selatan, pada 8 Februari. melihat rencana masing-masing pasangan calon dalam mengakomodir kebutuhan dan hak generasi muda Jakarta ketika terpilih nanti.
Kegiatan diskusi ini mempertemukan panelis muda dari berbagai latar belakang dan profesi dengan perwakilan dari masing-masing pasangan calon gubernur DKI Jakarta.
Acara ini dibagi menjadi 3 segmen yaitu:
- Pemaparan ide dan pertanyaan dari panelis muda yang mewakili berbagai latar belakang dan profesi terkait peran anak muda di Jakarta
- Tanggapan atas ide dan saran yang disampaikan oleh panelis oleh perwakilan tim sukses masing-masing pasangan calon
- Tanggapan dari khalayak umum yang hadir dalam diskusi.
Perwakilan tim sukses masing-masing calon yang hadir dalam kegiatan ini adalah Rizki Aljupri (Agus-Sylvi), Michael Sianipar (Ahok-Djarot), dan Anggawira (Anies-Sandi).
Pertanyaan dan gagasan para panelis dalam diskusi ini sangat luas dan segar untuk didengar. Misalnya, Rozinul Aqli, panelis mahasiswa pasca sarjana dari American University di Kairo, mengomentari kemacetan lalu lintas di Jakarta dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya.
“Hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan bahwa pengembangan angkutan massal dapat mengurangi kemacetan. Menurut saya ini (kemacetan) terjadi karena sebagian besar adalah pekerja komuter dari pinggiran Jakarta. “Jika ingin mengurangi kemacetan, mendekatkan pekerja ke tempat kerjanya (pusat),” kata Rozinul.
(BACA: Angkutan massal saja tidak cukup mengatasi kemacetan di Jakarta)
Panelis lain yang turut menyampaikan pendapatnya adalah Anisa Rahmania, ketua Young Voice Indonesia, sebuah organisasi masyarakat yang anggotanya adalah penyandang disabilitas.
Annisa mencontohkan dirinya yang tunarungu dan sangat sedikit menemukan perhentian yang menggunakan teks isyarat untuk tunarungu.
“Teman tunarungu masih perlu SMS. Namun masih banyak bus dan halte yang tidak ada teksnya. “Masih banyak kendala dalam beraktivitas (bagi teman-teman tuna rungu),” kata seorang penerjemah yang sependapat dengan Annisa.
Bukan hanya soal transportasi atau fasilitas bagi penyandang disabilitas. Diskusi tersebut juga membahas permasalahan pendidikan, khususnya mengenai generasi muda yang enggan menjadi guru. Ada juga tema reforma agraria, ruang kerja bersamadan industri kreatif bagi generasi muda yang juga dibahas oleh para panelis.
Menanggapi segala macam pendapat dan pertanyaan para panelis, perwakilan masing-masing pasangan calon memberikan jawaban berbeda-beda. Jika dibicarakan kemacetan misalnya, Anggawira menilai kemacetan bisa terjadi karena etika pengemudi atau karena terbatasnya jalur angkutan massal yang kurang efisien.
Sementara itu, Rizki berpendapat kemacetan terjadi karena tidak tertatanya baik hubungan antara satu angkutan dengan angkutan lainnya. Di sisi lain, Michael menilai permasalahan ekonomi harus diselesaikan terlebih dahulu untuk mengatasi kemacetan.
Pada sesi ketiga yang memberikan kesempatan kepada peserta diskusi untuk bertanya, muncul beberapa tema yang tidak dibahas di awal diskusi, seperti tentang Abang-None Jakarta.
“Menjadi Abang-None jangan hanya dijadikan jimat, tapi dimanfaatkan otak“untuk ikut serta dalam pembangunan Jakarta,” ujar salah satu peserta perbincangan.
Ada pula yang mengomentari permasalahan administrasi di DKI Jakarta yang kurang maksimal.
“Ketika saya bekerja, perusahaannya buruk Jaga baik-baik Saya bisa bergerak (bekerja). “Tapi kalau KK (Kartu Keluarga), petugasnya (pengelolanya) jelek, saya tidak bisa pindah kecamatan,” kata peserta lainnya.
Acara diskusi ini kemudian diakhiri dengan penandatanganan “Dinding Inspirasi” yang berisi harapan seluruh peserta diskusi oleh masing-masing perwakilan pasangan calon. Ini merupakan simbol janji mereka untuk mewujudkan hak-hak generasi muda saat mereka menjabat. —Rappler.com