• March 22, 2026
Di Yogyakarta, perempuan melawan kekerasan dengan menari

Di Yogyakarta, perempuan melawan kekerasan dengan menari

YOGYAKARTA, Indonesia – Ratusan perempuan – dan laki-laki – menari bersama malam itu di rotunda Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Mereka menari dengan ciri khas yang berbeda-beda, seperti pita atau garis-garis merah muda di wajahnya.

Selama empat menit, menari bersama menjadi simbol perlawanan terhadap berbagai eksploitasi dan kekerasan terhadap perempuan. Di Yogyakarta, perempuan rentan mengalami kekerasan dalam konflik agraria, rumah tangga, hubungan pacaran bahkan saat melakukan pekerjaan. Sejumlah aktivis khawatir kekerasan terhadap perempuan di Yogyakarta akan meningkat tahun ini akibat penutupan lokalisasi.

“Kami sedang melakukan penelitian dan pemetaan di Yogyakarta, karena di beberapa tempat lain di Indonesia, penutupan lokalisasi meningkatkan potensi kekerasan terhadap pekerja seks,” kata Koordinator Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) wilayah Kota Yogyakarta, Oktanesya. . Suratmi, pada Rabu, 15 Februari.

OPSI melakukan penelitian di lokasi eks Giwangan di Kota Yogyakarta. Lokalisasi ini sudah tidak lagi dijadikan tempat transaksi para pekerja seks (PS) sejak enam bulan terakhir. Namun aktivitas prostitusi tidak berhenti setelah kawasan setempat ditutup.

“Mereka bekerja melampaui lokalisasi. “Di tempat lain, praktik seperti ini membuat PS semakin rentan terhadap kekerasan dari kliennya,” kata Oktanesya.

Sebelumnya, sepanjang tahun 2016, OPSI melakukan penelitian di sejumlah lokasi tertutup di 6 kota di Indonesia. Di antaranya Malang, Surabaya, Jambi, Papua, Bandung, dan Jakarta.

Dalam penelitiannya menggunakan metode wawancara pengambilan sampel secara sengaja Peneliti mengambil narasumber dari para pekerja seks dan pengambil kebijakan terkait dari pemerintah terkait serta lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Akibatnya, diketahui bahwa pekerja seks yang menerima pesangon tanpa lokalisasi tidak dapat bertahan hidup dengan mengandalkan pesangon dan kembali menjadi pekerja seks. Mereka sulit mengakses layanan kesehatan gratis dan kondom gratis karena malu mengungkapkan identitasnya sebagai pekerja seks untuk memeriksakan kesehatannya ke puskesmas setempat.

Sebelumnya, pemeriksaan kesehatan rutin dilakukan setiap 3 bulan sekali klinik keliling dalam lokalisasi. Selain itu, pekerja seks juga rentan mengalami kekerasan dari kliennya karena tidak mendapat perlindungan dari pengelola lokasi.

“Kalau ada lokalisasi PS lebih aman, tamu juga harus pakai kondom. “Di lokasi ada petugas keamanan yang menjaga PS dari tamu tak bertanggung jawab,” kata Oktanesya.

Kekhawatiran serupa juga diungkapkan Ketua Persatuan Wanita Pekerja Seks (P3SY) Yogyakarta, Sarmi.

Menurut dia, PS Giwangan sulit mendapatkan pelanggan jika masuk ke lokasi lain seperti Pasar Kembang. Usia yang sudah tidak muda lagi dan keterbatasan kemampuan membuat PS Giwangan kalah bersaing di lokalisasi lain.

“Usia rata-rata antara 25 dan 40 tahun dan tidak bisa menyanyi. Sedangkan di Pasar Bunga sebagian besar juga menjual jasa sebagai pendamping karaoke. “Mereka akhirnya beroperasi di luar lokalisasi, tidak terdeteksi dan rentan terhadap kekerasan,” kata Sarmi.

Sedangkan PS hampir seluruhnya berstatus janda dan menjadi tulang punggung anak atau orang tuanya.

Saat ini terdapat 400 pekerja seks di tiga wilayah di Yogyakarta; Sekitar 280 di Pasar Kembang, 70 di Giwangan, dan sisanya di Bong Suwung. Hasil penelitian di Yogyakarta akan selesai tahun ini dan digunakan untuk rekomendasi kepada pemerintah daerah.

Kekerasan di Yogyakarta

Perempuan dan anak rentan terhadap kekerasan akibat konflik dan situasi. Selain rutin melakukan perlawanan terhadap kekerasan dengan menari selama 5 tahun terakhir, Gerakan Jogja Revolusi Satu Miliar Indonesia telah mengumpulkan beberapa catatan kelompok masyarakat yang aktif dalam perlawanan terhadap kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Terdapat lebih dari 20 titik konflik pertanian di Yogyakarta dan menempatkan perempuan sebagai korban yang paling rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi.

Kasus anak yang didampingi Divisi Pendampingan Rifka Annisa, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada perempuan dan anak, meliputi kekerasan seksual, penganiayaan, perdagangan anak, dan kekerasan dalam pacaran. Dari total 41 kasus, 29 kasus di antaranya atau 70 persen merupakan kasus kekerasan seksual sepanjang tahun 2016.

Penelitian Pusat Advokasi Perempuan dan Anak Penyandang Disabilitas (SAPDA) menunjukkan 84,5 persen kekerasan terhadap perempuan penyandang disabilitas tidak mendapat perlindungan hukum. Sebab, akses terhadap layanan hukum bagi penyandang disabilitas masih terbatas.

SAPDA dalam mendampingi dan menangani kasus kekerasan yang dialami perempuan penyandang disabilitas di Yogyakarta dan Jawa Tengah menemukan 102 kasus kekerasan sepanjang tahun 2016, diantaranya kekerasan seksual 19,6%, kekerasan psikis 28,5%, kekerasan fisik 19,6%, kekerasan ekonomi 7,8%, kekerasan ganda 23,6%, dan diskriminasi akses terhadap pendidikan 0,9%.

Selain itu, data lain yang dihimpun LSM Ciqal, selama periode 2014-2016 mencatat 76 kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan penyandang disabilitas di wilayah Yogyakarta.

Kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) juga rentan terhadap kekerasan. Berdasarkan catatan People Like Us Satu Hati (PLUSH), kekerasan di ruang publik terhadap kelompok LGBT semakin meningkat. Sebanyak 39 kasus kekerasan di ruang publik sepanjang 1 Januari 2016–19 Maret 2016.

“Kegiatan tari kelompok ini merupakan tahun kelima kami setiap tanggal 14 Februari. Kali ini temanya adalah solidaritas melawan eksploitasi perempuan. Kami memilih menari karena kegiatan ini bersifat cair. “Agar semua orang bisa berekspresi dan melawan, agar kita tidak ditindas dengan kekerasan,” kata Hesti Widianingtyas, koordinator Revolusi Indonesia Satu Miliar Bangkit Jogja. —Rappler.com

togel hongkong