• March 21, 2026
Dua nelayan Indonesia kembali diculik di perairan Malaysia

Dua nelayan Indonesia kembali diculik di perairan Malaysia

Kedua nelayan tersebut diculik ketika pemerintah ketiga negara sepakat untuk melakukan patroli terkoordinasi

JAKARTA, Indonesia (UPDATED) – Setelah berhasil membebaskan seluruh awak kapal yang diculik di perairan Sabah, Malaysia, kejadian serupa kembali terulang. Pada hari Sabtu, 5 November, 2 nelayan Indonesia kembali diculik oleh kelompok bersenjata.

Direktur Komando Keamanan Regional Sabah Timur (ESSCom), Wan Abdul Bari Wan Abdul Khalid membenarkan adanya penculikan tersebut. Mereka diculik dalam dua kejadian terpisah, yakni pada pukul 11.00 dan 11.45 waktu setempat.

“Pada kejadian penculikan pertama, lima anggota kelompok bersenjata menculik seorang nelayan berusia 52 tahun. Sedangkan dua nelayan lainnya berusia 47 dan 35 tahun tertinggal,” kata Abdul. Berita Straits Times Malaysia.

Tak lama setelah insiden penculikan pertama, kelompok bersenjata tersebut menculik nelayan dari perahu lain. Tiga orang, termasuk anak korban yang berusia 10 tahun, hanya bisa menyaksikan penculikan tersebut tanpa melakukan perlawanan.

Informasi diterima awak kapal untuk menyandarkan kapal di dermaga Sanakan sekitar pukul 18.40 waktu setempat, kata Abdul.

Kelompok bersenjata beranggotakan 5 orang itu diyakini bermarkas di Pulau Tawi-Tawi. Kemungkinan kelompok ini masih ada kaitannya dengan Abu Sayyaf di Filipina bagian selatan.

Sebelumnya, kejadian serupa terjadi di perairan Malaysia pada Juli dan Agustus. Sebanyak 4 WNI diculik dan berhasil dibebaskan pemerintah.

Malaysia sendiri merupakan satu dari tiga negara yang menandatangani perjanjian patroli terkoordinasi untuk mencegah meningkatnya penculikan di wilayah tersebut. Penculikan di perairan Sulu tampaknya berhasil diredam setelah Presiden Rodrigo Duterte bersumpah akan membasmi kelompok Abu Sayyaf.

Bahkan, saat berkunjung ke Jakarta pada September lalu, Duterte sempat merestui militer Indonesia masuk ke perairan Filipina untuk mengadili kelompok Abu Sayyaf yang menculik WNI.

“Kali ini kita ingin lebih jelas lagi, kalau ada kejar-kejaran di perairan Indonesia, maka mereka bisa menyeberang. Pengejaran bisa berlanjut di perairan internasional. Dan kalau cepat sekali (mereka) juga bisa masuk ke perairan Filipina dan meledakkannya,” kata Duterte di hadapan masyarakat Filipina di Jakarta. (BACA: Presiden Duterte izinkan TNI masuk ke perairan Filipina untuk mengejar kelompok Abu Sayyaf)

Namun intensifikasi patroli terkoordinasi di perairan Sulu membuka peluang terjadinya penculikan di wilayah lain. Kelompok bersenjata kini secara khusus menargetkan warga negara Indonesia untuk diculik. Penyebabnya diduga karena uang tebusan yang diterima karena menyandera WNI.

Berdasarkan laporan yang diperoleh Rappler, Abu Sayyaf berhasil meraup pendapatan sekitar Rp97,5 miliar hanya dari bisnis penculikan ini. Sebanyak Rp 27,5 miliar di antaranya bersumber dari Indonesia. (BACA: Uang Tebusan Sepuluh Miliar Rupiah untuk Bebaskan Sandera WNI)

Minta bantuan pemerintah Malaysia

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengaku mendengar peristiwa penculikan tersebut dan melaporkannya kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Ia menyayangkan kejadian serupa bisa terulang kembali karena ada sekitar 6.000 WNI yang bekerja di kapal ikan Malaysia yang beroperasi di kawasan tersebut.

Menteri Luar Negeri juga telah meminta pemerintah Malaysia untuk membantu proses pembebasannya, kata Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal melalui pesan singkat, Minggu, 6 November.

Selain itu, Retno juga menghubungi penasihat perdamaian Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Jesus Dureza, untuk berkoordinasi terkait terulangnya penculikan. KRI Tawau dan KJRI Kota Kinabalu berkoordinasi dengan berbagai pihak di Sandakan, termasuk berbicara dengan para nelayan yang dibebaskan, untuk mendapatkan informasi lebih detail mengenai kejadian tersebut.

“Kedua WNI yang diculik merupakan pekerja legal dan bekerja di kapal nelayan Malaysia. Mereka bekerja di kapal asal Buton, Sulawesi Tenggara,” kata Iqbal.

Pasca kejadian tersebut, pemerintah mengimbau para ABK WNI yang bekerja di Sabah untuk sementara waktu tidak melaut hingga kondisi kembali kondusif. Iqbal tak menutup kemungkinan pelaku penculikan 2 nelayan WNI tersebut sama dengan penculik 4 WNI tersebut.

“Sampai saat ini belum ada komunikasi dari pihak penculik kepada keluarga atau pemilik kapal. Biasanya untuk penculikan yang terjadi di Malaysia, pelaku baru menghubunginya 2-3 hari kemudian,” kata Iqbal. – dengan liputan Santi Dewi/ Rappler.com

HK Hari Ini