• March 23, 2026

Densus 88 menangkap terduga teroris jaringan Abu Jandal

SM mengaku tertipu karena sesampainya di Suriah hanya menerima Rp 600 ribu. Awalnya dia dijanjikan bisa mendapat penghasilan puluhan juta rupiah

MALANG, Indonesia – Polisi menangkap terduga teroris berinisial SM yang merupakan warga Kecamatan Singosari, Malang, pada Senin, 19 Juni. Ia ditangkap polisi karena terlibat dalam kelompok militan ISIS pimpinan Abu Jandal alias Al Jemeni Al Indunisi Salim Mubarok Attamimi.

Abu Jandal sendiri diketahui tewas dalam pertempuran pada tahun 2016. Polisi masih belum bisa memastikan apakah Abu Jandal benar-benar dibunuh.

Personel polisi kemudian menggeledah rumah SM yang letaknya tak jauh dari markas Koramil setempat. Rumah juga sering dijadikan tempat berjualan baju muslim.

“Kami hanya mendukung kerja Densus 88 (Anti Teror). Tersangka SM ditangkap 100 meter dari rumah, kata Kapolres Malang Yade Setiawan Ujung, Senin.

Polisi kemudian memasang garis polisi dan berjaga di depan rumah terduga teroris. Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan beberapa benda, seperti buku berisi ideologi radikal dan perlengkapan untuk melakukan terorisme. Faktanya, SM tinggal di sana bersama istri dan balitanya.

Istri SM, Putri, mengaku kaget sekaligus kaget saat suaminya ditangkap polisi. Dia menolak memberikan informasi saat Rappler menemuinya di rumahnya. Matanya sembab, sambil memeluk dan memercayai ibu tetangganya.

SM diketahui telah berada di Suriah selama enam bulan pada tahun 2013. Selama di sana, dia mengikuti pelatihan perang.

Namun, dia tidak pergi ke sana sendirian melainkan beberapa warga Malang. Tiga di antaranya ditangkap. Sementara itu, tiga warga sipil lainnya tewas dalam pertempuran di Suriah.

Jaringan Abu Jandal berangkat dari Malang melalui Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo. Naik pesawat dengan rute Surabaya-Malaysia-Türkiye.

Sesampainya di Turki, mereka melakukan perjalanan darat untuk memasuki kawasan perbatasan dengan Suriah. Ia juga mengunggah video propaganda di YouTube melalui akunnya
Mujahid Indonesia pada tanggal 3 Desember 2014.

Syahrul terlihat bersama lima orang yang mengenakan penutup wajah, mengajak umat Islam di Indonesia untuk ikut berjihad di Suriah. Penyidik ​​polisi juga mendalami apakah SM terlibat dalam aksi bom Thamrin awal tahun 2016.

Sepulang dari Suriah, kata Yade, SM berdagang buku dan membantu istrinya berjualan pakaian muslim. SM mengaku sudah tidak lagi memiliki ikatan dengan jaringan Abu Jandal. Bahkan, SM mengaku disesatkan dengan ide-ide radikal tersebut.

“Awalnya saya diiming-imingi uang puluhan juta rupiah, namun nyatanya saya hanya mendapat Rp 600 ribu,” ujarnya.

Jarang berkomunikasi

Diketahui SM sudah menyewanya selama dua tahun dan digeledah personel Densus 88 Anti Teror. Namun SM nampaknya termasuk orang yang jarang bersosialisasi dan menyapa tetangga. Akibatnya banyak dari mereka yang tidak mengetahui SM. Salah satunya adalah tetangga Imam Subaktiono.

“Dia jarang keluar dan bertemu tetangga,” kata Imam.

Namun dari apa yang dilihatnya, memang banyak orang yang lewat di rumah SM untuk membeli pakaian. SM tidak pernah menunjukkan sikap curiga atau terlibat dalam jaringan radikalisme dan terorisme.

Ketua RT 7 di kediamannya, Slamet Riyadi mengatakan, SM tidak mudah bergaul dengan masyarakat. Namun, ia tampak rajin berdoa.

Bahkan saat HUT kemerdekaan, SM terlihat memasang bendera merah putih, jadi tidak ada yang mencurigakan.

“Iya biasa saja (aktivitasnya). “Tidak ada kecurigaan,” kata Slamet.

Harus bangun

Penangkapan SM pun menyisakan Komandan Kodim 0833 Kabupaten Malang, Letkol. Muridian kaget. Sebab, selama ini anak buahnya mengerahkan petugas pengawas desa (Babinsa) untuk memantau keamanan di seluruh Kabupaten Malang.

“Kita harus lebih waspada. Ternyata mereka (duga teroris) ada di sekitar kita, dekat markas, kata Siswan.

Ia juga berharap masyarakat mau berpartisipasi aktif dengan melaporkan jika ada orang asing di daerahnya. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi komunitas dan
mencegah radikalisme di lingkungan.

Menjelang Idul Fitri, TNI juga membantu kepolisian dalam operasi rutin dan patroli untuk mencegah aksi teroris. Mereka ikut serta dalam pengawasan dan penjagaan berbagai objek vital. Peningkatan kewaspadaan dan patroli dilakukan pasca penangkapan terduga teroris tersebut.

Selain itu, TNI dan Polri juga melakukan sosialisasi tentang bahaya terorisme dan memahami radikalisme. Caranya dengan bertemu berbagai komunitas dan kelompok
publik.

Ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah juga bisa bekerja sama untuk mencegah ideologi radikal tersebut. – Rappler.com

Hongkong Prize