DPR dan pemerintah menyepakati asumsi dasar RAPBN-P tahun 2017
keren989
- 0
Pemerintah patut mewaspadai defisit anggaran yang semakin besar akibat defisit pajak lebih dari Rp 386,6 triliun
JAKARTA, Indonesia – Pemerintah dan DPR RI telah menyepakati angka-angka yang menjadi asumsi dasar Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Perubahan tahun 2017. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional optimistis seluruh target pembangunan akan tercapai pada tahun ini. .
Hal itu disampaikan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro dalam rapat kerja dengan Komisi -P 2017.
Nama Markus Mekeng tercantum dalam dakwaan jaksa penuntut umum dalam kasus dugaan korupsi KTP Elektronik, sebagai salah satu penerima aliran uang. Markus membantah tudingan tersebut.
(BA: Kasus KTP Elektronik, Markus Mekeng Laporkan Andi Narogong)
Dalam RAPBN-P tahun 2017 dicantumkan sejumlah sasaran pembangunan yang bertujuan untuk menjamin koridor pembangunan yang lebih berkualitas. Menurut Menteri Bambang, realisasi tingkat pengangguran terbuka (OPR) dipatok sebesar 5,4% dari target awal sebesar 5,6%, realisasi angka kemiskinan sebesar 10,4% sedikit lebih baik dari target sebesar 10,5%, dan Gini rasio sebesar 0,39% sama dengan target awal dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 70,79%.
Dalam rapat kerja tersebut, DPR dan Pemerintah juga sepakat untuk merevisi target pertumbuhan ekonomi tahun 2017 dari 5,1% menjadi 5,2%. Saat membacakan kesimpulan rapat, Markus Mekeng juga menyampaikan asumsi dasar angka inflasi dalam RAPBN-P 2017 akan naik menjadi 4,3% dari target awal sebesar 4%. Rata-rata nilai tukar Rupiah tahunan terhadap dolar AS mengalami penurunan dari Rp13.300 menjadi Rp13.400.
Waspadai defisit anggaran 2017
“(Defisit) ini memperhitungkan kemungkinan K/L menghabiskan seluruh anggarannya hingga 95 persen dan sama dengan tren selama ini. Defisit akan terus kita jaga di bawah 3 persen, kata Sri Mulyani.
Sebelumnya dalam rapat pembahasan RAPBN-P 2017, 5 Juli 2017, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui defisit RAPBN-P 2017 yang disampaikan ke DPR sedikit meningkat dibandingkan proyeksi bulan lalu. 2,6 persen hingga 2,67 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sri Mulyani yang juga mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia mengatakan, defisit anggaran sudah memperhitungkan seluruh penambahan dan penghematan anggaran yang harus disesuaikan pemerintah dalam APBNP 2017, seiring dengan meningkatnya kebutuhan Kementerian/Lembaga. ( K/L) dan adanya berbagai pos anggaran yang dapat dihemat.
“(Defisit) ini memperhitungkan kemungkinan K/L menghabiskan seluruh anggarannya hingga 95 persen dan sama dengan tren selama ini. Defisit akan terus kita jaga di bawah 3 persen, kata Sri Mulyani.
Peningkatan belanja K/L berasal dari peningkatan anggaran subsidi sektor energi listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan gas elpiji tiga kilogram.
(BA: 27 juta rumah tangga miskin menerima subsidi listrik)
Pada semester kedua, pemerintah harus memenuhi kewajiban pembayaran atas rencana penyelamatan subsidi yang sebelumnya dilakukan PT Pertamina (Persero). Presiden Joko “Jokowi” Widodo memerintahkan Menteri Keuangan mencicil pembayaran kepada Pertamina agar arus kas BUMN membaik.
Pada paruh kedua tahun ini, pemerintah juga harus melunasi kewajiban membayar subsidi bahan bakar yang digunakan lembaga seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Misalnya yang dipakai institusi seperti TNI yang belum dibayar. “Kami akan manfaatkan,” kata Sri Mulyani.
Diperlukan tambahan dana untuk anggaran subsidi sektor energi, anggaran pembangunan proyek infrastruktur, dan anggaran pemilihan umum daerah (Pilkada) serentak tahun 2018 dan pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2019.
Anggota DPR RI Misbakhun meminta pemerintah berhati-hati dalam mengelola defisit agar tidak melebihi batas 3 persen. Batasan defisit anggaran diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Pasal 12 ayat (3) UU menyebutkan defisit anggaran dibatasi paling banyak 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit anggaran yang lebih besar disebabkan oleh pemotongan pendapatan pajak dan peningkatan belanja pemerintah. Ekonom Faisal Basri menulis ramalan ini defisit alias Hilangnya penerimaan perpajakan sepanjang tahun 2017 mencapai Rp386,6 triliun.
Dalam acara buka puasa bersama media, 19 Juni 2017, Sri Mulyani mengaku berpotensi defisit Penerimaan pajak Rp 50 triliun. Alhasil, ia memaparkan angka defisit sebesar 2,6% dari target awal sebesar 2,41%. —Rappler.com