Dua agama dalam satu atap, mungkinkah?
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Saat anak SMP tinggal bersama keluarga yang berbeda suku dan agama. Berhasilkah menjadikan toleransi bukan sekedar kata-kata?
JAKARTA, Indonesia – Perseteruan antar umat beragama bukanlah cerita asing di Indonesia. Toleransi belum sepenuhnya tertanam dalam benak seluruh masyarakat. Meski demikian, bukan berarti tidak ada harapan sama sekali bagi terwujudnya kerukunan umat beragama di Indonesia.
Ayu Kartika Dewi membuat program ‘SabangMerauke’ atau ‘Seribu Anak Bangsa yang Bermigrasi Pulang’, yang menempatkan 15 siswa SMP dalam keluarga yang berbeda agama. “SabangMerauke didirikan sebagai upaya untuk ikut serta membantu mewujudkan Indonesia yang lebih damai. Karena kami yakin, toleransi tidak bisa diajarkan, toleransi harus dialami dan dirasakan,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu. 8 Juni 2016.
Pengalaman pribadi
Niat Ayu itu bermula dari pengalamannya menjadi guru SD di Maluku Utara. Memang, kawasan ini sudah beberapa lama dilanda konflik antara komunitas Muslim dan Kristen. Alhasil, pemerintah memisahkan keduanya menjadi dua desa berbeda.
Ayu sendiri ditempatkan di desa yang penduduknya beragama Islam. Terkadang perkelahian masih terjadi.
Suatu sore ia mendengar kabar bahwa akan ada penyerangan oleh umat Kristiani. Murid-muridnya berlari ke rumah Ayu dan memperingatkan dengan panik, “Bu, hati-hatilah dengan orang Kristen! Mereka bisa membakar rumah kita!”
Dengan sabar Ayu mengatakan, kerusuhan itu jauh dan tidak akan sampai ke tempatnya. Tapi anak-anak itu bersikeras bahwa ‘kerusuhan akan terjadi di sini!’
“Mereka belum pernah bertemu orang Kristen, bahkan tidak mengerti arti kata ‘kerusuhan’, tapi mereka sangat marah dan benci orang Kristen,” kata Ayu. Dari situlah ia bertekad membuka mata anak-anak tersebut terhadap kehidupan di luar desanya.
perbedaan dalam satu rumah
Sekembalinya ke Jakarta pada tahun 2012, Ayu bekerja sama dengan Aichiro Suryo dan Dyah Widiastuti untuk membuat program SabangMerake. Kegiatan resmi dimulai pada tahun 2013.
Pada tahun ke-4 ini, Sabang Merauke berhasil menarik 1.178 siswa kelas VIII dan IX SMA se-Indonesia untuk ikut menjadi Adik-Adik (ASM) Sabang Merauke. Sementara itu, minat anggota keluarga Sabang Merauke (KSM) dan Sabang Merauke (FSM) yang terdaftar juga meningkat dua kali lipat terhadap KSM.
KSM dan FSM yang mendaftar tahun ini masing-masing sebanyak 445 dan 33 pendaftar. Selanjutnya akan dipilih maksimal 15 saudara kandung beserta keluarganya. Mereka akan berinteraksi dengan ASM selama 3 minggu.
Managing Director SabangMerauke 2016 Irma Sela Karlina mengatakan, ada perbedaan program tahun ini dengan tahun sebelumnya. “Waktunya lebih lama, sebelumnya hanya 2 minggu,” ujarnya.
Interaksi yang lebih panjang diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan dan keindonesiaan. Ketika kembali ke daerah asalnya, para peserta dapat mentransfer pengalaman tersebut ke lingkungan sekitarnya.
Daerah konflik prioritas
Selama ini Sabang-Merauke telah menempatkan seorang bocah Hindu asal Bali di keluarga Muslim; Seorang anak laki-laki Kristen dari Kalimantan dengan keluarga Jawa yang masuk Islam; dan seorang anak laki-laki Muslim asal Maluku di rumah keluarga keturunan Tionghoa dan Katolik.
“Kami memang memprioritaskan anak-anak dari daerah konflik,” kata Ayu.
Salah satu contohnya adalah Apipa yang mengaku takut dengan orang lain yang berbeda agama. “Waktu SMP, ada yang galak dan suka marah-marah serta menghina agama Apipa,” ujarnya.
Ia terpilih tinggal bersama keluarga Richard Lim dan Ratna Megasari yang beragama Kristen. Dalam 2-3 hari pertama dia merasa takut dan minta pindah. “Saya takut dibawa ke gereja,” katanya.
Pemikiran itu segera berubah ketika Richard dan istrinya ternyata sangat ramah dan membantu. Mereka tak keberatan menemani Apipa beribadah di masjid. Bahkan membantunya mencari kiblat hingga menuntaskan salat di rumah keluarga angkatdia.
Ketakutannya hilang, dan dia belajar menghormati orang yang berbeda agama darinya. Richard juga melihat hal serupa. Ia merasa dirinya mulai menyediakan fasilitas doa untuk Apipa sendiri. Bahkan putranya membantunya menemukan kiblat dengan bantuan aplikasi seluler.
Toleransi tidak sekedar dibicarakan, tapi harus dirasakan, kata Apipa. – Rappler.com
BACA JUGA: