• March 22, 2026
Civitas Akademika ISI Yogyakarta meminta kampus melarang kegiatan Hizbut Tahrir

Civitas Akademika ISI Yogyakarta meminta kampus melarang kegiatan Hizbut Tahrir

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Kehadiran Hizbut Tahrir Indonesia di masjid kampus ISI dinilai mengancam kebebasan berekspresi dan berkesenian.

YOGYAKARTA, Indonesia – Civitas Akademika Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menyatakan penolakannya terhadap kehadiran ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada Jumat, 17 Juni di kawasan kampus. Pasalnya, organisasi tersebut dinilai mengancam kebebasan berekspresi dan berkesenian.

Pernyataan tersebut dipicu oleh semakin menguatnya kegiatan HTI yang berpusat di masjid kampus Al Mukhtar. Dalam aktivitasnya, HTI dianggap menyebarkan ideologi anti demokrasi dan membatasi seni. Misalnya saja pada Jumat lalu, seorang khatib memberikan ceramah tentang larangan menggambar dan membuat patung makhluk hidup.

Salah satu alumni dan penggiat aksi, Yustoni Volunteero, menilai pelarangan ini merupakan bentuk nyata hambatan dalam penyelenggaraan kegiatan seni dan keberagaman.

“Padahal, keseragaman seni di kampus akan berdampak buruk bagi masyarakat. “Kalau ada keseragaman di ISI, maka bisa ada (keseragaman) di Indonesia,” kata Yustoni saat memberikan sambutan.

Isi larangan dalam khutbah Jumat pekan lalu dibenarkan salah satu guru seni pahat Fakultas Seni Rupa, Rain Rosidi. Bahkan, beberapa rekannya yang berprofesi sebagai guru, seniman, dan terafiliasi dengan HTI sudah mulai menerapkan larangan tersebut.

“Tapi itu tidak masuk kelas,” katanya.

Oleh karena itu, civitas akademika membuat pernyataan bersama yaitu ISI Yogyakarta merupakan perguruan tinggi yang kreatif dan inovatif.

“Kami juga mendorong pimpinan ISI Yogyakarta untuk segera mengeluarkan surat keputusan pelarangan kegiatan HTI di kampus,” kata Caki Arok Subagyo, ketua pemerintahan mahasiswa ISI.

Sementara itu, Rektor ISI Yogyakarta Agus Burhan mengatakan, pengaruh HTI di kampus diakui sudah berlangsung lama. Faktanya, sudah ada beberapa guru yang kini enggan menawarkan kursus menggambar manusia.

Agus mengatakan akan segera mengeluarkan surat keputusan yang melarang kegiatan ormas dan partai politik serta penyebaran ideologinya di kampus.

“(Keputusan) ini bukan hanya untuk HTI,” kata Agus.

Rektorat, lanjut Agus, juga telah melakukan restrukturisasi kepengurusan di Masjid Al-Mukhtar. Kebijakan ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi masjid sebagai sarana ibadah yang netral bagi seluruh civitas akademika.

Sedangkan guru yang melanggar kurikulum akan dikenakan sanksi berupa tindakan guru dan dosen.

“Kita harus memperbaikinya,” katanya.

Dikendalikan oleh norma dan agama

Lantas bagaimana HTI menyikapi penolakan civitas akademika ISI? Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto mengaku belum paham apa sebenarnya yang ditanyakan ISI. Selama ini, kata Ismail, kegiatan HTI sudah berlangsung lama dan terbuka di Indonesia.

“Di Yogyakarta, kegiatan kami tidak hanya terbatas pada ISI Yogya saja. Tapi juga di kampus lain,” kata Ismail yang dihubungi Rappler melalui telepon pada Jumat 17 Juni.

Menurut pandangan HTI, seni harus diatur oleh norma dan agama. Ismail mengatakan, para dosen yang kini tergabung dalam HTI berhak menentukan sikapnya terhadap seni.

“(Tapi) tolong selesaikan sendiri dengan dosennya,” kata Ismail saat ditanya kemungkinan dosen yang bergabung dengan HTI akan dikenakan sanksi. – Rappler.com

BACA JUGA:

Keluaran Sidney